Asa di Balik Terik Mentari Taka

By , Minggu, 30 Oktober 2016 | 18:30 WIB

Arif Havas mengatakan, selain dilakukan langsung oleh Pemerintah, penanganan sampah di laut juga akan melibatkan sektor swasta dan sekaligus masyarakat yang ada di seluruh provinsi. Keterlibatan mereka, diyakini dia akan membawa dampak signifikan dalam pelaksanaan rencana aksi nasional penanganan sampah di laut.

Sampah memang bikin sebal dan repot. Tapi, membuat orang yang tinggal di wilayah kota sadar atas dampak sampah yang mereka buang sembarangan terhadap ekologi itu juga bukan perkara mudah. Buang soal gampang, tapi bersihkan adalah hal yang susah setengah mati. Dan, bikin rugi masyarakat lain.

Lihatlah tepian Tinabo. Saya dan Samson meneliti sampah yang terserak. Di antaranya, ada bekas kotak televise yang terdampar. “Saya pernah buat kotak televisi jadi akuarium. Saya taruh di kampus,” cerita Samson. Saya hanya tersenyum kecut.

Kami juga menjumpai jaring nelayan. Selain itu, ada pula bekas-bekas pancing. “Yang ini bekas pancing cumi-cumi. Kalau lebih besar biasanya buat sotong,” ujar Samson, yang selalu menjelaskan segala sesuatu yang kami jumpai.

!break!
Bungin Belle, yang menjadi tempat singgah belayan Bajo asal Pulau Pasitallu Timur di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. (Asri)

Penjelajahan kecil yang menyenangkan terganggu oleh urusan sampah. Saya tak rela perairan Tinabo, yang menjadi andalan Taka Bonerate, kawasan lindung yang berada di sisi selatan semenanjung Sulawesi dan Pulau Selayar. Taman firdaus bahari ini berjuluk “Kepulauan Macan“ karena konon kapal-kapal yang memasuki kawasan ini sering tidak bisa keluar karena terperangkap di hamparan karang, sehingga bagai masuk ke mulut macan.

Taka Bonerate punya bahan promosi mentereng, kawasan dengan terumbu karang atol terbesar ketiga di dunia setelah Atoll Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Maladewa. Nah, siapa pun bakal dibuat terpancing untuk menjelajah lantaran data tadi.

Pulau Pasitallu Timur, yang berada di bagian selatan Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar. Penduduk di pulau ini adalah keturunan Suku Bajo, yang telah terkenal melaut hingga benua tetangga, Australia. (Sanovra Jr/Tribun Timur)

Belum cukup itu, masih ada sederet fakta, kawasan perairan seluas lebih dari 500 ribu hektar itu menjadi rumah bagi empat jenis penyu, 233 spesies terumbu karang, 362 jenis ikan karang, 216 jenis moluska. Selain itu, perairannya sering dilewati oleh rombongan lumba-lumba dan paus.

Menjelang mentari meringkuk di peraduan, kami sudah kembali ke dermaga. Penjelajahan keliling pulau usai. Lalu bersambung dengan petualangan mata saat matahari tenggalam di horison barat. Setiap orang telah bersiap dengan kamera. Mereka sibuk mengatur alat perekam itu agar mendapatkan visual khas negeri tropis jelang malam.

Saya tak ingin asa wisata dari taka ini redup lantaran sejumlah persoalan yang tak dapat dibereskan oleh para pihak. Jelang tengah malam, kapal yang saya tumpangi meninggalkan dermaga. Perjalanan panjang di depan mata, tapi saya yakin asa bakal memenuhi kehidupan masa depan. Saya mencoba memejamkan mata di atas geladak kapal.