Foto Selfie Ini Tangkap Momen Pendaki Gasherbrum II Meregang Nyawa

By Citra Anastasia, Jumat, 27 April 2018 | 18:00 WIB
Cory Richards mengambil foto tersebut sekitar satu jam setelah ia berhasil keluar dari longsoran sal (Cory Richards)

Cory Richards mengambil foto tersebut sekitar satu jam setelah ia berhasil keluar dari longsoran salju yang hampir membunuh dia dan kedua temannya ketika menuruni gunung tertinggi ke-13 di dunia. Saat itu, tanggal 4 Februari 2011, mereka baru saja menyelesaikan pendakian musim dingin pertama Gasherbrum II, Pakistan. Sejak saat itu, foto ini telah berada di sampul National Geographic, muncul di beberapa poster dan papan reklame, dan beredar di Internet.

Di satu sisi, hal itu telah menjadi “merek” tersendiri bagi Cory dan mengundang banyak tawaran pekerjaan yang menggiurkan kepadanya. Namun selama bertahun-tahun, kisah yang digambarkan pada foto itu—tentang seorang pendaki gunung heroik yang baru saja “mencurangi” kematian—ternyata sangat mengganggunya selama ini.

“Saya selalu merasa sulit untuk berpikir bahwa mendaki adalah hal yang heroik, meskipun saya mengerti bagaimana beberapa orang mungkin melihatnya seperti itu. Berdiri di kaki puncak Himalaya, dan Anda memahami bahwa untuk mencapai puncak harus membutuhkan kekuatan, stamina, konsentrasi, dan keberanian yang luar biasa,” ucapnya.

(Artikel terkait: Peneliti: Tidak Perlu Mandi Setiap Hari)

Namun, bagi Cory, ia selalu berpikir bahwa tindakan kepahlawanan membutuhkan semacam tujuan yang lebih tinggi daripada hanya mempertaruhkan hidup untuk melihat apakah dirinya dapat mencapai puncak. Menurutnya, tentu bahwa  pendakian gunung dapat mendukung pengembangan ekonomi lokal di banyak tempat, termasuk Pakistan.

Mendaki puncak terpencil juga dianggap dapat menyentuh sesuatu yang vital dalam jiwa manusia. Namun, jangan menipu diri sendiri: Banyak hal yang terjadi pada rekreasi mahal, berbahaya, dan aktivitas yang memuaskan kesenangan diri.

“Bukan ide saya untuk mendaki Gasherbrum II. Saya diundang oleh dua pendaki veteran, Simone Moro dan Denis Urubko, untuk bergabung dengan ekspedisi mereka. Saya adalah seorang pendaki muda yang telah berkembang dari puncak di Amerika Utara dan Pegunungan Alpen, dan akhirnya berhasil mencapai tempat pembuktian terakhir, Himalaya,” jelas Cory.

Cory mengatakan, Simone dan Denis adalah ikon di dunia pendakian yang telah memelopori rute baru di beberapa gunung tertinggi di dunia yang paling berbahaya.

“Sulit untuk menggambarkan betapa senangnya saya ketika mereka meminta saya bergabung dengan mereka untuk usaha musim dingin di Gasherbrum II. Pendaki gunung memilih mitra pendakian mereka dengan sangat hati-hati. Itu adalah keputusan yang dapat menentukan apakah Anda bertahan atau tidak dari ekspedisi. Anda membutuhkan seseorang yang dapat mentoleransi penderitaan yang berkepanjangan, saling mendukung, dan sigap dalam menghadapi keadaan darurat,” tutur Cory.

Cory mengatakan, permintan kedua legendaris itu untuk memintanya bergabung dalam ekspedisi dianggap sebagai sebuah “amanat suci dari pendeta” baginya. Meskipun mungkin terdengar aneh, tetapi bagi banyak pendaki gunung, memanjat adalah sejenis agama. Begitu pula dengan Cory, yang menganggap bahwa mendaki gunung merupakan penyelamat baginya dan menawarkannya jalan keluar dari masa remaja yang suram.

(Artikel terkait: Gempa Sunda Megathrust Berpotensi Merusak Jakarta)

“Saya putus sekolah, dan masuk ke dalam dunia alkohol dan obat-obatan, dan tinggal di jalanan untuk sementara waktu. Pendakian adalah keselamatan saya. Pendakian memberi saya tujuan tunggal, memfokuskan pikiran dan tubuh saya, dan membuat saya sehat,” ungkapnya.