Melacak Surga Pari Manta di Raja Ampat: Yef Nabi Kecil sampai Arborek

By Utomo Priyambodo, Senin, 4 April 2022 | 13:00 WIB
Surga terakhir di bumi itu ada di Indonesia. Tepatnya di Papua Barat. Nirwana itu bernama Rajaampat. Tampak upaya pengambilan foto ID pada pari manta di Rajaampat. (Riyan Heri Pamungkas/YRCI/ICCTF)

Nationalgeographic.co.id—Surga terakhir di bumi itu ada di Indonesia. Tepatnya di Papua Barat. Nirwana itu bernama Raja Ampat. Julukan surga itu diberikan oleh publik internasional. Bukan semata-mata dibuat oleh masyarakat Indonesia, apalagi orang-orang lokal Raja Ampat.

Para penyelam internasional kerap menjuluki Raja Ampat sebagai Surga Terakhir di Bumi (The Last Paradise on Earth) karena kejernihan airnya dan keindahkan laut serta kecantikan spesies-spesies di dalamnya. Raja Ampat juga dijuluki sebagai Amazon Lautan Dunia (the Amazon of the Oceans) oleh para ilmuwan dan pemerhati lingkungan karena keanekaragaman hayati karang dan berbagai spesies lautnya.

Mencakup 4,6 juta hektare daratan dan lautan, di mana lebih dari 2 juta hektare-nya adalah kawasan konservasi perairan, Kepulauan Raja Ampat merupakan "rumah" bagi lebih dari 1.600 spesies ikan dan 75% spesies karang yang dikenal di dunia. Bahkan 6 dari 7 jenis penyu yang terancam punah masih bisa ditemukan di perairan Raja Ampat. Tak hanya itu, 17 spesies mamalia laut dunia lainnya juga ada di sini.

Arus laut dalam yang kuat membawa nutrisi ke perairan Raja Ampat, hingga ke hutan bakau, danau air asin, dan hamparan padang lamunnya. Arus ini membentuk jejaring makanan kompleks yang menjadi sumber makanan bagi keanekaragaman kehidupan laut yang spektakuler, termasuk manusia di sekitarnya. Tak heran jika Raja Ampat dijuluki sebagai "pabrik spesies" laut dunia.

Salah satu spesies laut yang khas di Raja Ampat adalah pari manta. Banyak wisatawan yang jauh-jauh datang menyelam atau snorkeling di Raja Ampat hanya untuk melihat pari manta. Setidaknya ada dua spesies pari manta di Raja Ampat, yakni pari manta karang (Mobula alfredi) dan pari manta oseanik atau pari manta raksasa (Mobula birostris). Pari manta di Raja Ampat bisa tumbuh hingga sepanjang 5 meter.

Hasil studi berjudul "Natural history of manta rays in the Bird’s Head Seascape, Indonesia, with an analysis of the demography and spatial ecology of Mobula alfredi" menunjukkan banyaknya situs agregasi pari manta di Selat Dampier dan Waigeo Barat, Raja Ampat. Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi empat habitat pembesaran juvenil (individu muda) pari manta di Laguna Wayag dan Hol Gam. Adanya urgensi untuk memantau situs agregasi pari manta tersebut, khususnya daerah pembesaran, dan adanya habitat pari manta yang belum diketahui mendorong Yayasan Reef Check Indonesia (YRCI) melihat untuk melakukan kajian sensus populasi dan pola pergerakan pari manta di Raja Ampat.

Kajian ini dilaksanakan pada April-November 2021 di tiga kawasan konservasi perairan (KKP) di Kepulauan Raja Ampat, yakni Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) Selat Dampier, Suaka Alam Perairan (SAP) Raja Ampat, dan SAP Waigeo Sebelah Barat. Tujuan dari kajian ini, antara lain memahami penggunaan habitat juvenil pari manta karang di daerah pembesaran, memahami pola migrasi pari manta di daerah yang masih belum banyak dikaji, memantau situs agregasi manta sekaligus mengeksplorasi habitat kritis lain yang belum pernah teridentifikasi. Secara umum, terdapat tiga pendekatan yang digunakan, yaitu identifikasi fotografis, telemetri satelit, dan telemetri akustik pasif.

Setiap individu pari manta memiliki totol-totol dengan pola unik dan bersifat permanen pada bagian perutnya. Pendekatan identifikasi fotografis memanfaatkan pola unik tersebut untuk membedakan antara individu pari manta satu dengan lainnya. Dengan kamera bawah laut, foto identifikasi (foto ID) dari setiap individu pari manta didokumentasikan pada saat survei populasi yang dilaksanakan di lima lokasi, yaitu Yef Nabi Kecil, Laguna Wayag, Hol Gam, Dayan, dan perairan di sekitar Arborek.

Kajian yang dilakukan dalam kurun waktu April hingga November 2021 ini berhasilkan mendokumentasikan 35 foto-ID pari manta karang (Mobula alfredi) dari 29 individu yang berbeda. Sebanyak 15 individu dari 29 individu ini sudah ada di dalam katalog basis data pari manta di Raja Ampat, sedangkan 14 individu lainnya merupakan individu baru yang belum pernah didokumentasikan. Dari 14 individu baru ini, 6 didokumentasikan di Yef Nabi Kecil, 6 individu di Laguna Wayag, dan 2 individu lainnya di Manta Sandy dan Dayan. Yang menarik adalah 11 dari 14 individu baru ini merupakan pari manta muda atau juvenil.

Pengambilan foto ID pada pari manta karena setiap pari manta memiliki totol yang khas pada perutnya. (Riyan Heri Pamungkas/YRCI/ICCTF)

Telemetri akustik pasif digunakan untuk memantau penggunaan habitat oleh pari manta dengan memanfaatkan sinyal akustik yang dipancarkan oleh tag akustik. Sebanyak 5 tag akustik dipasangkan pada pari manta pada Mei 2021 di Yef Nabi Kecil (2 tag), Laguna Wayag (1 tag), Manta Sandy (1 tag), dan Hol Gam (1 tag).

Receiver akustik dipasang di bawah laut untuk menangkap sinyal akustik ini di tiga lokasi, yaitu Laguna Wayag, Hol Gam dan Yef Nabi Besar pada April dan Mei 2021. Hasil pemantauan dengan telemetri akustik pasif ini menunjukkan receiver akustik di Hol Gam berhasil merekam 16 deteksi akustik dari satu ekor pari manta pada 30 Mei 2021 dan 14 Jun 2021, yang menunjukkan bahwa pari manta tersebut berada di sekitar recceiver untuk beberapa waktu. Di Yef Nabi Besar, receiver berhasil merekam 4 deteksi akustik dari 2 individu yang berbeda pada tanggal 10 Mei dan 23 Mei.

Temuan terbanyak terdapat di Laguna Wayag, yaitu 8.266 deteksi. Deteksi ini direkam pada 99 hari yang berbeda dari total 110 hari durasi pemantauan, yang menunjukkan bahwa juvenil pari manta karang di Laguna Wayag terdeteksi hampir setiap hari selama sekitar 3,5 bulan.

Berbeda dengan telemetri akustik pasif, telemetri satelit digunakan untuk memantau rentang distribusi pari manta dengan memanfaatkan lokasi GPS yang dipancarkan oleh tag satelit. Sebanyak 5 tag satelit dipasangkan pada pari manta di Dayan dan Yef Nabi Kecil, yakni dua situs yang sebelumnya belum pernah dipasang tag satelit pada studi lain sebelumnya. Dalam memasang tag satelit, prioritas utama adalah pari manta juvenil dan dewasa. Sejumlah temuan menarik didapatkan dari penggunaan telemetri satelit pada pari manta ini.

Satu pari manta bermigrasi antara KKPD Selat Dampier dan SAP Raja Ampat. Temuan ini memperkuat temuan sebelumnya, yakni studi bertajuk "Site fidelity and movement patterns of reef manta rays (Mobula alfredi: Mobulidae) using passive acoustic telemetry in Northern Raja Ampat, Indonesia)" yang dipublikasikan di jurnal internasional pada 2018. Pari manta ini juga diketahui menghabiskan beberapa waktu di sekitar Dayan dan Wai di KKPD Selat Dampier serta perairan sekitar Yef Nabi Kecil di SAP Waigeo Raja Ampat.

Satu juvenil yang dipasangi tag satelit di Yef Nabi Kecil terdeteksi menghabiskan banyak waktu di Kepulauan Fam (sebelah barat Selat Dampier). Hal ini memperkuat temuan tentang Kepulauan Fam yang dari studi lain sudah diidentifikasi sebagai habitat pembesaran juvenil pari manta.

Selain itu, temuan ini juga menunjukkan adanya konektivitas antara Kepulauan Fam dan Yef Nabi Kecil yang merupakan lokasi agregasi penting pari manta di SAP Raja Ampat di Waigeo Barat. Sebagai tambahan, penggunaan tag satelit ini juga menunjukkan adanya pergerakan pari manta di perairan Waigeo Barat di sekitar Pulau Kawe yang berada di luar jejaring KKP di Raja Ampat.

Baca Juga: Ketika Sains dan Kearifan Lokal Rajaampat Berpadu untuk Konservasi

Baca Juga: Potensi Wisata Bernilai Jutaan Dolar AS di Laut Sawu dan Rajaampat

Baca Juga: Hasil Buka Sasi Kelompok Perempuan Rajaampat: Panen Besar Biota Laut

 

Kegiatan kajian sensus populasi dan pola pergerakan pari manta ini merupakan bagian dari implementasi Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang - Inisiatif Segitiga Terumbu Karang atau Coral Reef Rehabilitation and Management Program - Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI). Program ini dijalankan oleh Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF), badan di bawah Bappenas RI, bersama para mitra kerjanya, termasuk YRCI.

Riyan Heri Pamungkas, manajer proyek YRCI dalam COREMAP-CTI. (Utomo Priyambodo)

Riyan Heri Pamungkas, Manajer Proyek YRCI yang menangani proyek dalam COREMAP-CTI, berharap kajian pari manta ini bisa memperkuat data penelitian sebelumnya di Raja Ampat. Selain itu, hasil kajian ini juga diharapkan bisa menjadi referensi dalam peningkatan pengelolaan kawasan konservasi di Raja Ampat khususnya di KKPD Selat Dampier, SAP Raja Ampat, dan SAP Waigeo Barat.

Lebih lanjut, Riyan juga menjelaskan keberadaan pari manta ini bisa dimanfaatkan warga sekitar untuk menjadi bagian dari industri pariwisata berbasis spesies di Raja Ampat. YRCI telah memilih dan melatih warga Kampung Meosmanggara di Pulau Mesora Kecil untuk menjadi pemandu wisata berbasis spesies ini di wilayah mereka.

YRCI telah dua jenis kelompok warga di Kampung Meosmanggara. Pertama, kelompok Masadimawa yang terdiri atas para pria yang dilatih agar siap menjadi pemandu wisata (tour guide) lokal dalam wisata berbasis spesies ini. Kedua, kelompok Maniserai yang terdiri atas para perempuan yang dilatih untuk membuah sabun berbahan dasar minyak kelapa dan buah merah hasil kebun di wilayah mereka untuk mendukung pariwisata berbasis spesies tadi.

"Tim kami sudah melakukan survei dan kajian dulu. Dilihat dari aksesibilitas, terus ada bahan-bahan lokal, dan atraksi lokal. Akhirnya dipilihlah Kampung Meosmanggara karena kami melihat di sini punya potensi, selain bahan-bahan alami seperti minyak kelapa, alamnya juga ada pasir timbul yang bisa untuk pariwisata. Kemudian kebetulan di pulau sebelah itu ada namanya Pulau Yef Nabi Kecil. Dan di situ dari teman-teman NGO atau pokja manta di sini telah mengidentifikasi adanya lokasi pari manta. Kemudian Reef Check membuat kajian untuk mengembangkan bisnis pariwisata berbasis spesies. Oleh karena itu kami mencoba melibatkan masyarakat dari awal untuk menginisiasi bentuk pariwisata ini. Selain itu kami membentuk juga industri pendukungnya berupa industri sabun," tutur Riyan akhir Maret lalu.

"Karena kami melihat ada manta, ini bisa jadi potensi pariwisata. Jadi tamu bisa snorkeling. Harapannya teman-teman lokal Masadimawa di sini bisa menjadi guide lokal atau pemandu. Dalam project ini sudah kami lakukan semacam bimbingan teknis cara menjadi pemandu, kemudian kami ajari panduan lakunya. Jadi gimana, sih, caranya supaya kita bisa menikmati snorkeling melihat manta, tapi mantanya juga tidak terganggu."

Salah satu panduan laku saat snorkeling atau menyelam di dekat pari manta adalah kita harus menjaga jarak minimal tiga meter dari pari manta. Kita juga tidak boleh mengejar pari manta, apalagi memegangnya.

"Kalaupun manta yang bergerak mendekati kita, ya itu rezeki," ucap Riyan.

Pari manta karang senang untuk bermain di laut dengan arus yang kencang untuk memakan banyak plankton. (Donny Fernando)

Riyan juga memaparkan setidaknya ada sekitar 1.600 individu pari manta di Raja Ampat. Bisa dibilang, Raja Ampat adalah surga bagi pari manta. Hanya ada beberapa lokasi khusus di dunia yang menjadi tempat hidup pari manta.

"Dari delapan lokasi (pari manta) yang ada di dunia, empat ada di Indonesia. Salah satunya di Raja Ampat," kata Direktur Eksekutif ICCTF, Tonny Wagey, mengungkapkan betapa istimewanya wilayah kepulauan di barat Papua itu.

Secara khusus, Pulau Yef Nabi Kecil yang ada di dekat Kampung Meosmanggara adalah tempat pari melakukan pembersihan badan (cleaning). Wisatawan akan mudah menemukan pari manta di perairan ini selama kondisi cuaca sedang baik. Riyan menyebut biasanya kondisi cuaca di sana sedang baik selama periode September sampai Maret. Adapun saat periode April sampai Agustus, cuaca di sana biasanya agak buruk sehingga jika pun ada, pari manta sulit untuk dilihat.

"Kebetulan di sini memang jadi tempat untuk feeding (makan) dan cleaning. Kalau cleaning, manta prinsipnya dia membersihkan badan. Dia berenang di terumbu karang, terus ada ikan kecil-kecil, dia akan bersihin badan manta, makan parasitnya itu. Nah sedangkan feeding, jadi kadang ada arus tertentu. Pada saat-saat tertentu, arus itu membawa makanan, planktonnya. Karena kan manta ini sebenarnya makan plankton. Ketika ada plankton maka mereka akan berenang sambil buka mulut," papar Riyan.

Pari manta karang akan muncul ke permukaan laut untuk memakan plankton, kemudian akan kembali turun ke laut dalam. (Donny Fernando)

Roni Sawiay, warga Kampung Meosmanggara yang menjadi sekretaris dalam kelompok Masadimawa, mengaku bersyukur karena daerahnya menjadi habitat pari manta. Ia bahkan membanggakan perairan manta di sekitar kampungnya, terutama di dekat Yef Nabi Kecil, lebih bagus dibanding pulau-pulau lain apa pun di Raja Ampat.

"Jadi satu kelebihan di Meosmanggara, pari mantanya itu tidak tergantung pada musim. Jadi setiap hari ada. Kalau keberadaan pari manta di Arborek itu tergantung pada musimnya," ujar Roni.

Menurut Roni, manta yang muncul di sekitar Meosmanggara bisa di sore hari atau pagi hari. "Ada juga musim besarnya, yakni sekitar bulan Oktober-November." Saat musim besar, jumlah pari manta yang muncul akan lebih banyak. "Bisa ratusan ekor."

Roni mengatakan pari manta yang hidup di sekitar Meosmanggara bisa tumbuh hingga selebar empat meter dan beratnya mencapai lebih dari 100 kilogram. Sayangnya, selama pandemi ini jarang sekali wisatawan yang berkunjung ke wilayah kampungnya.

"Pandemi sekarang dalam satu bulan hanya 2-3 kali kunjungan. Sebelum pandemi setiap hari bisa ada kunjungan."

Yang patut disayangkan juga, para wisatawan yang berkunjung ke sekitar Kampung Meosmanggara biasanya sudah memakai kapal sewaan sendiri dari Sorong atau Manokwari, sudah membawah pemandu wisata sendiri, dan sudah menyewa tempat penginapan di tempat lain. Padahal, di Kampung Meosmanggara ada juga homestay yang dikelola oleh warga lokal. Biaya peningapan homestay bisa sepuluh kali lebih murah dibanding biaya penginapan di resort-resort Raja Ampat. Dengan harga yang jauh lebih murah itu, pengunjung yang menginap juga sudah disedikan makan tiga kali sehari.

Selain itu, warga Kampung Meosmanggara juga punya kapal-kapal kecil yang bisa disewa untuk dinaiki wisatawan. Warga di sana juga bisa menjadi pemandu wisata lokal karena sudah dilatih. Bahkan, melalui COREMAP-CTI ini, ada pusat informasi wisata dan stasiun pemantau pari manta yang telah rampung dibangun di sekitar Kampung Meosmanggara untuk menambah fasilitas wisata berbasis spesies di sana.

Warga Rajaampat sudah biasa hidup bersama pari manta dan tidak pernah menangkapnya. Kearifan lokal konservasi yang telah hidup secara turun-temurun. (Donny Fernando)

Riyan mengakui masih ada pekerjaan rumah (PR) yang sangat besar agar para wisatawan mau membeli jasa dan barang yang disediakan oleh para warga lokal Meosmanggara. PR itu bernama pemasaran. Riyan mengatakan ke depan perlu kerja sama dan bantuan banyak pihak agar Kampung Meosmanggara bisa menarik perhatian para wisatawan dan agar warga lokal Meosmanggara bisa terhubung langsung dengan para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Bagaimanapun, Roni Sawiay optimistis ke depan warga kampungnya bisa turut berkiprah dan mendapatkan manfaat besar dari kegiatan pariwisata konservasi di Raja Ampat. Ia berharap "ke depannya masyarakat Meosmanggara bisa semakin sadar wisata sehingga Kampung Meosmanggara bisa menjadi tempat wisata yang dikenal di dunia, bukan hanya di Indonesia saja."