Perubahan Iklim Berperan untuk Manusia Purba Menentukan Tempat Tinggal

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Jumat, 15 April 2022 | 14:00 WIB
Semua jenis manusia purba bergantung pada iklim. Perubahan iklim membuat mereka terpengaruh untuk menentukan tempat tinggal baru. (De Lumley, M.A)

Nationalgeographic.co.id—Perubahan iklim punya dampak yang besar bagi penduduk manusia masa kini. Sumber pangan kita bergantung pada curah hujan, suhu, dan iklim yang tepat untuk membuat kita bertahan di tempat kita tinggal. 

Para ilmuwan telah lama curiga, jangan-jangan dampak pada perubahan iklim, bisa berpengaruh pula pada pendudukan manusia purba. Usaha menyingkap kejadian di masa yang sangat lampau itu ternyata rumit, karena sedikitnya catatan iklim di dekat situs yang punya fosil manusia. 

Maka, untuk memecahkan pengetahuan ini, Axel Timmermann dari Center for Climate Physics, Institute for Basic Science di Busan, Korea Selatan, bersama sepuluh rekannya menyelidiki iklim lewat simulasi komputer. Simulasi itu diatur oleh mereka menuju masa lampau ketika manusia tinggal di suatu tempat berdasarkan catatan arekologi.

Komputer itu mensimulasikan sejarah iklim bumi selama 2 juta terakhir, tulis mereka di jurnal Nature. Makalah itu berjudul Climate effects on archaic human habitats and species successions, terbit Rabu, (13/04/2022). Timmermann dan timnya, di dalam makalah itu, memasukan data untuk pemodelan iklim, antropologi, dan ekologi yang dapat membantu di lingkungan seperti apa manusia purba bisa hidup.

Jenis manusia yang mereka pertimbangkan di sini adalah Homo neanderthalensis, Homo heidelbergensis (termasuk populasi Afrika dan Eurasia), Homo erectus dan spesies Homo Afrika awal—termasuk Homo ergaster dan Homo habilis, dan Homo sapiens. Semuanya dicatat di dalam model yang akan membuat pemetaan perkembangan hominin.

  

Baca Juga: Mengubah Teori Migrasi: Ada Jejak Leluhur Asia Timur di Eropa Timur

Baca Juga: Manusia Bermigrasi dari Sulawesi Selatan ke Flores Lewat Selayar

Baca Juga: Manusia Purba Keluar dari Afrika Lebih dari Satu Gelombang Migrasi

  

“Meskipun kelompok manusia purba yang berbeda lebih suka lingkungan iklim yang berbeda, habitat mereka semua merespons perubahan iklim yang disebabkan oleh perubahan astronomis pada goyangan poros bumi, kemiringan, dan eksentrisitas orbit dengan rentang waktu berkisar antara 21 hingga 400 ribu tahun,” ujar Timmermann yang jadi penulis utama makalah, dikutip dari Phys.

Timmermann dan tim menemukan adanya perbedaan yang sangat signifikan dalam pola habitat untuk tiga kelompok hominin terbaru—H. sapiens, H. neanderthalensis, dan H. heidelbergensis. Temuan ini terungkap ketika mereka mencoba menggunakan usia fosil yang acak dan senyatanya catatan untuk menghasilkan habitat mana yang dipilih pada suatu masa.

“Hasilnya menyiratkan bahwa setidaknya selama 500.000 tahun terakhir urutan nyata perubahan iklim masa lalu, termasuk siklus glasial, memainkan peran sentral dalam menentukan di mana berbagai kelompok hominin hidup, dan di mana sisa-sisa mereka ditemukan,” lanjutnya.

Para peneliti kemudian membuat zona kontak yang berguna untuk menghasilkan pengetahuan adanya tempat yang bercampur antarspesies. Dari analisis zona kontak, mereka kemudian mengurutkan pohon keluarga hominin. 

Mereka memperkirakan Neanderthal dan Denisovan bisa jadi berasal dari H. heidelbergensis yang ada di Eurasia sekitar 500.000-400.000 tahun silam. Sedangkan H sapiens bisa ditelusuri asalnya punya kontak yang sama dengan populasi H. heidelbergensis di Afrika Selatan sekitar 300.000 tahun silam.

Perbedaan antara habitat yang disukai setiap jenis manusia purba yang ditunjukkan dengan beberapa kawasan yang diwarnai. (Axel Timmermann et. al./Institute for Basic Science)

"Rekonstruksi garis keturunan hominin berbasis iklim kami sangat mirip dengan perkiraan terbaru yang diperoleh dari data genetik atau analisis perbedaan morfologis pada fosil manusia, yang meningkatkan kepercayaan kami pada hasilnya," kata Jiaoyang Ruan, rekan penulis studi di Institute for Basic Science.

Lalu, pemodelan yang menghasilkan 500 terabyte data ini dijalankan. Para peneliti melihat bagaimana persebaran dan perpindahan habitat berbagai spesies manusia dari masa ke masa. Pengamatan ini menghasilkan cara berdapatasi manusia untuk mendapatkan sumber makanan selama dua juta tahun terakhir.

“Ketika kami melihat data untuk lima kelompok hominin utama, kami menemukan pola yang menarik. Hominin Afrika awal sekitar dua sampai satu juta tahun yang lalu lebih menyukai kondisi iklim yang stabil. Ini membatas mereka pada koridor layak huni yang relatif sempit” kata Elke Zller, anggota penulisan makalah ini. 

“Setelah transisi iklim besar sekitar 800.000 tahun yang lalu, sebuah kelompok yang dikenal dengan istilah Homo heidelbergensis beradaptasi dengan sumber makanan yang lebih luas, yang memungkinkan mereka menjadi pengembara global, menjangkau daerah-daerah terpenci di Eropa dan Asia Timur.”

Para peneliti berhasil mengungkapkan bahwa ada peran yang mendasar bagi genus Homo atas perubahan iklim yang terjadi di masa lampau. “Kita adalah kita karena kita telah beradaptasi selama ribuan tahun untuk memperlambat perubahan iklim di masa lalu,” pungkas Timmermann.