Sebagian Serangga dan Hewan Rutin Berganti Kulit, Ini Alasannya

By Sysilia Tanhati, Minggu, 1 Mei 2022 | 14:00 WIB
Selain untuk bertumbuh, berganti kulit juga merupakan salah satu cara untuk menghilangkan ektoparasit. (Roshe Photography/Wikipedia)

Nationalgeographic.co.id - Ketika serangga dan hewan memiliki eksterior yang keras, hanya ada satu cara untuk tumbuh: berganti kulit.

Artropoda, kelompok hewan yang paling melimpah di bumi, memiliki penutup luar yang keras yang disebut kerangka luar. “Kerangka ini melindungi mereka dari pemangsa dan menopang tubuhnya,” ungkap Liz Langley pada National Geographic. Dari cangkang kepiting hingga kepik yang mengilap, kerangka luar terdiri dalam beragam bentuk dan ukuran. Meski beragam, sebagian besar kerangka luar itu terbuat dari bahan berserat yang sama: kitin.

Ketika artropoda muda siap bertumbuh, hormon memicu kulitnya untuk mulai berganti kulit. Proses ini dikenal sebagai ekdisis. Lapisan luar rangka luar, kutikula, dan lapisan di bawahnya, epidermis, mulai membentuk kutikula pengganti yang baru. Hewan itu kemudian menghirup banyak udara, yang menggeser cairan di sekitar tubuhnya untuk memecahkan sambungan.

Kecoak, misalnya, terbelah tepat di tengah punggung mereka. Kerangka baru muncul dalam waktu 20 menit atau kurang,” kata Andrine Shufran, ahli entomologi di Oklahoma State University.

Krustasea air seperti kepiting menyerap air, yang memberi tekanan pada lapisan yang mengalir di sekitar tubuh mereka. Ini mendorong mereka dari cangkang lama mereka.

Karena krustasea meranggas dalam bentuk utuh, "Anda dapat menemukan kulit kosong kecil yang sempurna dari semua ukuran kepiting dan kepiting tapal kuda," ungkap Christine Simon, ahli biologi evolusi di University of Connecticut.

Arachnida, seperti tarantula dan kalajengking, memiliki fleksibilitas yang lebih rendah. Jadi mereka melepaskan kepalanya. “Dan kemudian menarik semuanya keluar dari lubang itu," kata Shufran.

Ikuti ekornya

Hanya di film kartun saja seekor kura-kura bisa keluar dari cangkangnya. Dalam kehidupan nyata, cangkang kura-kura adalah bagian dari kerangkanya. “Cangkangnya terdiri dari sekitar 50 tulang yang tersusun seperti desain geometris yang rumit,” kata Jeffrey E. Lovich, ahli ekologi penelitian di U.S. Geological Survey.

Di atas cangkang bertulang itu terdapat sisik, pelat yang tumpang tindih yang terbuat dari keratin. Kura-kura melepaskan sisiknya seperti halnya menguliti. Ini dapat menyingkirkan penumpukan alga di cangkangnya atau membiarkan cangkangnya tumbuh lebih besar, kata Lovich.

Namun, ini tidak terjadi pada semua jenis kura-kura. “Waktu pelepasan sisik ini juga bervariasi pada setiap kura-kura,” kata Whit Gibbons, seorang ahli ekologi dan profesor emeritus di University of Georgia yang, bersama Lovich, ikut menulis Turtles of the World: A Guide to Every Family .

Ketika kadal siap untuk berganti kulit, warnanya sering tampak kusam, dengan mata keruh, dan mulai bergerak-gerak. Untuk membuat robekan pertama pada kulitnya, hewan tersebut akan menggosokkan dirinya pada batu atau permukaan bertekstur lainnya. “Akhirnya kadal akan keluar, meninggalkan kulit mati yang sering menyerupai stoking nilon,” kata Lovich.

 Baca Juga: Terkena Penyakit Jamur, Wajah Ular Raja Ini Menjadi Seperti Mumi

 Baca Juga: Gawat! Kupu-kupu dan Lebah Kesulitan Menemukan Bunga Akibat Polusi

 Baca Juga: Bagaimana Laba-laba Bisa Memangsa Ular yang Jauh Lebih Besar?

Meskipun kulit yang dibuang tidak berwarna, Anda masih dapat membedakan spesies ular atau kadal dari pola kulitnya, kata Gibbons.

“Ini seperti salinan hitam-putih,” kata Gibbons. Faktor-faktor lain, seperti ukuran kulit atau jenis sisik, dapat mengungkapkan dari spesies apa ular itu berasal.

Kulit yang sudah terlepas bahkan bisa menunjuk ke lokasi pemilik sebelumnya. Lihatlah ekornya, Gibbons berkata: "Ini menunjuk ke mana ular itu pergi."

Manfaat berganti kulit

Berganti kulit juga dapat menghilangkan ektoparasit dari serangga dan hewan. Ini adalah organisme yang hidup di kulit inangnya. Misalnya, ketika beberapa tokek Australia membuang kulitnya, mereka juga mengeluarkan tungau yang berpotensi berbahaya.

Beberapa kadal dan katak memakan kulit yang terlepas, yang dikenal sebagai dermatophagy. Serangga, seperti kecoak Madagaskar yang mendesis, juga memakan eksoskeleton mereka sebelumnya.

“Ini adalah salah satu cara untuk menyembunyikan keberadaannya,” kata Shufran, “tetapi itu juga merupakan cara untuk menghemat semua energi yang telah dikeluarkan sebelumnya.”

Setelah berganti kulit, dibutuhkan waktu kurang dari 30 menit hingga beberapa jam untuk mengeraskan kulit barunya. Selama waktu tersebut, serangga dan hewan rentan pada kecelakaan dan pemangsaan. Lobster Amerika betina pindah ke liang jantan, berganti kulit, dan kemudian kawin dengan jantan. Si jantan kemudian menjaga betina yang rentan selama beberapa hari.