Selidik Warna Tentara Terakota Penjaga Makam Kaisar Tiongkok

By National Geographic Indonesia, Rabu, 18 Mei 2022 | 13:00 WIB
Lahir dari Produksi Massal. Seraut wajah dibentuk menggunakan salah satu dari puluhan cetakan. Pemahat lalu menambahkan detail, memilih dari aneka model rambut dasar, telinga, alis, kumis, dan jenggot. Tubuhnya dibuat terpisah dan menampilkan kombinasi unsur standar serupa. Jika digabungkan, patung- (O. Louis Mazzatenta)

Sebuah kajian menunjukkan bahwa begitu terpajan, pernis di balik cat mulai melengkung setelah 15 menit dan terkelupas dalam empat menit saja—keping sejarah yang semarak hilang dalam waktu seperebusan telur saja.

Sekarang paduan keberuntungan dan teknik pemeliharaan baru mengungkapkan warna asli pasukan terakota. Penggalian tiga tahun di situs Xian yang paling terkenal, yaitu Kotak 1, menghasilkan lebih dari seratus tentara, sebagian masih dihiasi fitur berwarna, termasuk rambut hitam, wajah warna dadu, dan mata hitam atau cokelat. Spesimen terawet ditemukan di dasar lubang, karena lapisan lumpur di sana yang terbentuk oleh banjir menjadi semacam perawatan spa selama 2.000 tahun.

Ekskavasi sebelumnya di Kotak 1 berhenti tiba-tiba pada 1985 setelah seorang pekerja mencuri kepala tentara dan dihukum mati— kepala dibalas kepala. Dalam jeda panjang setelahnya, peneliti Tiongkok bekerja sama dengan para pakar dari Bavarian State Conservation Office di Jerman guna mengembangkan zat pengawet bernama PEG untuk membantu menyelamatkan warna para tentara. Dalam penggalian baru-baru ini, begitu ada artefak bercat terungkap, pekerja menyemprot setiap warna yang terpapar dengan larutan itu, lalu membungkusnya dengan plastik untuk mempertahankan kelembapan pelindungnya.

Menggali Penemuan Baru. Berjongkok di samping kumpulan artefak yang baru ditemukan, Yang Jingyi membersihkan lumpur terakhir sebelum restorasi dimulai. Seiring semakin dekatnya penggalian ke gundukan makam pusat, para arkeolog berharap akan mengungkap kejutan-kejutan lain dalam kisah pasukan terakot (O. Louis Mazzatenta)

Bagian yang paling berwarna-warni (dan tanah di sekitarnya) dipindahkan ke laboratorium di situs untuk diberi perlakuan lebih lanjut. Kabar gembiranya, teknik modern untuk mengawetkan warna kuno ini tampaknya berhasil.

Dalam kotak gali yang memanjang dan sempit di sisi utara Kotak 1, arkeolog Shen Maosheng berjalan di depan saya, melewati benda mirip ransel terakota yang bertebaran di atas tanah kemerahan. Benda itu sebenarnya tarkas tanah liat yang masih penuh anak panah. Saya dan Shen mengitari sisa kereta perang yang baru digali, lalu berhenti di samping selembar plastik.

(National Geographic)

“Mau lihat hal yang menarik?” tanyanya. Shen mengangkat lembar itu, menyingkapkan tameng bersegi-segi sepanjang 1 meter. Kayunya lapuk, tetapi desain indah tameng, serta warna merah, hijau, dan putih cerah tercetak di tanah. Beberapa langkah dari situ terdapat genderang militer utuh yang permukaan kulitnya meninggalkan pola megah lain di tanah, garis-garis merahnya setipis rambut manusia. Bersama cetakan tekstil sutra dan linen bertenun halus yang juga ditemukan di sini, semua artefak menandakan budaya seni yang tumbuh subur di bawah dinasti Qin dan palet meriah yang mewarnainya.

Dengan banyaknya warna dan seni yang tercetak di tanah—sayang, cat kuno itu lebih mudah menempel pada tanah daripada pernis— ahli preservasi Tiongkok kini berusaha mengawetkan tanah itu. “Kami memperlakukan tanah sebagai artefak,” kata Rong Bo, kepala ahli kimia museum yang membantu mengembangkan zat pengikat yang sedang dipatenkan, perekat tanah agar warna tak hilang. Tantangan berikutnya, kata Rong, adalah menemukan metode untuk menerapkan kembali warna ini pada tentara.

  

Baca Juga: Apakah Tentara Terakota Tiongkok Terilhami Seniman Patung Yunani Kuno?

 Baca Juga: Temuan Kerangka Ungkap Hukuman Amputasi Kaki di Tiongkok Kuno