Tragedi Wounded Knee: Pembantaian Suku Indian di Tanah Leluhurnya

By Galih Pranata, Sabtu, 2 Juli 2022 | 09:00 WIB
Litograf pertempuran Wounded Knee yang berakhir tragis bagi orang Lakota, Suku Indian yang terbantai di tanah leluhurnya sendiri. (ullstein bild/Getty Images)

Nationalgeographic.co.idPembantaian sekitar 300 pria, wanita, dan anak-anak Lakota oleh pasukan Angkatan Darat AS pada tahun 1890, menandai peristiwa tragis selama beberapa dekade dari konfrontasi antara Amerika Serikat dengan suku Indian.

"Setelah pemukim kulit putih (dari Eropa ke Amerika) membanjiri Wilayah Dakota setelah penemuan emas tahun 1874 di Black Hills, mereka menyita jutaan hektar tanah dan hampir memusnahkan populasi kerbau asli," tulis Christopher Klein kepada History.

Ia menulis dalam sebuah artikel yang berjudul "What Happened at the Wounded Knee Massacre?" yang terbit pada 13 Mei 2022.

Sepanjang tahun 1890, orang-orang Lakota (Suku Indian) mengalami kekeringan dan wabah campak, batuk rejan, dan influenza. "Orang Lakota sangat putus asa pada waktu itu," kata sejarawan Lakota Donovin Sprague, kepala departemen sejarah di Sheridan College kepada History.

Di tengah kondisi yang sulit, orang-orang Lakota juga mendapat tekanan dari pemerintahan kulit putih yang menduduki Amerika Serikat. "Mereka kehilangan sejumlah besar tanah di bawah Undang-Undang Penjatahan Dawes tahun 1887," lanjut Donovin.

Lebih buruk lagi, pemerintah kulit putih telah melarang Tarian Matahari—ritus orang Lakota, yang merupakan upacara keagamaan terpenting mereka, dan diwajibkan untuk izin jika mereka akan bepergian.

Namun, di tengah kondisi sulit, mereka tidak tinggal diam. Orang Lakota mulai menginisiasi untuk melancarkan serangan lewat hal yang unik. Ialah Ghost Dance atau Tarian Hantu yang meresahkan orang-orang kulit putih.

Gerakan Ghost Dance yang pertama kali muncul di Nevada sekitar tahun 1870, mendapatkan popularitas di kalangan Lakota setelah kebangkitannya pada tahun 1889 oleh tokoh keagamaan, Paiute Wovoka.

"Penganutnya percaya bahwa peserta dalam tarian melingkar ritual akan mengantar masa depan utopis, di mana bencana alam akan menghancurkan Amerika Serikat, membasmi kolonis kulit putih dari benua," sambung Klein.

Saat gerakan Ghost Dance menyebar, para kolonis kulit putih yang ketakutan, percaya bahwa itu adalah awal dari pemberontakan bersenjata. Mereka menggambarkan bahwa orang Indian (Lakota) menari di salju dengan liar dan gila.

 Baca Juga: Kisah Pembuatan Tiang Totem di Amerika Utara, Sempat Dianggap Berhala

 Baca Juga: Kisah Nyata Kehidupan Pocahontas yang Tak Diungkap Film Animasi Disney