Risiko Jadi Kaisar Romawi, Peluang Matinya Lebih Tinggi dari Gladiator

By Sysilia Tanhati, Minggu, 17 Juli 2022 | 09:00 WIB
Selain tugasnya berat, kaisar Romawi pun memiliki banyak musuh yang siap menggulingkannya. Risiko jadi kaisar Romawi, peluang matinya lebih tinggi dari gladiator. (Karl von Piloty)

Nationalgeographic.co.id - Menjadi seorang kaisar Romawi bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Selain memiliki banyak tugas, seorang kaisar juga memiliki banyak musuh. Maka tidak heran jika posisi ini berisiko tinggi. Salah-salah, kematian sudah menanti di depan mata. Faktanya, kaisar Romawi cenderung mengalami kematian yang kejam dan berdarah. Menurutnya, gladiator memiliki peluang lebih baik selamat dari pertandingan brutal daripada kaisar mati dengan sebab alami. Risiko jadi kaisar Romawi, peluang matinya lebih tinggi dari gladiator.

Hal ini diungkapkan oleh Joseph Saleh, peneliti teknik kedirgantaraan. Dari 14 Masehi hingga 395 Masehi, 43 dari 69 penguasa Romawi (62%) meninggal dengan kejam. “Ini berarti mereka terbunuh dalam pertempuran atau di tangan para pembunuh. Akan tetapi angka-angka itu hanya menceritakan sebagian dari cerita,” tutur Saleh. Penulis mempertanyakan apakah mungkin menggunakan model statistik untuk menghitung risiko yang melekat pada posisi bergengsi kaisar Romawi.

Apa yang belum pernah dieksplorasi adalah bagaimana peluang seorang kaisar meninggal akibat kekerasan dapat berubah dari waktu ke waktu, kata Saleh.

Kegagalan berbuah kematian mengenaskan

Beberapa dari "kegagalan" itu cukup mengerikan. Publius Septimius Geta, yang meninggal pada tahun 211 Masehi, dibantai di tangan ibunya. Saat itu dia baru berusia 21 tahun. Sang ibu membunuhnya atas perintah kakak laki-lakinya, Caracalla. Caracalla kemudian dibunuh pada tahun 217 Masehi. “Diduga saat buang air besar di pinggir jalan,” tulis Michael Meckler, seorang sarjana sejarah Romawi di Ohio State University.

Kaisar Marcus Aurelius Commodus Antoninus, yang memerintah dari tahun 177 hingga 192 Masehi, juga mengalami nasib yang mengerikan. Setelah upaya peracunan yang gagal, seorang pegulat dikirim oleh senator Romawi yang tidak puas. Ia kemudian mencekik kaisar saat sedang mandi, menurut Dennis Quinn, profesor di Universitas Politeknik Negeri California. Banyak berita simpang siur soal penyebab kematian Commudus itu. Ada juga yang berpendapat bahwa Commudus mati karena racun.

Peluang bertahan hidup seorang kaisar Romawi

Menurut Saleh, peluang kaisar Romawi untuk bertahan hidup kira-kira setara dengan seseorang yang memainkan permainan Russian roulette. Namun alih-alih satu peluru, gunakan empat peluru di revolver, bukan hanya satu. Ini merupakan sebuah permainan maut menggunakan pistol revolver. Dalam permainan, satu buah peluru atau lebih diletakkan ke dalam silinder. Kemudian pistol ditodongkan pada target dan pelatuk ditarik.

Peluang kematian tentu lebih tinggi ketika ada 4 peluru pada revolver, alih-alih hanya satu. Nah, peluangnya kematiannya itu kurang lebih sama dengan peluang kematian kaisar Romawi.  

Penelitian dilakukan dengan metode statistik biasa yang digunakan untuk melihat berapa lama waktu yang dibutuhkan peralatan untuk rusak. Banyak perangkat, bila dianalisis dengan cara ini, jatuh ke dalam pola yang dikenal sebagai kurva bak mandi. Ada beberapa kegagalan saat perangkat pertama kali memasuki pasar. Kemudian, kegagalan berkurang untuk sementara waktu. “Setelah perangkat ada cukup lama untuk mulai aus, kegagalan meningkat lagi,” Saleh menjelaskan.

Vespasianus termasuk salah satu kaisar Romawi yang sukses. Artinya, ia meninggal karena sebab alami, bukan tewas dibunuh atau kalah di medan perang. (Wikipedia)

Ia menemukan bahwa kaisar Romawi mengikuti pola yang sama. Risiko kematian mereka adalah yang tertinggi selama tahun pertama berkuasa. Tetapi jika seorang penguasa berhasil bertahan pada tahun pertamanya dan tetap hidup selama tujuh tahun berikutnya. Saat itu, kemungkinan kematiannya menurun secara signifikan.