Nationalgeographic.co.id—Mengapa burung gunung menempati rentang ketinggian yang begitu sempit telah menjadi misteri berabad-abad. Namun sekarang, studi baru membantu mengungkap misteri yang telah membingungkan para ilmuwan tersebut.
Sementara banyak asumsi suhu bertanggung jawab atas distribusi terbatas ini, penelitian terbaru menunjukkan persaingan dari spesies lain memainkan peran yang lebih besar dalam membentuk rentang burung.
Temuan ini telah dipublikasikan di Science dengan judul "Interspecific competition limits bird species’ ranges in tropical mountains" pada 21 Juli 2022.
Studi yang dilakukan oleh para peneliti di University of British Columbia dan Cornell Lab of Ornithology, memasukkan 4,4 juta pengamatan sains warga dari 2.879 spesies burung di seluruh dunia.
"Anda memiliki keanekaragaman hayati yang luar biasa di pegunungan, terutama di daerah tropis," kata penulis utama Benjamin Freeman, seorang rekan pascadoktoral di University of British Columbia.
"Dari satu titik pemandangan di Andes, Anda dapat melihat lereng gunung yang menjadi rumah bagi spesies sebanyak yang ada di seluruh Amerika Utara. Kami ingin tahu, bagaimana cara kerjanya?"
Freeman dan kolaboratornya memperoleh rentang data dengan menganalisis catatan dari eBird, sebuah proyek sains warga yang dijalankan oleh Cornell Lab. Proyek tersebut berisi penampakan dari ratusan ribu pengamat burung di seluruh dunia.
Hal ini memungkinkan mereka untuk memeriksa kisaran lebih dari seperempat spesies burung dunia yang tersebar di lima benua, skala yang tak terbayangkan oleh para peneliti sebelumnya.
"Selain eBird, Anda hanya memiliki peta jangkauan yang sangat kasar, terutama dalam skala global," kata rekan penulis Eliot Miller di Cornell Lab.
"Basis data eBird sangat luas dalam ruang dan waktu, memberi kami lebih banyak wawasan tentang distribusi burung di seluruh dunia daripada yang kami miliki untuk organisme lain."
Para peneliti mencari hubungan antara ukuran kisaran elevasi dan dua faktor, stabilitas suhu sepanjang tahun dan jangkauan tumpang tindih dengan spesies lain. Jika ukuran kisaran dikorelasikan dengan iklim yang konsisten, ini akan menunjukkan bahwa burung dibatasi oleh biologinya sendiri.
Baca Juga: Dunia Hewan: Bagaimana Burung Tidur saat Terbang dan Ikan Tidur di Air
Baca Juga: Dunia Hewan: Bagaimana Burung Bisa Mengoptimalkan Manuver Pendaratan?
Baca Juga: Indonesia Menghadapi Ancaman Kepunahan Burung Tertinggi di Dunia
Kata peneliti, mereka telah menjadi begitu terbiasa dengan suhu tertentu sehingga mereka tidak dapat bertahan hidup di tempat lain. Jika burung menempati wilayah yang lebih kecil di mana mereka tumpang tindih dengan banyak spesies lain, maka persaingan yang meningkat untuk sumber daya mungkin membatasi mereka.
Hasilnya menunjukkan bahwa iklim yang konsisten tidak memprediksi ukuran kisaran yang lebih kecil. Namun, ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa ketika ada lebih banyak tumpang tindih di antara sejumlah besar rentang spesies, rentangnya menjadi lebih kecil.
Terlepas dari kecurigaannya bahwa persaingan adalah faktor kunci, Freeman mengatakan dia masih lengah dengan kejelasan hasil.
"Saya telah memperhatikan beberapa pola yang menunjukkan persaingan mungkin penting untuk distribusi burung, tetapi saya masih terkejut menemukan sinyal yang begitu kuat dalam penelitian ini," katanya.
Dalam banyak kasus, spesies yang berkerabat dekat juga membatasi distribusi satu sama lain. Misalnya, Ornate Hawk-Eagle, pemangsa besar di hutan tropis.
Burung ini menempati rentang ketinggian yang lebih besar di daerah yang tidak saling tumpang tindih dengan Black-and-chestnut Eagle yang serupa. Ketika keduanya menghuni pegunungan yang sama, mereka menghindari satu sama lain.
Sementara penelitian ini menyoroti satu aspek dari rentang spesies gunung, penulis menyarankan masih banyak lagi yang harus dipelajari. "Banyak detail yang masih belum diketahui tentang bagaimana aspek lain dari ekosistem burung memengaruhi distribusinya."