Kehidupan Tragis Puyi, Kaisar Tiongkok Terakhir Sebagai Tawanan Soviet

By Mahandis Yoanata Thamrin, Minggu, 26 Februari 2023 | 11:01 WIB
Puyi di Penjara Fushun, Tiongkok, selama 1950-an. Kaisar terakhir Tiongkok dibebaskan setelah sepuluh tahun dalam penjara. Ia melanjutkan hidupnya sebagai rakyat jelata, meninggal pada 17 Oktober 1967. ( Hsu Chung-mao/Think China)

Nationalgeographic.co.id—Ketika Jepang menaklukkan kawasan timur laut Tiongkok, mereka berencana mendirikan rezim boneka Manchukuo. Pada 1932, Jepang menawarkan kepada Aisin Gioro Puyi, Kaisar Terakhir Tiongkok, untuk menjadi Kaisar Manchukuo. Puyi, yang merindukan kembalinya tradisi kuasa kaisar, segera menyetujuinya.

Kekaisaran Manchukuo resmi diproklamasikan pada 1934. Peristiwa ini sekaligus menandai ketiga kalinya Puyi naik takhta. Sebuah tragedi. Dia naik takhta sampai tiga kali, namun tak satu hari pun dia memerintah sebagai Kaisar Tiongkok.

Sekitar sepuluh tahun kemudian, Jepang kalah dalam Perang Dunia Kedua. Uni Soviet menyerang Manchukuo yang lepas dari Jepang. Ketika Puyi bersama rombongan kerajaan dan tentara Jepang yang kalah perang hendak melarikan diri ke Negeri Matahari Terbit, tentara-tentara Soviet berhasil menangkap mereka di bandara Manchuria. Mereka dibawa ke Uni Soviet untuk menemui nasib yang tidak pasti. Peristiwa penangkapan itu terjadi pada 18 Agustus 1945.  

Puyi dalam autobiografinya yang disunting oleh A. Barker bertajuk "The Last Manchu: The Autobiography of Henry Pu Yi, Last Emperor of China", mengisahkan kehidupannya selama lima tahun sebagai tahanan Uni Soviet di Chita dan Khabarovsk. Buku itu terbit pada 1967, tahun kematian Puyi .

“Dalam kegelapan, saya menjadi ketakutan,” tulisnya menggambarkan suasana mencekam ketika dia ditangkap di Manchuria sampai perjalanan ke Siberia menuju tempat penahanannya. “Suara itu membuat saya berpikir bahwa beberapa orang Tiongkok telah muncul untuk membawa kami kembali ke Tiongkok, dan jika ini benar, saya pasti akan dibunuh.”

Ajay Kamalakaran menulis untuk Rusia Beyond (RBTH) tentang Puyi berjudul In the Last Emperor’s words: Life as a prisoner in the USSR. Menurutnya, sangat sedikit sumber Rusia yang berkisah ketika mantan Kaisar Tiongkok itu menjalani kehidupan di Soviet. Ia merujuk buku autobiografi Puyi The Last Manchu sebagai rujukan utama untuk kisah penahanannya di Soviet.

Kaisar Tiongkok Puyi, berdiri di samping ayahnya yang bernama Pengeran Chun. Tampak sang ayah memangku Pujie, adik Puyi. Kelak Pujie membantu menulis autobiografi Puyi yang melegenda berjudul 'From Emperor to Citizen' yang terbit pada 1960. ( Hsu Chung-mao/Think China)

Puyi berkisah bahwa dia diterbangkan dari Manchuria ke Siberia. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan bermobil selama berjam-jam. Seorang perwira Angkatan Darat Soviet keturunan Tiongkok mengatakan kepadanya dalam bahasa Mandarin bahwa ia membolehkan Puyi meminta berhenti sejenak untuk sekadar buang air kecil. Saat itu Puyi waswas karena mungkin mereka berniat membunuhnya.

Belakangan, Puyi ternyata diperlakukan dengan hormat dan tinggal dengan nyaman di Chita dan Khabarovsk selama lima tahun berikutnya.

Chita merupakan pusat administratif Krai Zabaykalsky di Siberia Timur. Kini, kota ini ditetapkan sebagai kota kembar dari Manchuria, Republik Rakyat Tiongkok. Sedangkan Khabarovsk terletak 30 kilometer dari perbatasan Tiongkok. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Rusia bagian timur, setelah Vladivostok. 

“Kami makan tiga kali sehari Rusia serta teh sore, gaya Rusia,” tulisnya. “Ada petugas yang menjaga kami dan dokter serta perawat, yang terus-menerus memeriksa kesehatan kami dan merawat kami saat kami sakit.”

Dalam autobiografinya, Puyi mengungkapkan bahwa selama penahanan di sanatorium dekat Chita, Soviet memberinya buku, permainan, dan radio. Bahkan, dia sangat menikmati kehidupannya karena bisa berjalan-jalan secara teratur. 

“Tidak lama setelah kedatangan kami, saya mengembangkan ilusi bahwa karena Uni Soviet, Inggris Raya, dan Amerika Serikat adalah sekutu, saya mungkin bisa pindah ke Inggris atau Amerika Serikat, dan menjalani kehidupan di pengasingan,” demikian Puyi menulis.

Pada 1946, Puyi muncul sebagai saksi di hadapan Pengadilan Kejahatan Perang Tokyo. Dia bersaksi tentang invasi tentara Jepang ke Tiongkok. Puyi mengatakan dia berada di bawah kendali tentara Jepang di Kwantung, dan menegaskan kembali identitasnya sebagai orang Tiongkok. ( Hsu Chung-mao/Think China)

Dia berpikir, barang-barang seperti perhiasan dan karya seni miliknya mungkin bisa digunakan untuk melanjutkan hidup di Barat. Bahkan dia rela menyumbangkan barang-barang berharganya untuk pemulihan pascaperang di Soviet. “Karena Uni Soviet adalah faktor penentu dalam hidup saya, oleh karena itu yang terbaik adalah bersikap baik kepada orang Rusia dan berusaha mendapatkan dukungan mereka,” tulisnya.

Soviet memberinya buku-buku Marxisme dan Leninisme. Namun Puyi heran mengapa dia tidak diizinkan tinggal secara permanen di Soviet.Menurut arsip Soviet, Pu Yi memang telah melayangkan beberapa surat kepada Stalin.

Sang mantan Kaisar Tiongkok Terakhir itu memohon untuk tetap tinggal di Soviet terkait keamanan. Alasannya, di Tiongkok sedang terjadi perang saudara, kaum Nasionalis maupun Komunis pasti akan membunuhnya. Jalan terbaik untuk bisa hidup di Barat adalah kepastian untuk bisa tinggal lebih lama di Soviet.

Setelah beberapa lama di Chita, dia dipindahkan ke kota Khabarovsk. Jarak antara Chita dan Khabarovsk sekitar 2.000-an kilometer. 

Kehidupannya masih terbilang istimewa, meski tak sebaik Chita. Boleh dibilang, selama lima tahun penahanan Puyi di Soviet, dia kehilangan perlakuan khusus ala bangsawan Tiongkok. Dia tidak lagi memiliki petugas yang melayani, kecuali sesama narapidana. Puyi juga kesal karena semua orang memanggilnya dengan sebutan "Tuan Pu" alih-alih memanggilnya "Kaisar" atau "Yang Mulia."

Selama di Khabarovsk, Puyi mendapat sebidang tanah untuk kegiatan berkebun sehingga pengobat kebosanan. “Saya dan keluarga menanam paprika hijau, terong tomat, kacang-kacangan, dan sayuran lainnya, dan ketika saya melihat bagaimana tanaman hijau ini tumbuh setiap hari, saya sangat terkesan,” tulis Puyi dalam autobiografinya. 

Baca Juga: Puyi, Kaisar Tiongkok yang Pertama Kali Belajar Bahasa Inggris

Baca Juga: Puyi, Satu-satunya Kaisar Tiongkok yang Naik Takhta Tiga Kali

Baca Juga: Perjalanan Puyi dari Kaisar Terakhir Tiongkok hingga Jadi Rakyat Biasa

Baca Juga: Lika-liku Kehidupan Aisin-Gioro Puyi, Kaisar Terakhir Tiongkok 

Pada 1946, otoritas Soviet membawanya ke Tokyo untuk bersaksi di Pengadilan Militer Internasional. “Saya menuduh Jepang sebagai penjahat perang dengan cara yang sangat langsung dan tanpa pamrih,” tulisnya. “Namun, setiap kali saya berbicara tentang periode sejarah ini, saya tidak pernah membahas kesalahan saya sendiri.”

Puyi sangat beruntung , sekaligus tidak beruntung. Dia ditahan untuk waktu yang lama tetapi baik Soviet dan Partai Komunis Tiongkok menginginkan dia hidup. Tujuannya, mereka dapat mengklaim kemenangan dalam pertempuran legitimasi propaganda pascaperang.

Puyi menjalani masa penjara selama lima tahun di Soviet, kemudian dilanjutkan penahanan di Tiongkok sampai 1959. Pemerintahan Mao memberikan grasi khusus kepada Puyi. Dia pun menjadi orang biasa, mewakili masyarakat Manchu dalam Kongres Nasional Rakyat Tiongkok.

Setelah sepuluh tahun hidup dalam penjara, Puyi bekerja di Kebun Raya Peking—hasil pengalamannya selama di penjara di Khabarovsk. Dia bahkan mendapat dukungan dari Mao Zedong untuk menulis autobiografinya. Kelak, perjalanan hidupnya yang ditulis selama dia sebagai narapidana dibukukan dalam tajuk From Emperor to Citizen: The Autobiography of Aisin-Gioro Pu Yi, yang terbit perdana pada 1960.