Mengapa Panglima Khalid ibn al-Walid Berjulukan 'Sang Pedang Tuhan'?

By Tri Wahyu Prasetyo, Jumat, 7 April 2023 | 07:00 WIB
Gambar Jenderal dan sahabat Nabi, Khālid bin al-Walīd, yang memimpin pasukan Muslim selama pertempuran Yarmouk. (Public Domain/ Wikimedia Commons)

Nationalgeographic.co.id—Khalid ibn al-Walid merupakan seorang panglima muslim Arab yang telah mengabdi kepada Muhammad sang Nabi, khalifah Abu Bakar, serta Umar. Ia dianggap sebagai salah satu pemimpin militer muslim paling berpengaruh sepanjang masa.

Ia memainkan peran kunci dalam perang Ridda, melawan suku-suku pemberontak di Arab pada tahun 623-633. Ia juga turut serta dalam penaklukan di Irak Sasania (634-644 M) dan Suriah Bizantium (634-638 M).

“Secara luas Khalid dianggap sebagai pemimpin militer yang bertanggung jawab atas ekspansi Islam pada abad ketujuh. Kisahnya sangat menarik.” tulis Andrew Latham, seorang profesor ilmu politik di Macalester College di Saint Paul, Minnesota, pada laman medievalists.

Pada tahun 624 M, 30.000 tentara Quraisy Mekah yang kuat berbaris menuju benteng pertahanan muslim di Madinah. Mereka bertemu dengan pasukan muslim di sebuah lembah dekat Gunung Uhud.

Latham menjelaskan, jumlah pasukan muslim hanyalah sepersepuluh dari rombongan Quraisy Mekah. “Meskipun kalah jumlah, para pemanah muslim berhasil menguasai dataran tinggi dan memukul mundur tentara Mekah.”

Melihat musuh mundur, para pemanah meninggalkan pos mereka untuk menjarah perkemahan Mekah. Hal ini membuat sisi kanan pasukan muslim menjadi lemah.

Pertempuran Uhud terjadi pada 19 Maret 625 M (3 Syawal 3 H dalam penanggalan Islam) di lembah yang terletak di depan Gunung Uhud, di tempat yang sekarang menjadi barat laut Arab. Pasukan Muslim Madinah yang dipimpin oleh Muhammad, dan pasukan yang dipimpin oleh Abu Sufyan bin Harb dari Mekkah. (EARTHTEAM.COM)

Memanfaatkan celah tersebut, Khalid dengan 700 tentaranya merangsek pasukan muslim dan meraih kemenangan. “Hal ini memberikan penderitaan serius bagi tentara muslim selama perang Muslim-Kuwait,” terang Latham.

Beberapa tahun kemudian, Muhammad dan para pengikutnya bernegosiasi dengan utusan Mekah. 

Pertemuan tersebut berbuah kesepakatan damai antara suku Quraisy dan muslim. Perjanjian damai tersebut dikenal dengan “Hudaybiyyah”.

Menurut Latham, Khalid Ibn Al-Walid merupakan di antara sedikit orang Mekah berpengaruh yang masuk Islam pascaperjanjian. “Setelah pertobatannya, Khalid mengabdikan keahlian militernya untuk mendukung negara Islam yang baru lahir.”

Ekspedisi militer pertama Khalid di bawah panji-panji muslim dilakukan di Mu'ta (Yordania modern). Alih-alih menyerang suku-suku yang berafiliasi dengan Bizantium, mereka justru bertemu dengan tentara Bizantium.