Mengapa Penguasa Kekaisaran Inca Sering Melakukan Hubungan Inses?

By Ricky Jenihansen, Selasa, 10 Oktober 2023 | 16:00 WIB
Raja-raja Kekaisaran Inca cenderung mengawini saudara kandung perempuan, dan melakukan hubungan inses. (Alexandre Marie Colin)

Nationalgeographic.co.id—Para penguasa Kekaisaran Inca memiliki kebiasaan tak biasa untuk menjaga keturunannya dengan melakukan hubungan inses. Saat diangkat menjadi raja, penguasa Inca biasanya akan mengawini saudara kandung perempuannya.

Dijelaskan bahwa raja Kekaisaran Inca diharuskan untuk menikah pada saat pengangkatannya. Pengantin perempuannya biasanya adalah saudara kandung perempuannya sendiri.

Ratu atau Qoya dalam Kekaisaran Inca nanti akan dikenal sebagai Mamancik atau "ibu kami". Ia akan mempunyai pengaruh baik terhadap suaminya maupun melalui kelompok kerabatanya.

Khususnya dalam memilih putra mana yang akan menjadi pewaris resmi takhta. Qoya juga memiliki kekayaan yang cukup besar yang dapat dia gunakan sesuai keinginannya.

Menurut para arkeolog, alasan raja-raja Kekaisaran Inca cenderung mengawini saudara kandung mereka sendiri adalah untuk menghindari perluasan basis kekuasaan elit di puncak struktur pemerintahan.

Sehingga hubungan inses menjadi pilihan yang lebih mudah untuk Raja-Raja Kekaisaran Inca. Dibandingkan jika mereka mengawini perempuan di luar keluarga inti mereka dan terjadi perluasan basis kekuatan.

Hal itu dapat meminimalisir konflik internal dan perebutan kekuasaan dan membuat pemerintahan lebih stabil. Meski demikian, konflik dan intrik di Kekaisaran Inca tetap sering terjadi.

Seperti diketahui, di sistem pemerintahan Kekaisaran Inca, raja adalah puncaknya. Kemudian persis di bawahnya adalah pendeta tinggi (Willaq Umu) – yang juga bisa bertindak sebagai marshal lapangan atau panglima lapangan.

Setelah itu adalah sepuluh kelompok bangsawan yang disebut panaqa. Para bangsawan ini dapat membentuk dan memulai kebijakan dalam dewan dengan raja.

Yang lebih penting lagi dari itu semua adalah, mereka dapat memengaruhi pilihan akhir penerus raja Inca yang jarang hanya berupa putra sulung.

Memang benar, banyak aksesi kerajaan didahului oleh intrik, manuver politik, kudeta, dan bahkan pembunuhan untuk mempromosikan calon dari kelompok kerabat tertentu.

Perluasan kerabat jelas akan membuatnya segala sesuatunya menjadi lebih sulit. Dan ketika perlu suksesi kekuasaan, maka akan terjadi perebutan kekuasaan yang dapat menimbulkan perang saudara.