Mas Marco Kartodikromo Menghantam Kebelandaan dalam Student Hidjo
Baca Juga: Kala Wanita Eropa Hidup di Hindia dan Menemukan Penindasan Perempuan
"'Meneer Djepris!' kata Controleur kepada Sergeant yang hendak sekolah militer itu sewaktu dia sedang memaki-maki kepada orang Jawa yang menjadi jongos kapal, lantaran jongos itu kurang cepat melayani dirinya."
Lantas terjadi percakapan antara Controleur dan sergeant Djepris:
"Rupanya Tuan amat benci kepada orang Jawa. Apakah kalau tuan menyuruh apa-apa kepada jongos orang Belanda, juga memakai perkataan yang begitu keji seperti itu?" tanya sang Controleur kepada sergeant.
"Tidak Peduli! orang Jawa itu kalau tidak dikasih perkataan kasar, akan menjadi kurang ajar!" jawab sergeant Djepris sinis.
Mas Marco Kartodikromo tengah menghantam watak kolonial Kebelandaan di zamannya yang keji nun angkuh. Arogansi dan egoisme dimunculkan sebagai perwujudan watak Kebelandaan yang melekat sebagai bangsa penjajah di Hindia.
Hantaman ini disentakannya kembali untuk menggambarkan kondisi Kebelandaan yang berbanding terbalik di Eropa. Kebelandaan sebagai manusia, dan cenderung tidak beringas dan keji.
Kutipan ini berada pada halaman 50, sewaktu Hidjo yang berniat melanjutkan studi ke Belanda, pada gilirannya, kapal yang ditunggangi bersama leerar-nya itu berlabuh di Amsterdam.
"...luar biasa karena mulai saat itu Hidjo bisa memerintah orang-orang Belanda. Orang yang mana kalau di Tanah Hindia kebanyakan semua bersifat besar kepala."
Hidjo telah melihat, orang-orang Belanda di kampung halamannya tak ubah sebagaimana manusia seperti dirinya. Tanpa arogansi, bahkan cenderung sama dengan pribumi di Tanah Hindia: mau diperintah.
Di Belanda, ada pula jongos-jongos Belanda yang berkulit putih dan berambut pirang. Mereka mau diperintah membawakan barang-barang, berlaku patuh demi mendapat upah.