Murad yang sukses, namun bernasib malang. Ajal lebih dahulu menjemputnya. Sultan Murad meninggal pada 8 Februari 1640, setelah berjuang melawan asam urat selama lima tahun.
Penyakitnya bertambah parah dan merenggut nyawanya setelah 14 hari tirah baring. Nahasnya, dia wafat saat baru berusia 28 tahun. Ia dikebumikan di dekat makam ayahnya, Sultan Ahmed I.
Dengan demikian, kesultanannya bertahan selama 16 tahun lebih. Meski wafat, spirit bertempurnya terus menjalar dalam nadi Ottoman.
Semangat berperangnya melawan kekaisaran di Eropa, termasuk Venesia tetap hidup. Hal ini dibuktikan dengan perlawanan yang diteruskan oleh pemimpin Ottoman selanjutnya, Sultan Ibrahim.
Baca Juga: Era Kesultanan Wanita, Saat Perempuan Mendominasi Kekaisaran Ottoman
Baca Juga: Mengungkap Kehidupan Sehari-hari di Harem Kekaisaran Ottoman
Baca Juga: Selim III Kekaisaran Ottoman, Bawa Reformasi Hingga Kehilangan Takhta
Baca Juga: Kosem Sultan, dari Selir Hingga Jadi Permaisuri Ottoman Haus Kekuasaan
Sejarawan Mustafa Naima mengatakan: "Dia sangat mirip dengan Sultan Selim I dalam hal karakter dan kemampuan." Setelah kematiannya, dia meninggalkan negara yang damai dan pasukan dengan kekuatan serangan terbesar di dunia.
Perbendaharaan Kekaisaran Ottoman yang sebelumnya kosong saat Murad IV naik takhta, lantas memiliki 15 juta koin emas selepas kematiannya.
Dia mereformasi sistem Tımar, di mana pendapatan yang diproyeksikan dari wilayah yang ditaklukkan didistribusikan dalam bentuk hibah tanah sementara di antara kelas militer.
"Dia mengambil kembali fondasi yang telah diambil oleh para pengganggu. Dia mengambil langkah-langkah untuk mencegah pemborosan demi pemborosan," terus Ekrem menutup tulisannya.
Biarpun Murad IV bisa dikatakan mati muda karena asam uratnya, semangatnya dalam meletakkan fondasi kejayaan Ottoman membuatnya dikenang sebagai salah satu sultan Ottoman yang cukup sukses sepanjang sejarah.
Penulis | : | Galih Pranata |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR