Da Vinci tidak menjadi pelukis ulung dalam semalam. Seperti yang dibahas Martin Clayton dalam bukunya Leonardo da Vinci: The Mechanics of Man, “Studi anatomi awalnya tidak terlalu terfokus.” Mengakui “kesempurnaan struktural dan mekanis” tubuh, ia tahu bahwa setiap bagiannya entah bagaimana saling terhubung. Ia hanya tidak tahu persis bagaimana.
Sayangnya, kata Clayton, “Leonardo tidak dapat mencapai hasil yang jauh dengan sebagian besar subjek ini.”
Clayton menulis:
“Statusnya adalah seorang perajin. Tidak mengherankan jika ia merasa bahan manusia untuk dibedah sulit ditemukan. Banyak pengamatan anatomi awal Leonardo dengan demikian didasarkan pada campuran dari pengetahuan yang diterima, pembedahan hewan, dan spekulasi belaka.”
Semua ini berubah pada musim dingin tahun 1507-08, ketika da Vinci yang bersemangat mendapat izin untuk melakukan otopsi pertamanya. Otopsi itu bukan yang terakhir. Hanya setahun kemudian, ia mengaku telah membedah lebih dari sepuluh orang. Menjelang akhir hidupnya, jumlah itu telah meningkat menjadi lebih dari 30.
Semakin banyak otopsi yang dilakukan da Vinci, semakin banyak gambarnya yang berbeda dari pendahulunya yang klasik. Orang Yunani dan Romawi kuno mempelajari tubuh manusia untuk membayangkan bentuk idealnya. Namun da Vinci ingin menggambarkan subjeknya sebagaimana adanya, sebagaimana alam telah merancangnya.
Filosofi yang saling bertentangan ini berbenturan dalam apa yang kemudian menjadi salah satu karya da Vinci yang paling terkenal: Vitruvian Man. Vitruvia Man adalah karya sains sekaligus karya seni. Karya ini terinspirasi oleh pernyataan yang dibuat oleh arsitek Romawi Vitruvius dalam teksnya De Architectura:
“Sebagaimana bagian-bagian kuil harus saling berhubungan satu sama lain dan dengan keseluruhannya. Pusar secara alamiah terletak di tengah tubuh manusia. Jika pria yang berbaring dengan wajah menghadap ke atas, dan tangan serta kakinya terentang, dari pusarnya sebagai pusat, digambarkan sebuah lingkaran, lingkaran itu akan menyentuh jari tangan dan kakinya.
Tubuh manusia tidak hanya dibatasi oleh sebuah lingkaran, seperti yang dapat dilihat dengan menempatkannya di dalam sebuah persegi. Untuk mengukur dari kaki hingga ubun-ubun kepala, dan kemudian melintasi lengan yang terentang penuh, kita menemukan ukuran terakhir sama dengan yang pertama; sehingga garis-garis yang tegak lurus satu sama lain, yang melingkupi gambar, akan membentuk sebuah persegi.”
Da Vinci bukanlah orang pertama yang menggambar Vitruvian Man. Beberapa seniman Renaisans mencoba mengilustrasikan gambar yang digambarkan Vitruvius. Akan tetapi, masing-masing begitu terjebak dalam mengikuti arahan arsitek yang keliru. Alhasil, “manusia” mereka akhirnya tampak sama sekali tidak seperti manusia.
Penggambaran da Vinci istimewa. Pasalnya, ia mulai dengan menggambar representasi tubuh yang akurat secara anatomis. Kemudian, ia menyesuaikan bentuk persegi dan lingkaran dengan tubuh tersebut, bukan sebaliknya.
Ilmu seni, seni sains
Kualitas yang menjadikan Leonardo da Vinci sebagai ilmuwan yang inovatif tampaknya sama dengan kualitas yang menjadikannya seniman yang inovatif.
Seperti yang diduga oleh sejarawan James Ackerman dalam sebuah artikel:
“Ia adalah seorang protosains dalam pengertian modern tentang apa yang merupakan sains. Da Vinci membawa penyelidikannya terhadap dunia alam tidak hanya imajinasi artistik yang luar biasa. Ia membawanya pada penemuan orisinal yang tak terhitung banyaknya. Selain itu, posisi intelektual yang unik dan istimewa yang membantunya mengatasi hambatan mental orang-orang sezamannya.”
Source | : | Big Think |
Penulis | : | Sysilia Tanhati |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR