Baca Juga: Air Sawah Mendidih di Purbalingga, Apa Penyebab Fenomena Ini?
Akan tetapi, meski sudah lama ada, sungai tersebut belum pernah dipelajari sama sekali oleh para ilmuwan hingga saat ini. Kesempatan ini menjadi peluang terbaik bagi Ruzo untuk berupaya membangun hubungan baik dengan penduduk setempat di daerah tersebut sehingga ia bisa memulai menjalankan studi ilmiah mengenai sungai tersebut.
"Saya pernah melihat sejumlah hewan jatuh, mulai dari burung hingga reptil," kata Ruzo. "Organisme kompleks seperti kita, tidak dapat bertahan hidup dengan suhu setinggi itu. Kita benar-benar bisa memasak tulang."
Berbicara dalam sebuah film dokumenter, yang dirilis pada tahun 2017, ahli geologi itu mengatakan panas udara yang keluar dari sungai begitu kuat sehingga Anda dapat merasakannya membakar hidung dan paru-paru Anda jika berada di dekatnya.
Meskipun tidak ada gunung berapi di dekatnya, panas yang luar biasa dari sungai ini diyakini berasal dari mata air panas yang berasal dari patahan.
Ketika hujan jatuh di daerah sekitarnya, air tersebut terkumpul di batuan sedimen yang berpori. Saat air tersebut bergerak melalui batuan, air tersebut dihangatkan oleh panas inti Bumi.
Akhirnya, air tersebut menemukan patahan atau retakan besar. Saat air jatuh di belakangnya, air yang telah dipanaskan tersebut dipaksa naik di sepanjang garis patahan ke permukaan sebagai mata air panas ataupun hangat.
Para Peneliti Ini Manfaatkan Nyepi untuk Teliti Kebisingan Akustik di Laut, Apa Hasilnya?
Source | : | Dailymail.co.uk,indiatimes |
Penulis | : | Wawan Setiawan |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
KOMENTAR