Suatu ketika, sekelompok masyarakat dari pesisir berjumpa dengan masyarakat Jalawastu. Mereka menganggap bahwa masyarakat adat itu "menyembah gunung" lewat upacara Ngasa.
"Saya, kemudian, tanya ke mereka 'kalian melakukan sedekah laut?', mereka mengangguk. Sedekah laut kan sebenarnya juga ungkapan rasa syukur lewat bersedekah [hasil bumi] ke laut. Laut itu kan lebih dekat dengan mereka. Enggak ada bedanya dengan kami yang punya ikatan dengan gunung," tutur Singgih.
Adat Jalawastu, Leluhur, dan Alam
"Ngasa juga bisa diartikan ngaso, artinya istirahat," kata Dastam, penasehat adat Jalawastu. "Ngasa juga bisa diartikan berdoa kepada Allah agar selalu memberi kemakmuran kepada kita."
Dia melihat relevansi nilai Islam dan ajaran leluhur untuk hidup serba sederhana dan menahan diri, terutama dalam konteks puasa Ramadan. "Leluhur kami, Gurian Panutus, itu ahli tirakat, ahli puasa, tidak makan nasi dari beras dan tidak pula makan makhluk atau hewan yang bernyawa," terang Dastam."[Jalawastu itu] Islami sekali."
Pasarean, tempat Ngasa, adalah kawasan keramat. Pengunjung tidak boleh menggunakan pakaian dan barang dari bahan kulit karena berasal dari makhluk bernyawa. Kawasan harus bersih dari niat-niat buruk, termasuk menghancurkan kehidupan. Itu sebabnya, ada banyak pohon yang dipakaikan kain putih sebagai simbol bahwa kehidupan dan kawasan Pasarean disucikan sebagai Dayeuh Lemah Kaputihan.
"Bahkan jika ada ranting yang jatuh, dibiarkan saja. Biarkan rayap yang memakannya," terang Daryono.
Di tempat yang lebih atas lagi, atau selatan Dukuh Jalawastu, adalah hutan adat yang terbentang seluas 64,8 hektare. Masyarakat adat berhasil mendapatkan hak kepemilikannya pada 2019. Tidak boleh sembarang orang boleh masuk kecuali atas izin juru kunci.
Peraturan adat menetapkan bahwa hanya boleh tanaman yang menghasilkan buah yang ditanam di pohon ini. Pepohonan lainnya tidak boleh ditebang karena akan dianggap menyebabkan malapetaka dari leluhur. Pohon kayu boleh ditebang hanya saat mendesak, seperti mendirikan atau memperbaiki rumah dengan syarat izin dari juru kunci, dan tidak boleh diperjualbelikan.
Bagian paling selatan adalah puncak Gunung Sagara atau Gunung Kumbang. Pemerintah menetapkan kawasan gunung, dari lereng hingga puncaknya, sebagai area perlindungan. Sementara, bagi masyarakat Jalawastu, puncak gunung adalah kawasan yang lebih keramat karena berkaitan dengan asal-usul mereka.
Setelah Ngasa selesai, saya berjalan keluar dari Pasarean Gedong bersama Daryono. Dia menyebutkan bahwa hubungan dengan leluhur adalah yang paling utama. "Kepatuhan pada leluhur adalah dengan ngelakoni perintahnya yang diatur oleh leluhur," terangnya. "Leluhur pasti beri yang terbaik."
Itu sebabnya, setiap kali ada sesuatu kebaruan yang akan memasuki kawasan Jalawastu, memerlukan kegiatan meminta petunjuk kepada leluhur. Sekarang, sudah tersedia beberapa hal 'modern' di dukuh, seperti motor, WiFi, listrik, ponsel, televisi, dan masih banyak lagi.
Tidak semua unsur 'modern' dapat diterima dan larangan bisa muncul setelah suatu bencana bisa terjadi. Sebelumnya, sempat ada warga yang membangun rumah menggunakan semen dan atap dari tanah liat. Tidak lama, longsor melanda masyarakat adat Jalawastu.
Bencana ini menjadi peringatan agar tidak membangun rumah dengan bahan batuan karena dianggap merusak kehidupan. Hal ini, kemudian, menjadikan peraturan adat yang melarang pembangunan berbahan semen dan atap tanah liat.
Sutisna, pengurus bidang hutan adat Jalawastu, mengatakan bahwa dukuh mereka berada di kawasan yang cukup krusial karena berada di antara dua sungai: Cihandeuleum di barat dan Cimendong di timur. Maka, hubungan antara manusia dan alam harus harmoni, termasuk tidak boleh mendirikan bangunan yang merusak alam.
Penulis | : | Afkar Aristoteles Mukhaer |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR