Misalnya, bepergian dengan mobil di jalan yang mulus dan lurus akan menyebabkan lebih sedikit ketidakcocokan sensorik dibandingkan bepergian di jalan yang berkelok-kelok dengan banyak lubang.
Teori ini saat ini dianggap sebagai penjelasan terkuat untuk mabuk perjalanan – meskipun kita masih mencoba memahami mekanisme otak yang menyebabkannya.
Teori alternatif lainnya menyatakan bahwa semuanya bergantung pada pengendalian postur tubuh. Menurut teori ini, mabuk perjalanan tidak terjadi hanya karena ketidaksesuaian informasi sensorik.
Sebaliknya, ketidakmampuan kita untuk menyesuaikan postur tubuh guna mengurangi ketidaksesuaian informasi sensorik inilah yang membuat kita merasa mual. Meskipun ini masuk akal, tidak banyak bukti yang mendukung teori ini.
Mabuk perjalanan memengaruhi orang secara berbeda. Tidak ada alasan tunggal mengapa sebagian orang mengalami mabuk perjalanan lebih sering daripada orang lainnya.
Namun, perbedaan dalam seberapa baik sistem penglihatan dan keseimbangan seseorang bekerja akan memengaruhi perasaan mereka di berbagai jenis kendaraan.
Gangguan tertentu (termasuk migrain dan penyakit telinga bagian dalam, seperti penyakit Meniere) meningkatkan kemungkinan mengalami mabuk perjalanan.
Jenis kendaraan yang digunakan orang untuk bepergian juga akan memengaruhi tingkat mabuk perjalanan yang mungkin dialami seseorang.
Secara umum, faktor apa pun yang meningkatkan ketidaksesuaian antara masing-masing indra yang berkontribusi pada sistem keseimbangan kita akan meningkatkan risiko mabuk perjalanan.
Semakin lama pengalaman tersebut berlangsung dan semakin besar ukuran gerakannya, semakin parah gejalanya.
Misalnya, bepergian dengan perahu kecil di tengah badai selama lebih dari delapan jam akan menyebabkan gejala yang cukup parah, sedangkan perjalanan kereta api selama satu jam mungkin tidak akan banyak berpengaruh.
Baca Juga: Benarkah Seseorang Menjadi Jauh Lebih Jujur Ketika Sedang Mabuk?
Penulis | : | Tatik Ariyani |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR