Studi terhadap 71 orang sehat yang menjalani diet ini selama lima hari berturut-turut dalam tiga siklus menunjukkan penurunan lemak tubuh, berat badan, tekanan darah, kadar glukosa, serta protein C-reaktif—faktor yang berkaitan dengan penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Menariknya, mereka yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini mengalami perbaikan kesehatan paling signifikan.
Pada 2022, Longo dan timnya melaporkan bahwa diet ini juga meningkatkan kesehatan metabolisme pasien kanker prostat, membuka kemungkinan bahwa FMD dapat menjadi terapi pendamping dalam pengobatan kanker.
Kini, Longo tengah menguji diet ini pada 500 orang berusia 30–65 tahun dari Molochio dan sekitarnya untuk membandingkan efek pola makan biasa dengan FMD. Ia berharap penelitian ini dapat membuktikan bahwa memasuki "mode puasa" dapat meningkatkan kesehatan orang dewasa dan memperbaiki kerusakan sel akibat penuaan.
Bagaimana Puasa Bekerja?
Valter Longo memimpin Longevity Institute di University of Southern California serta Longevity and Cancer Program di IFOM Institute of Molecular Oncology di Milan.
Ia menjelaskan bahwa diet meniru puasa (FMD) bekerja terutama dengan mengaktifkan sel induk darah, yang meningkatkan kemampuan tubuh dalam memproduksi sel darah putih untuk melawan infeksi.
Namun, proses ini tidak terjadi selama siklus FMD, melainkan saat seseorang kembali ke pola makan normal. Diet ini juga merangsang proses pembersihan seluler yang disebut autophagy, di mana sel-sel mengonsumsi bagian-bagian yang rusak dan menggantinya dengan komponen yang lebih sehat.
Dalam uji klinis, Longo menemukan bahwa FMD mengubah tubuh dari mode pembakaran gula menjadi mode pembakaran lemak—pada dasarnya, diet ini membantu mengatur ulang metabolisme yang telah terganggu oleh pola makan modern khas dunia Barat.
Studi tentang puasa intermiten menunjukkan efek serupa, yang mungkin menjelaskan mengapa mereka yang memiliki risiko metabolik tinggi, seperti pra-diabetes, mendapatkan manfaat paling besar.
"Saat ini, sekitar 30 uji klinis di seluruh dunia sedang menguji FMD pada pasien dengan kanker, multiple sclerosis, Alzheimer, penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, sindrom iritasi usus, dan hampir semua penyakit kronis yang bisa dibayangkan," kata Longo.
Source | : | National Geographic |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
KOMENTAR