Nationalgeographic.co.id—Bulan memiliki potensi kekayaan mineral yang bisa digunakan manusia. Untuk itulah, beberapa negara tengah berencana untuk melakukan penambangan di bulan.
Program Artemis NASA yang bernilai miliaran dolar bukan hanya akan mengirim astronot kembali ke Bulan, namun mereka juga akan membuka jalan bagi operasi penambangan. China juga memiliki niat serupa. Bahkan, perusahaan-perusahaan swasta pun mulai berlomba-lomba mencari cara untuk mengekstraksi sumber daya bulan.
Melansir Popular Science, sebuah perusahaan rintisan ingin membangun operasi penambangan di bulan untuk mengekstrak isotop langka yang dibutuhkan untuk komputer kuantum dan reaktor fusi nuklir masa depan.
Setelah selesainya misi Blue Ghost milik Firefly Aerospace pada tanggal 16 Maret, era pendaratan bulan milik swasta resmi dimulai. Namun Firefly bukanlah satu-satunya perusahaan swasta yang berhasrat untuk mencapai bulan.
Pada tahun 2027, Interlune bermaksud untuk melakukan perjalanan bulan pertamanya, dengan rencana untuk beberapa perjalanan tambahan jika semuanya berjalan sesuai rencana.
Interlune merupakan perusahaan yang didirikan bersama oleh mantan karyawan Blue Origin dan astronot Apollo 17.
Namun tujuan Interlune tidak sepenuhnya ilmiah. Mereka ingin menambang kemungkinan besar isotop helium-3 di bulan.
Kegunaan helium-3 berasal dari neutron tunggalnya, yang memungkinkannya mendingin hingga suhu yang sangat rendah. Atribut ini membuatnya sangat berguna dalam membangun beberapa jenis komputer kuantum, dan juga dapat berfungsi sebagai bahan bakar dalam reaktor fusi nuklir.
Meskipun helium-4 terdapat dalam jumlah banyak di Bumi, jauh lebih sulit untuk menemukan contoh kerabat neutron tunggalnya yang terdapat di alam. Helium-3 sangat langka di sini sehingga rasio antara kedua isotop tersebut diperkirakan sekitar 1:1 juta bagian helium-4. Menurut Interlune, satu kilogram helium-3 diperkirakan bernilai sekitar AS$20 juta.
Sementara itu, Helium-3 melimpah ruah di tata surya. Matahari pada dasarnya adalah reaktor fusi nuklir raksasa. Matahari memancarkan gumpalan angin surya berenergi tinggi yang mengandung isotop dalam jumlah besar.
Medan magnet bumi kemudian membelokkan sebagian besar angin ini, tetapi mengingat bulan tidak memiliki medan yang sama, helium-3 secara teratur membanjiri permukaannya.
Baca Juga: Temuan Ilmiah: Saturnus Kini Punya 274 Bulan, Bentuknya Tak Biasa?
Penulis | : | Tatik Ariyani |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR