Semua helium-3 itu akhirnya terperangkap sebagai gelembung di dalam bebatuan yang tersebar di seluruh lapisan atas tanah bulan, yang juga dikenal sebagai regolith.
Jika sebuah perusahaan secara hipotetis memanen kantong gas isotop tersebut, mereka dapat memfasilitasi pusat sumber daya baru yang besar untuk beberapa proyek paling maju dan mahal di Bumi.
Interlude bermaksud melakukan hal itu. Perusahaan ini berharap untuk membuktikan bahwa ada cukup cadangan helium-3 di bulan untuk menjamin operasi penambangan bulan skala penuh pertama.
Interlune dibiayai oleh sejumlah investor swasta, dan bahkan menerima hibah sebesar AS$375.000 dari Departemen Energi pada tahun 2024. Pada tanggal 11 Maret selama Konferensi Sains Bulan dan Planet (LPSC) tahunan, kepala ilmuwan perusahaan tersebut menyampaikan informasi terbaru perusahaan: Prospect Moon (Prospek Bulan).
Misi Prospect Moon saat ini dijadwalkan untuk diluncurkan paling cepat tahun 2027. Misi ini bergantung pada kontrak pendarat bulan perusahaan lain melalui program Commercial Lunar Payload Services (CLPS) NASA.
Perencana misi kemudian akan mengemas sistem pengambilan sampel regolith, prosesor mekanis helium-3, spektrometer massa, dan pencitra multispektral ke dalam pendarat untuk dikirim ke wilayah bulan yang saat ini belum ditentukan.
Sesampainya di sana, peralatan Interlune akan mengumpulkan data dan menganalisis sampel regolith, lalu mengirimkan hasilnya kembali ke Bumi.
Namun, meskipun semuanya berjalan lancar selama misi Prospect Moon, itu tidak berarti perusahaan akan terburu-buru untuk memulai penambangan.
Para ahli masih belum yakin berapa banyak helium-3 yang terkandung dalam regolith. Satu-satunya sampel di Bumi datang selama misi Apollo, dan sampel tersebut hanya menunjukkan kadar isotop yang kecil.
Meskipun demikian, ada kemungkinan sebagian cadangan awal terlepas tanpa disadari selama perjalanan pulang, yang berarti kadar helium-3 di bulan mungkin masih cukup tinggi untuk menjamin komersialisasi.
Selain itu juga ada masalah legalitas. Bendera AS memang banyak dikibarkan oleh astronot Apollo di bulan, namun tidak ada negara yang mengklaim yurisdiksi sebenarnya atas bulan.
Baca Juga: Sains di Balik Bulan Darah: Dari Asal Warna 'Darah' sampai Cara Melihatnya
Penulis | : | Tatik Ariyani |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR