Pentingnya Penanganan Dini Terhadap Ide Bunuh Diri pada Remaja

By National Geographic Indonesia, Kamis, 17 Januari 2019 | 11:24 WIB
Ilustrasi depresi pada pada remaja. (RyanKing999/Getty Images/iStockphoto)

Nationalgeographic.co.id - Ita (nama samaran) adalah seorang remaja perempuan 14 tahun yang duduk di kelas tiga sekolah menengah pertama tahun ini. Dua bulan terakhir, dia seringkali tidak mau diajak untuk belajar dalam kelompok. Ita merasa malas dan tidak semangat belajar. Ia lebih banyak termenung dan merasa hampa hampir setiap hari.

Di kelas, Ita menjadi mudah tersinggung, kemudian menangis seorang diri, marah, dan menentang gurunya. Ita merasa teman-temannya menjauhinya dan tidak menyukai dirinya. Dia juga tidak mampu berkonsentrasi dan nafsu makannya menurun drastis. Dalam satu bulan terakhir berat badannya susut tiga kilogram. Ia ingin bercerita kepada teman dan gurunya tapi khawatir mereka menganggap ia gila. Dalam keputusasaan tersebut Ita berpikir lebih baik mati saja karena tidak tahu harus berbuat apa.

Beruntung, Ita tidak jadi bunuh diri.

Baca Juga : Mendadak Tidak Bisa Mendengar Suara Laki-laki, Wanita Ini Alami Kondisi Langka

Kondisi remaja di atas menggambarkan perasaan dan pikiran seorang remaja dengan gangguan depresi yang disertai dengan keinginan bunuh diri. Masalah ini cukup sering dijumpai pada remaja saat ini tapi jarang terdeteksi. Depresi pada remaja perlu mendapatkan perhatian yang serius dari orang tua dan sekolah. Jika terabaikan kondisi tersebut dapat berujung maut. Berita tentang remaja bunuh diri mudah kita temukan di media massa.

Depresi remaja

Penelitian saya dan kolega pada 2018 menunjukkan bahwa 6,82% dari sekitar 2.900 remaja sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Jakarta dan sekitarnya memiliki ide-ide untuk bunuh diri, dan 2,47% di antaranya pernah mencoba tindakan bunuh diri. Belum diketahui secara spesifik rasio antara perempuan dan laki-laki.

Dalam penelitian saya dan kolega yang baru-baru ini dipublikasikan menunjukkan remaja perempuan yang mengalami cyberbullying lebih rentan untuk melukai diri sendiri. Remaja perempuan yang bertindak sebagai pelaku sekaligus korban cyberbullying juga lebih berisiko untuk memikirkan serta berupaya bunuh diri.

Publikasi lain menegaskan bahwa remaja rentan terhadap depresi. Kondisi ini dapat terjadi pada sekitar 5% remaja atau satu dari 20 remaja mengatakan bahwa mereka pernah mengalami paling sedikit satu episode depresi dalam hidup mereka. Situasi tersebut membuat gangguan depresi merupakan salah satu gangguan jiwa yang cukup sering ditemukan pada remaja. Di samping itu, remaja perempuan juga dilaporkan lebih berisiko untuk mengalami gangguan ini dibandingkan dengan remaja laki-laki dengan rasio 2:1.

Namun sayangnya gejala-gejala depresi seperti kehilangan minat, perasaan sedih yang berkelanjutan dan keluhan-keluhan fisik seringkali kali dipikirkan sebagai gangguan fisik sehingga diagnosis depresi seringkali terlambat dilakukan.

Di Indonesia, belum ada data nasional mengenai angka kejadian depresi pada remaja. Data ini penting karena depresi meningkatkan risiko remaja untuk bunuh diri.

Depresi pada remaja juga bisa berdampak buruk terhadap fungsi sehari-hari seperti belajar serta meningkatkan risiko untuk menyalahgunakan obat. Ini mungkin terjadi karena kemampuan remaja untuk membuat keputusan seringkali terganggu.