Pesan Teladan Kemajemukan Budaya dari Metropolitan Majapahit

By Mahandis Yoanata Thamrin, Selasa, 25 Juni 2019 | 18:07 WIB
Pengorbanan Sutasoma, lukisan karya I Made Soekaria pada 1937, periode Pitamaha. Media tinta di atas kertas. (Soemantri Widagdo, kurator Museum Puri Lukisan/Wikimedia Commons)

Nationalgeographic.co.id— “Kalau peta kita ditempelkan ke peta Eropa, besarnya hampir sama,” ujar Budi Prasetyo. “Itu patut disyukuri, kita masih menjadi negara kesatuan.”

Budi merupakan Direktur Ketahanan Seni, Budaya, Agama dan Kemasyarakatan di Kementerian Dalam Negeri.  Dia memberikan contoh negara besar yang terpecah-pecah, yakni Eropa yang kini terdiri atas 28 negara. “Eropa itu rindu bersatu,” demikian ungkapnya, “berawal dari runtuhnya tembok Berlin hingga munculnya mata uang Euro.”

Para pendiri bangsa, demikian kata Budi, telah menyadari keanekaragaman budaya di banyak kehidupan yang serba primordial dan sensitif—yang juga menjadi masalah krusial.

Mereka mencari pemecahan masalah tersebut lewat konsep menegakkan dan menyatukan kesamaan dalam “kesatuan” dan mengakui perbedaan dalam kehidupan yang saling menghormati dalam “persatuan”.

Jauh sebelum negara ini berdiri, seorang pemikir dan pujangga pada akhir zaman klasik telah mencoba menyadari dan memaknai keberagaman. Budi mengungkapkan, kemajemukan telah menginspirasi lahirnya konsep pluralisme oleh Mpu Tantular.  “Bhinneka Tunggal Ika”, untaian kata berbahasa Jawa kuno, dipetik dari kakawin gubahannya yang bertajuk Sutasoma, salah satu karya agung pada keemasan zaman Majapahit, abad ke-14. Sejak Republik Indonesia berdiri, untaian kata tersebut menghias lambang negara sebagai semboyan atas kemajemukan bangsa.

Baca juga: Santapan dari Metropolitan Majapahit

Hiasan emas dari masa Majapahit yang menggambarkan Sutasoma digendong Raja Kalmasapada, sang pemakan manusia. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons)

 

Kakawin ini berkisah tentang seorang tokoh rekaan bernama Pangeran Sutasoma. Kisah ini memberikan teladan dalam toleransi antaragama di Majapahit kala itu, Hindu-Siwa dan Buddha. Karya sohor ini terdiri atas 148 pupuh. Berikut pupuh 139 pada bait kelima :

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa / Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen / Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal / Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Artinya: Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda / Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? / Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal / Berbeda-beda manunggal menjadi satu, tidak ada kebenaran yang mendua.

Pada intinya, Mpu Tantular ingin menyampaikan bahwa keragaman dalam berkeyakinan seyogianya tidak melahirkan suatu pertentangan atau kebencian. Justru dari keragaman itulah kesatuan tercipta pada tingkat tertinggi.

“Perbedaan harus dipahami, itulah Indonesia,” ujar Budi. “Kalau tidak dipahami akan menimbulkan kebencian.” Melemahnya pemahaman budaya menimbulkan munculnya ormas primordial yang menyulut perpecahan atas nama agama.

“Kalau kita bikin voting, hasilnya barangkali bangsa yang berbahasa Jawa dan berideologi Islam,” Budi memberikan kiasan. “Namun, nenek moyang kita visioner, punya visi ke depan. Jadi bukan itu yang mereka cari.”

Budi hadir sebagai salah satu pembicara dalam Lokakarya World Royal Heritage Festival pada 13 Desember 2014. Dalam acara tersebut dia mengungkapkan keragaman budaya dan suku bangsa di negeri ini. Setidaknya Indonesia memiliki sekitar 450 suku bangsa. Sejumlah 450 bahasa dan dialek, pun belum termasuk 250 dialek di Papua. Belum lagi ditambah perbedaan sosial dan kelas kesejahteraan yang mempertajam perbedaan antarsuku.

“Indonesia itu palugada. Apa yang lu minta, gua ada.”

(Artikel ini pernah terbit di laman National Geographic Indonesia pada 17 Desember 2014)

Baca juga: Menyusuri Majapahit dengan Panduan Peta National Geographic Indonesia