Larung Sembonyo, Cara Adat Nelayan Trenggalek Ucapkan Syukur

By Mahmud Zulfikar, Senin, 29 Juli 2019 | 11:53 WIB
larung Sembonyo di Trenggalek (Tribun Jatim)

Nationalgeographic.co.id - Laut adalah sumber rezeki bagi para nelayan dan warga pesisir. Bertahun-tahun warga bergantung hidup pada kekayaan bahari.

Larung adalah cara masyarakat pesisir ucapkan syukur kepada laut. Tradisi ini sudah dilakukan sejak beberapa waktu silam.

Larung Sembonyo di pesisir selatan Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur salah satunya.

Larung dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V berartikan peti mayat yang tidak berdasar. Pada tradisi ini, arti larung berarti menghanyutkan. Makna peti ini digantikan dengan tumpeng raksasa.

Baca Juga: Tradisi Suku Bugis, Dua Pemuda Selesaikan Masalah dengan Badik dan Dikurung dalam Satu Sarung

Warga melarungkan tumpeng raksasa ke tengah laut untuk kemudian diperebutkan oleh ratusan warga.

Acara ini diselenggarakan setahun sekali, pada bulan Selo penanggalan Jawa.

Dikutip dari Kompas.com, tradisi Sembonyo ini sudah berjalan sekitar dua dasawarsa, sebagai wujud rasa syukur dan mengenang jasa para leluhur,” ujar Ketua Panitia Larung Sembonyo Nurkawit, Rabu (24/7/2019).

Tradisi Larung Sembonyo dimulai dari arak-arakan tumpeng raksasa dari Kecamatan Watulimo menuju pantai.

Baca Juga: Seperti Apa Sejarah Tradisi Ziarah Saat Lebaran dan Bagaimana Manfaatnya?

Sepanjang jalur arak-arakan, ribuan warga menonton, layaknya sebuah festival kesenian.

Setiba di pantai, tumpeng raksasa di letakan di atas pelampung yang terbuat dari pelepah pisan dan kayu untuk kemudian dibawa ke tengah laut.