Asal Mula Astrologi, Kenapa Ramalannya Terasa Relevan untuk Kita?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Minggu, 11 Juli 2021 | 12:00 WIB
Ilustrasi: Konstelasi bintang (Gloria Samantha)

 

Sedangkan di Timur, dunia astrologi Tionghoa juga muncul sejak era Dinasti Shang (1600 SM-1046 SM) lewat 12 Shio. Keduabelas Shio ini berlangsung dalam satu siklus yang membutuhkan waktu 60 tahun.

Shio Tionghoa masih digunakan sampai saat ini, bahkan popularitasnya berdampak pada angka kelahiran. Misalnya, tahun 2010 atau tahun harimau merupakan tahun yang buruk untuk melahirkan. 

Akibatnya, berdasarkan data statistik pemerintah Taiwan, angka kelahiran menjadi menurun dari tahun lainnya.

Kemudian pada akhir abad ke-5 SM, para astronom Babilonia mengembangkan astrologi Mesopotamia menjadi 12 zodiak. Zodiak ini berurut dalam kalender bulanan dengan durasi 30 hari.

Mereka membuat konstelasi berdasarkan posisi matahari berada saat seseorang lahir, atau disebut sun sign.

Baca Juga: Dahulu Dianggap Buruk, Bagaimana Festival Peh Cun Dirayakan Meriah?

Momen perayaan Imlek di kawasan Klenteng Boen Tek Bio, Tangerang, yang menjadi tahun baru dalam kalender Tionghoa. (Lutfi Fauziah)

Melalui pencatatan, bertambah pula unsur berdasarkan moon sign (posisi bulan), dan waktu—saat matahari sedang terbit atau tenggelam saat seseorang lahir. Diagram 12 zodiak itu berdasarakan area-area yang berbeda, termasuk posisi planet, dan sudutnya, akan berpengaruh pada kita, menurut astrologi yang kini masih dipakai.

Namun pada saat itu, astronomi kuno masih menganggap Bumi adalah pusat semesta, sehingga ilmu astrologi adalah interpretasi pengaruhnya kepada kita. Maka saat itu, astronomi dan astrologi saling terhubung.