Asal Mula Astrologi, Kenapa Ramalannya Terasa Relevan untuk Kita?

By Afkar Aristoteles Mukhaer, Minggu, 11 Juli 2021 | 12:00 WIB
Ilustrasi: Konstelasi bintang (Gloria Samantha)

 

Antara sains dan pseudosains

Salah satu astronom-astrolog yang menyebarkan pengaruhnya adalah Claudius Ptolameus (90-168 M) lewat karyanya, Tetrabiblos (empat buku). Buku ini menjadi sangat penting dalam sejarah pemetaan kecepatan dan rotasi secara akurat.

"[Buku] Itu cara orang menghitung kalender selama 1.500 tahun. Itu sangat akurat. Itu dibuat dengan indah." Joan L. Richrads, sejarawan bidang ilmu pengetahuan dari Brown University, dikutip dari Vox.

"Dia tidak membagi dunia antara sains dan bukan sains. Dunia yang dibuat Ptolameus adalah dunia tempat astrologi masuk akal". Pengetahuan Ptolameus pun terseber di Yunani, Timur Tengah, Mesir, hingga India.

 

Baca Juga: Mengapa Dulu Ramalan Bintang Digunakan untuk Usir Setan?

Claudius Ptolemeus adalah seorang astronom, astrolog, dan ahli geografi. Karyanya terkait astrologi mempengaruhi para astrolog Barat hingga kini. (Wikimedia)

Menjelang masa renaisans, astrologi dan astronomi mulai terpisah untuk selamanya, semenjak Nicholas Copernicus dan Galileo Galilei menemukan bahwa Bumi bukanlah pusat semesta.

Jarak itu makin menjauh seiring metode dan sistem ilmiah digunakan, dan menghasilkan banyak temuan saintifik seperti gravitasi, ujar Richards. Astronomi diterima karena dapat dilacak dalam ragam penelitian. Sedangkan interpretasi maupun ramalan lewat astrologi termasuk pseudosains (ilmu semu atau tidak ilmiah).

Kendati demikian, mengapa masih banyak yang mempercayai astrologi dan dimunculkan di media cetak maupun elektronik?