Mantra si Mandraguna

By , Selasa, 27 November 2012 | 18:16 WIB

Matanya penuh rasa takut (atau sakit?), dan napasnya tersengal. Istrinya, Chimgee—wanita mungil tapi kuat, dalam del biru abu-abu dan kain kepala hijau—menghampirinya dan menaruh rokok menyala ke dalam mulutnya. Masih gemetar, Nergui mengunyah rokok itu, termasuk ujung yang menyala, lalu menelannya.

Akhirnya Nergui tenang kembali. Dia ditawari rokok lagi, yang kali ini diisapnya. Chimgee tersenyum kepada suaminya. “Apakah perjalananmu baik, sayang?”!break!

Kata “shaman” (dukun) berasal dari suku Evenki, suku di Siberia. Tetapi, dukun terdapat di hampir setiap sudut bumi—termasuk di pusat-pusat dukun sekarang di London, Boston, dan banyak kota Barat lain. Dukun me­yakini bahwa roh gaib memenuhi dunia di sekeliling kita, memengaruhi kita, dan mengatur nasib kita.

Kadang berperan sebagai dokter, pemimpin agama, orang pintar, psi­kolog, tetua desa, peramal, dan penyair, dukun adalah negosiator terpilih untuk alam gaib ini, dan mereka menempati posisi terhormat dalam masyarakatnya.

Tidak ada definisi pasti untuk perdukunan. “Lebih tepat kita menyebutnya ‘berbagai bentuk perdukunan,’ tidak hanya satu,” kata Marjorie Mandelstam Balzer, antropolog di Georgetown University di Washington, D.C. Katanya, keyakinan, praktik, dan ritualnya berbeda-beda untuk setiap orang, karena jalan untuk menjadi dukun sangatlah khas orang per orang.

Namun, memang ada kemiripannya: Trance penuh ekstase, atau kadang disebut per­jalanan jiwa, adalah fenomena ciri khas per­dukunan. Tetapi, cara dukun menggunakan alat dan wawasan spiritualnya sangatlah be­ragam, demikian pula tujuan akhir ritual itu.

Banyak dukun bekerja sendirian, sementara ada yang mengikuti organisasi kota yang besar, yang berperan sebagai serikat buruh; Pusat Kajian Perdukunan Golomt di Ulanbator meng­klaim memiliki sekitar 10.000 anggota. Sebagian besar dukun di negara-negara Asia Tengah, seperti Kyrgyzstan dan Kazakhstan, yang didominasi Islam, memandang diri se­bagai Muslim taat, dan ritualnya me­ngandung tradisi mistis Sufisme.

Berbalut jubah putih suci, mereka melakukan ritual di tempat keramat Muslim, dan setiap upacara mengandung doa panjang dari Alquran. Di Siberia dan Mongolia, perdukunan berbaur dengan tradisi Buddha setempat.

Di Ulanbator saya bertemu dengan seorang dukun, Zorigtbaatar Banzar—pria bertubuh besar dan bermata tajam, seperti tokoh Falstaff dalam drama Shakespeare—yang membentuk lembaga keagamaan sendiri: Pusat Perdukunan dan Pengalaman Surgawi Abadi, yang mempersatukan perdukunan dengan agama-agama dunia.

Pada setiap hari Kamis di ger miliknya (tenda adat Mongolia) di jalan yang disesaki asap buangan mobil di dekat pusat kota, Zorigtbaatar mengadakan upacara yang mirip dengan kebaktian gereja, dengan puluhan pengikut yang menyimak khotbahnya yang sering melantur.!break!

Usai Nergui pulih dari trance, dia membuka sebotol vodka yang saya bawakan sebagai hadiah, dan menuangkan sedikit ke cangkir ceper untuk semua orang. Saya menerima cangkir itu dengan tangan kanan—menerima apa pun dengan tangan kiri bisa dianggap penghinaan besar—dan sebelum minum, saya mempersembahkannya kepada roh ke tiga arah.

Saya mencelupkan jari sedikit ke dalam minuman itu, memercikkan beberapa tetes ke udara, lalu ke tanah, dan akhirnya mengoleskannya pada kening saya. Perdukunan adalah bawaan lahir, kata Ner­gui, sambil meneguk vodka agak banyak. Kita tidak bisa tiba-tiba memutuskan ingin menjadi dukun—kita harus dipilih oleh roh.