Corong Candu di Tepian Jawa

By , Jumat, 29 Januari 2016 | 09:00 WIB

Gandor menambahkan, klenteng juga menjadi tempat manusia-manusia multikultur bertemu. Hal itu terlihat jelas di Cu An Kiong. Beragam wisatawan yang bertandang untuk menyaksikan kemegahan klenteng itu. “Akulturasi dan asimilasi telah menjadi bagian dari pecinan dan masyarakat Lasem, Non,” ujarnya. “Tidak ada masalah hubungan warga di sini, kecuali kalau dipolitisir.”

Sejarah mencatat hubungan harmonis antaretnis di Lasem. Orang Cina pada masa awal kedatangannya telah memperkenalkan teknik pertanian ladang garam, tehnik pembuatan furnitur, tehnik membatik dan motif Cina pada batik Lasem. Demikian pula tercatat kontribusi orang Cina di Lasem pada masa perang Cina-Jawa melawan VOC 1740-1743. Sebaliknya pengaruh Jawa dan Islam pun tampak melebur dengan kepribadian orang Cina Lasem. Warga pecinan telah terbiasa berbusana kain dan kebaya, mereka juga pecinta kesenian Jawa—terutama tari dan gamelan—bahkan sampai saat ini gamelan masih digunakan pada perayaan-perayaan religius di klenteng. Belum lagi kisah Sunan Bonang dan putri Campa yang melegenda. Tak hanya itu, harmoni hidup berdampingan antarkeyakinan pun menjadi ciri khas Pecinan Lasem. Hubungan para santri Pesantren Kauman Karangturi yang diasuh oleh Gus Zaim dengan warga pecinan  sangat baik. Mereka saling menghormati, hidup berdampingan dan saling mendukung.

!break!

Suatu siang yang membara, saya mendatangi kediaman Zaim Ahmad Ma’shoem, atau yang beken disapa Gus Zaim, di Karangturi. Dia merupakan salah satu pemrakarsa konsep kerukunan hidup beragama di Lasem. Rumahnya berlanggam Cina dengan beranda luas. Sepasang pintu kayu tua warna hijau bertulis empat aksara Cina yang bermakna sehat, damai, sejahtera, dan panjang umur.

Kemudian, seorang laki-laki berbaju koko warna putih dan mengenakan sarung tengah berjalan keluar dengan senyuman. Kami duduk lesehan di teras sambil mengudap kue kering dan menyesap segelas teh manis. Tanpa basa-basi kami terlibat obrolan hangat seputar Pecinan Karangturi dan kegiatan Pondok Pesantren Al Hidayat yang berdiri tahun 1916.

Gus Zaim mengatakan dia membeli rumah Cina ini sekitar 15 tahun silam. Awalnya hanya untuk rumah tinggal, namun sebuah pesantren berdiri tanpa direncanakan. Pesantren Kauman miliknya berada di jantung pecinan. Kini, Gus Zaim memiliki anak didik sekitar 170 santri.

Dia merupakan putra K.H. Ahmad Syakir, dan cucu dari K.H. Mashoem Ahmad. Sang kakek juga pendiri Jam’iyyah Nahdatul Ulama bersama K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Hasyim Asy’ari.

Tiba-tiba fotografer Feri Latief bertanya, “Gus, santri di sini ada yang turunan Cina?”

“Saya rasa ada ya,” ujar Gus Zaim. “Tapi, yang jelas pengasuhnya ada.”

Saya menyambung, “Ada, Gus?”

“Ya, saya,” ujar Gus Zaim terkekeh.

 “Tradisi Islam di sini panjang,” ujarnya. “Kita menghargai tradisi klenteng dan Konghucu, saling menghormati lah.” Dia bercerita kepada saya, awalnya para pendatang asal Cina yang singgah dan bermukim di Lasem adalah laki-laki. Kemudian mereka berbaur dan kawin-mawin dengan perempuan Jawa. Leluhurnya yang bernama Ajrumi bin Mazid—lima generasi di atas Gus Zaim—menikahi perempuan Cina bermarga Oei. “Ini pluralitas ini di Lasem,” kata Gus Zaim. “Pluralitas itu melahirkan toleransi.”

Kemudian Gus Zaim melanjutkan, “Sampai kapan kita bicara tentang Cina, Arab, India, Jawa? Semua orang Indonesia! Saya juga turunan Cina. Belahlah dada orang-orang Cina Lasem, pasti banyak mengalir darah Jawa. Ini waktunya kita membawa Lasem menjadi kota yang lebih baik,” ujarnya.