Corong Candu di Tepian Jawa

By , Jumat, 29 Januari 2016 | 09:00 WIB

Lasem, sebuah kota kecamatan bagian dari Kabupaten Rembang di pesisir pantai utara, berjarak 12 km dari kota Rembang. Kota ini memiliki luas wilayah 4.504 hektare dan dilalui oleh Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa pemerintahan Daendels (1808-1811). Berkat jalan raya itu pula Lasem berkembang. Belakangan, kota ini mendapat aneka julukan mulai dari kota batik, kota santri, kota tua, kota pusaka, hingga Tiongkok Kecil dan Beijing Kecil.

Julukan Petit Chinois atau Tiongkok Kecil telanjur mendunia. Claudine Salmon dalam Chinese Epigraphic Materials in Indonesia yang terbit pada 1997 menyebut bahwa julukan ini muncul dari para wisatawan yang terpana menyaksikan kota berlanskap bangunan kuno seperti di daerah Fujian selatan.

Sejatinya julukan Tiongkok kecil mungkin kurang pas dengan Lasem. Deretan rumah-rumah tua yang tersisa bukan berarsitektur asal Cina, melainkan kental nuansa Hindia. Namun, hal yang mengingatkan orang pada daerah Fujian tampaknya tembok keliling rumah dan pintu gerbangnya. Julukan itu sah-sah saja karena diberikan oleh para pelancong, kemudian dilegitimasi oleh ilmuwan dan pers.

Saya bertanya langsung kepada warga setempat. Umumnya mereka tidak setuju dengan sebutan itu, bahkan awalnya menentangnya. Kendati demikian, mereka saling menghormati dan menghargai julukan Tiongkok Kecil. Semuanya sepakat bahwa lasem adalah kota pusaka.

Bagi saya, keistimewaan wilayah Pecinan Lasem terasa berbeda dari banyak pecinan Nusantara yang pernah saya kunjungi. Kampung Lasem tampak tertutup tembok tinggi dan berpintu khas Cina. Tidak ada rumah toko berlanggam bangunan Cina tradisional seperti yang ada di pecinan-pecinan Nusantara pada umumnya. Hanya tampak rumah-rumah berarsitektur Cina-Hindia nan megah berdiri di atas tanah seluas tiga kali lapangan basket. Saya dapat membayangkan semua kemegahan itu dibangun oleh orang-orang berharta pada masanya. Sungguh, betapa sohornya nama Lasem.

Lasem pernah tercatat dalam beberapa naskah kuno Jawa: Nagarakretagama (1365), kitab Badrasanti (1479), dan Pararaton (1600). Tak hanya dalam naskah kuno Jawa, toponimi Lasem pun tercatat dalam kronik Cina. Nama Lasem muncul pertama kalinya dalam catatan Cina pada 1304, berjudul Da De Nan Hai Zhi (Catatan Laut Selatan) tulisan Chen Da Zhen. Dia menyebut Lasem dengan Luo Xin. Dalam kronik berjudul Shun Feng Xiang Song (Perjalanan Bersama Angin), ditulis tahun 1403-1424 muncul nama Na Can (Shan) alih-alih Lasem. Kemudian dalam kronik Xi Yang Zhao Gong Dian Lu (Catatan tentang Upeti dari Samudra Barat) yang terbit pada 1520, Lasem disebut dengan Na Can yang ditengarai sebagai daerah pegunungan. Sebuah kronik yang terbit pada 1617 berjudul Dong Xi Yang Kao (Telisik Samudra Barat dan Timur) tulisan Zhang Xie tersurat nama tempat Na Can dan (Hu) Jiao Shan (Gunung Hu Jiao) yang diduga sebagai Gunung Lasem. Baru sekitar abad ke-19, nama Lasem dikenal dengan sebutan La Shen.

Tercatatnya nama Lasem dalam kronik Cina lintas abad seakan membuktikan bahwa Lasem menjadi tujuan dan tempat favorit para perantau asal negeri tirai bambu. Beratus tahun lalu orang-orang Cina berlayar dengan jung-jung menuju Nusantara dengan aneka misi—ekspedisi, mencari penghidupan yang lebih baik, melarikan diri dari bencana alam dan kisruh politik, berdagang dan lainnya. Di Lasem, mereka mendarat di pelabuhan tua yang sudah tiada, pantai Caruban dan membangun pemukiman. Sempat gundah melanda benak saya, dari mana asal daerah orang-orang Cina itu? Tiada keterangan pasti dari mana saja mereka berasal. Secara umum para peneliti seperti Borel, Ong Eng Die, Reid, Salmon, Wang Gong Wu, dan lainnya menyebutkan bahwa orang Cina di Nusantara berasal dari pesisir pantai selatan Cina, Fujian dan Guangdong.

Kegundahan itu terjawab ketika saya melakukan perjalanan menyelisik permakaman Cina lawas yang tersebar di seantero Lasem. Saya menemukan desa-desa asal mereka. Sebagian catatan saya menyebut Xi Tou, Qing Jiao, Hu Shan, Long Tian, Yun Yin, Qi Lin, Dai Bi, Xi He, Deng Ke, Tian Bao, Jiang Xia, Gu Lou, Xing Qing, Nan Jing, Shang Dian, Xing Qing, Qing Shan, Tai Ping dan lainnya. Ternyata, nenek moyang orang Cina Lasem datang dari berbagai daerah. Tak hanya Guangdong dan Fujian, namun juga daerah bagian tengah daratan Cina! Beberapa kampung merupakan bagian dari beragam provinsi yaitu Hunan, An Hui, He Nan, Shandong, dan Shanxi. Walau tak banyak, nama kampung yang menjadi bagian dari provinsi tersebut telah terpahat di beberapa bong yang tersebar di Lasem.

Lasem tampak menua dalam kekinian. Saat ini nadi kota tua yang menaungi lebih dari 48.000 orang itu seakan berdenyut lamban terutama di kawasan Pecinan Lasem. Waktu seolah berhenti, saat kami berkeliling Desa Karangturi untuk mencari segelas kopi lelet dan sarapan pagi sembari menyapa penghuni Karangturi. Kami menyisir gang-gang bertepi pagar tinggi sembari merasakan suasana layaknya dalam film Once Upon a Time in China-nya Jet Li. Kami menjumpai keriaan anak sekolah, pekerja yang mengayuh sepeda onthel, dan delman yang mengantar penumpangnya melintas gang dan mengupas kesunyian. Juga, warga-warga sepuh di Lasem yang setiap pagi duduk termangu di depan pintu pagar rumah tua mereka.

Baskoro, pemuda lajang berusia 39 tahun yang akrab disapa dengan Pop, menemani kami berjalan-jalan di pecinan ini. Saya mengajak Pop karena dia merupakan seorang penggiat pusaka Rembang dan Lasem.

Pop berkata kepada saya bahwa sebagian besar rumah tua itu hanya dihuni oleh penjaga rumah yang telah berulang warsa merawat rumah tersebut. Dari obrolan bersama mereka saya mengetahui bahwa generasi muda Pecinan Lasem banyak yang tersebar di kota-kota besar, bahkan di luar negeri. Bukan tak cinta, bukan pula tak sayang. Mereka mengejar mimpinya hingga meninggalkan Lasem. Selepas tercapai tujuan, sebagian dari mereka membangun Lasem dari jauh dengan berbagai cara. Di Jakarta, keturunan-keturunan asal Lasem mendirikan Pawala (Paguyuban Warga Lasem).

Lusinan bangunan tua berlanggam campuran Cina dan Hindia tampak rengsa dimakan usia. Segelintir orang Lasem yang berjuang merawat bangunan tua miliknya. Seperti, Boen Hong yang mengonservasi rumah Lawang Ombo sebagai warisan leluhurnya dan sederet rumah gaya Hindia lainnya, Gus Zaim yang turut melestarikan bangunan bergaya Cina-Hindia di Karangturi dan Gambiran, serta Rudy Hartono yang berupaya merawat bangunan berlanggam Hindia dengan sederet pilar anggunnya di Karangturi. Belakangan Rudy memberi nama Tiongkok Kecil Heritage. Tentunya, melestarikan rumah tua berarti menggelontorkan dana yang tidak sedikit.