Setelah sempat melarikan dari penjara, ia mencari perlindungan kepada Kerajaan Inggris. Mary meminta ratu dari Kerajaan Inggris untuk memberikan suaka kepadanya.
Ratu Inggris, menggunakan keterampilan politik yang cukup besar, mengutip serangkaian alasan yang berhubungan dengan pembunuhan Darnley untuk menahan Mary di beberapa kastel Inggris selama 18 tahun.
Atas kematian Henry dan sejumlah sepak terjangnya yang meresahkan, ia dikutuk untuk diadili oleh mahkamah Kerajaan Inggris. Ratu yang terkutuk itu mendekati panggung, tempat dia dijadwalkan untuk dieksekusi mati.
Mencapai peron, ratu berusia 44 tahun itu diarahkan untuk duduk di kursi. Melihat ke Aula Besar Kastel Fotheringhay, dia melihat orang banyak berkumpul untuk menyaksikan kematiannya.
Lebih dari 100 orang terperanjat ketika eksekusi kematian akan jadi tontonan secara langsung. Mata Mary telah bertemu dengan kapak bertudung yang ditutupi kain serba hitam, instrumen eksekusi yang tergeletak di lantai dekatnya.
"Surat perintah untuk mengeksekusi Mary, mulai dibacakan, ditandatangani oleh sepupunya, Ratu Inggris Elizabeth I. Akhir dari kehidupan yang penuh gejolak mendekat dengan cepat pada pagi yang dingin di bulan Februari," tambah Farquhar.
Menurut Farquhar, "ini akan menjadi eksekusi yang belum pernah terjadi sebelumnya." Pemenggalan kepala Ratu Mary dari Skotlandia akan menjadi eksekusi legal pertama dalam tatanan monarki di Eropa.
"Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, aku mempercayakan jiwaku," bisik Mary dalam bahasa Latin, melihat algojo saat mengangkat kapaknya dan mengayunkannya. Itu mengerikan, mengingat ayunan pertama algojo meleset dan hanya mengenai rambut Mary.
"Ya Tuhan," teriakan terakhir yang keluar dari mulut Mary. Ia terdengar mengerang pelan saat kapak itu diangkat lagi. Kali ini, kapak itu berhasil membelah leher dan hampir memotong leher dari tubuhnya.
Marah dan jengkel karena kepala Mary belum terpenggal sepenuhnya, sang algojo menggergaji daging tersisa yang mengikat kepala dan leher. Kepala Mary menggelinding, sementara tubuhnya terjatuh berlumuran berdarah.
"Tuhan selamatkan Ratu Elizabeth," teriak algojo sambil memegangi kepala yang terpenggal dengan rambut dan mengangkatnya ke kerumunan. Penonton tersentak, melihat kepala berambut, menghadap mereka dengan bibir yang masih bergerak.
Setelah menggelindingkan kepala Mary, algojo mengangkat gaun ratu untuk melepaskan garternya, tetapi terkejut ketika seekor anjing kecil muncul dari lipatannya. Hewan peliharaan Mary, Geddon, bersembunyi di balik gaun itu.
Geddon melolong karena rasa putus asanya, berputar-putar mengelilingi tubuh Mary yang berlumuran darah tanpa kepala. Nasib Geddon selanjutnya tidak lagi tercatat dalam sejarah.
Kepala Mary dipajang di atas bantal beludru di depan jendela yang terbuka di Kastel Fotheringhay. Salibnya, buku doa, pakaian berlumuran darah, balok eksekusi, dan apa pun yang disentuhnya dibawa ke halaman dan dibakar, melenyapkan semua jejak Maria, Ratu Skotlandia.
Hutan Mikro Ala Jepang, Solusi Atasi Deforestasi yang Masih Saja Sulit Dibendung?
Source | : | The Washington Post |
Penulis | : | Galih Pranata |
Editor | : | Warsono |
KOMENTAR