Oleh Fadli Zon, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia
Nationalgeographic.co.id—Sebagai negeri yang kaya akan keberagaman budaya, tradisi, dan kearifan lokal, Indonesia memiliki berbagai potensi untuk dapat berkontribusi dalam membangun ketahanan sosial global dengan berdasarkan pada kearifan lokal yang berakar dari desa.
Sejumlah 230 desa budaya yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi manifestasi dari berbagai potensi ini. Desa merupakan akar dari identitas bangsa. Dari desa, kita menemukan kekayaan budaya yang mencerminkan keberagaman, kreativitas, dan semangat gotong royong masyarakat Indonesia. Mulai dari tradisi lisan, seni pertunjukan, adat istiadat, ritual keagamaan, hingga kearifan lokal dalam menjaga lingkungan, semuanya merupakan kekayaan yang harus dijaga dan dikembangkan.
Melalui dibentuknya Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Bapak Presiden Prabowo Subianto berkomitmen untuk memajukan kebudayaan nasional, termasuk di dalamnya melindungi, mengembangkan, memanfaatkan, dan membina kebudayaan nasional yang sangat beragam, dengan tujuan utama yakni meningkatkan harkat dan martabat bangsa, memperkuat jati diri dan kepribadian bangsa, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Pemajuan kebudayaan desa merupakan salah satu prioritas Kementerian Kebudayaan sebagai upaya membangun desa mandiri melalui peningkatan ketahanan budaya dan kontribusi budaya desa di tengah peradaban dunia sebagaimana diamanatkan konstitusi, Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32, bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.
Undang-Undang Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan selanjutnya menjadi dasar dalam berbagai upaya pemajuan desa, yang bertujuan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa, memperkaya keberagaman budaya, melestarikan budaya bangsa, dan mempengaruhi arah perkembangan peradaban dunia, sehingga kebudayaan menjadi haluan pembangunan nasional.
Selain itu, selaras dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa, pemajuan kebudayaan desa menitikberatkan pada peran seluruh pihak, khususnya masyarakat desa, yang merupakan subjek kebudayaan yang memiliki kewenangan untuk mengelola dan mengurus pemajuan kebudayaan desa secara mandiri.
Saya percaya bahwa dengan berbagai potensi yang dimiliki, desa berkontribusi secara nyata dalam merespon berbagai tantangan global, khususnya terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yang merupakan agenda global yang terdiri dari 17 tujuan dan 169 target yang dirancang untuk menciptakan dunia yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Dalam konteks ini, desa budaya memiliki peran strategis sebagai penggerak dalam pencapaian TPB melalui pelestarian nilai-nilai lokal yang berpadu dengan inovasi global, untuk berkontribusi pada upaya pengendalian perubahan iklim, pelestarian ekosistem berkelanjutan, dan pertumbuhan berkelanjutan yang menitikberatkan pada keseimbangan lingkungan, ekonomi, dan sosial.
Berbagai narasi mengenai ketangguhan dan kemandirian desa budaya yang disampaikan dalam edisi khusus National Geographic Indonesia "Desa Merawat Warisan Dunia" mengisahkan antara lain sejarah perjuangan masyarakat Kayu Tanam dan Lubuk Alung yang diingat dalam setiap harmoni ketukan gandang tabua tasa, kelindan persaudaraan dalam racikan jejamuan di desa Nguter, pemuliaan terhadap air yang merupakan narasi untuk melestarikan alam di Bali, keindahan batik di Desa Pungsari Sangiran yang terinspirasi oleh temuan arkeologi kehidupan ratusan ribu warsa silam, dan jejak kejayaan maritim bangsa Indonesia yang terlihat dari jejak sejarah Pinisi Nusantara di Desa Ara Bulukumba yang tentu saja bukan hanya jejak sejarah, namun kisah berharga yang menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dan mendatang.
Saya mengapresiasi terbitnya edisi khusus Natilonal Geographic Indonesia "Desa Merawat Warisan Dunia" ini sebagai wujud nyata kolaborasi dan kerjasama dalam mengapresiasi, melestarikan, dan memperkuat posisi desa-desa yang menjadikan kebudayaan sebagai energi positif yang menggerakkan seluruh aspek kehidupan masyarakat di sekitarnya dan berkontribusi menjawab berbagai tantangan global.
Terinspirasi 'Princess Mononoke', Spesies Ikan Baru Ini Punya Nama Unik, Penuh Makna
Penulis | : | National Geographic Indonesia |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR