Nationalgeographic.co.id—Banyak orang berpikir bahwa berhenti minum alkohol hanya berdampak pada kebiasaan sosial, tetapi sebenarnya, perubahan yang terjadi dalam tubuh jauh lebih mendalam.
Dari peningkatan kualitas tidur hingga penurunan risiko penyakit kronis, tubuh mulai mengalami perbaikan sejak hari pertama seseorang menghentikan konsumsi alkohol. Namun, proses ini juga bisa memicu efek samping yang mengejutkan, terutama bagi mereka yang telah lama terbiasa dengan alkohol.
Lantas, bagaimana tubuh bereaksi ketika seseorang berhenti minum alkohol? Mari kita selidiki lebih dalam dampak ilmiahnya
Dampak Alkohol pada Tubuh
Alkohol menimbulkan berbagai kerusakan pada tubuh kita. Dampak utamanya adalah pada hati, organ yang bertugas memecah alkohol.
Namun, organ lain seperti jantung, saluran pencernaan, pankreas, dan otak juga terkena dampak negatifnya. Tingkat kerusakan bervariasi, tergantung pada durasi alkohol berada dalam tubuh dan jumlah yang dikonsumsi.
"Kadar alkohol dalam darah sangat menentukan seberapa besar kerusakan pada organ," ungkap Paul Thomes, peneliti di Auburn University, yang fokus pada mekanisme kerusakan organ akibat alkohol.
Thomes menjelaskan bahwa hati mengubah alkohol menjadi zat yang kurang berbahaya agar bisa dikeluarkan dari tubuh. Dalam proses ini, alkohol diubah menjadi asetaldehida, zat yang sangat beracun dan penyebab kanker.
Biasanya, asetaldehida cepat dipecah. Namun, jika proses ini lambat atau terganggu, akibat kadar alkohol tinggi atau faktor lain seperti obat-obatan yang memengaruhi metabolisme hati, asetaldehida menumpuk di tubuh dan merusak organ.
"Lamanya zat beracun menumpuk di sel dan jaringan menentukan tingkat kerusakannya," kata Thomes.
Kerusakan ini memengaruhi semua organ tubuh, sehingga penggunaan alkohol kronis menimbulkan berbagai risiko kesehatan jangka panjang, seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, penyakit hati, dan peningkatan risiko kanker tertentu. Konsumsi alkohol kronis juga melemahkan sistem kekebalan tubuh dan mengganggu fungsi otak.
Baca Juga: Bagaimana Minum Alkohol Bisa Bikin Mata Buta dan Memicu KDRT
Proses Pemulihan Tubuh Setelah Berhenti Mengonsumsi Alkohol
Sebagian besar penelitian tentang dampak berhenti minum alkohol berfokus pada peminum berat. Namun, "bahkan peminum ringan pun bisa merasakan perubahan positif pada kesehatan mereka setelah berhenti minum alkohol selama sebulan," kata Carrie Mintz, psikiater di Washington University di St. Louis.
"Perubahan ini bisa terlihat dalam waktu sesingkat satu bulan." Setelah berhenti minum alkohol, tubuh mulai menunjukkan perubahan positif dalam beberapa minggu. Salah satunya adalah pemulihan hati.
Hati dapat mulai memperbaiki kerusakan yang terjadi pada sebagian besar dari empat tahap penyakit hati akibat alkohol. Tahapannya dimulai dari penumpukan lemak, kemudian peradangan kronis, pembentukan jaringan parut, hingga sirosis.
Hati memiliki kemampuan untuk pulih pada semua tahap kecuali tahap sirosis yang paling parah.
"Hati memiliki kemampuan regenerasi yang luar biasa," kata Thomes. "Tiga tahap awal kerusakan hati bisa dipulihkan jika berhenti mengonsumsi alkohol."
Bahkan pada penderita sirosis hati, berhenti minum alkohol dapat memperlambat perkembangan penyakit dan memperpanjang harapan hidup, meskipun tidak dapat menyembuhkan sirosis sepenuhnya.
Selain manfaat bagi hati, berhenti minum alkohol juga memberikan manfaat kesehatan lainnya, yang diyakini disebabkan oleh penurunan kadar alkohol dan asetaldehida dalam tubuh.
Sebuah penelitian yang melibatkan 94 peminum sedang hingga berat yang berhenti minum alkohol selama sebulan menunjukkan adanya peningkatan dalam sensitivitas insulin, tekanan darah, dan penurunan berat badan, dibandingkan dengan kelompok yang tidak berhenti minum.
Manfaat lain dari berhenti minum alkohol termasuk kualitas tidur yang lebih baik, peningkatan suasana hati (termasuk penurunan gejala depresi dan kecemasan), kulit yang lebih sehat, dan kesehatan usus yang lebih baik. Alkohol diketahui dapat mengganggu keseimbangan mikroba dalam usus (disbiosis) dan merusak lapisan sel usus, yang dapat menyebabkan kebocoran isi usus ke aliran darah.
"Pada usus, disbiosis bisa diperbaiki, meskipun tidak sepenuhnya, bahkan setelah tiga hingga lima minggu," ungkap Thomes. "Dibutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan mikrobioma usus dan memperbaiki kerusakan yang terjadi."
Baca Juga: Sepertiga Lahan Gundul Indonesia Dibiarkan Menganggur Tak Produktif
Setelah Satu Bulan Tanpa Alkohol
Berhenti mengonsumsi alkohol selama sebulan sering kali memberikan manfaat berupa pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kebiasaan minum alkohol memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan seseorang.
"Ini bisa memberikan wawasan yang sangat berharga," kata Steven Tate, dokter spesialis kecanduan di Stanford University. Tate menjelaskan bahwa alkohol dapat menyebabkan atau memperburuk masalah kesehatan seperti gangguan tidur, depresi, atau kecemasan.
Konsumsi alkohol secara teratur juga bisa menjadi upaya untuk mengobati sendiri gangguan tidur atau suasana hati yang mendasarinya. Dengan berhenti minum alkohol selama sebulan, seseorang memiliki kesempatan untuk mengetahui apakah alkohol adalah penyebab atau sekadar menutupi masalah kesehatan yang ada.
Pengalaman Tate menunjukkan bahwa berhenti minum alkohol juga membantu seseorang memahami lebih baik hubungannya dengan alkohol, termasuk apakah konsumsi alkoholnya sudah di luar kendali.
"Kadang sulit menyadari ketika seseorang mulai kecanduan," kata Tate. "Batasan antara kebiasaan dan kecanduan sering kali tidak jelas, dan banyak orang tidak menyadarinya sampai mereka sudah melewatinya."
Mengubah Kebiasaan Minum
Salah satu kekhawatiran utama terkait upaya berhenti minum alkohol selama sebulan adalah apa yang terjadi setelah bulan tersebut berakhir. Ada kekhawatiran bahwa kebiasaan konsumsi alkohol seseorang bisa menjadi lebih ekstrem setelah mereka mulai minum lagi.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa bagi sebagian peserta Dry January, berhenti minum alkohol dapat menyebabkan penurunan konsumsi di bulan-bulan berikutnya.
Dalam penelitian yang melibatkan 94 peminum sedang hingga berat yang berhenti minum alkohol selama sebulan, para peneliti menemukan bahwa enam bulan kemudian, peserta melaporkan konsumsi alkohol yang jauh lebih rendah dari sebelumnya. Pola konsumsi mereka rata-rata berada dalam kategori "risiko rendah" untuk masalah terkait alkohol.
Dalam survei lain yang melibatkan 857 orang dewasa Inggris yang mengikuti Dry January, peserta juga melaporkan penurunan konsumsi alkohol enam bulan setelah berhenti minum selama sebulan.
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi alkohol yang konsisten lebih rendah dapat memberikan manfaat kesehatan yang signifikan, yang akan bertahan lama setelah bulan tersebut berakhir.
Mengingat kerusakan yang dapat ditimbulkan alkohol pada berbagai organ tubuh, terutama pada kadar alkohol darah yang tinggi, para ahli menekankan bahwa penurunan kebiasaan minum secara keseluruhan dapat memberikan manfaat kesehatan jangka panjang yang besar.
"Jika Anda minum lebih sedikit, risiko Anda untuk mengalami kerusakan akibat alkohol juga lebih rendah," kata Mintz.
Source | : | National Geographic |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR