Vaksinasi, Salah Satu Cara Selamatkan Nyawa Anak-anak di Negara Miskin

By Rahmad Azhar Hutomo, Jumat, 15 Maret 2019 | 10:00 WIB
Penjaga toko Karachi di Pakistan, Ghulam Ishaq, dulu tidak percaya pada vaksin polio. Kini, dia menyalahkan dirinya untuk penderitaan ganda putrinya Rafia (4 tahun) satu kaki layu akibat polio, satu lagi patah tertabrak mobil yang tidak bisa dihindarinya. (William Daniels)

Nationalgeographic.co.id - Inilah cara untuk menyelamatkan nyawa ratusan ribu anak. Beri anak-anak di negara miskin vaksinasi yang sudah dianggap biasa oleh negara kaya. 

Temui anak itu, kata Samir Saha. Kakak dan adiknya juga mungkin ada di sana, yang kehidupannya juga berubah selamanya. “Ini sebabnya vaksin sangat penting,” kata Saha. “Kami ingin menurunkan jumlah ini ke angka minimum, kalau bisa nol. Supaya tak ada anak lain yang seperti ini.”

Di Dhaka, ibu kota Banglades, Saha sedang berada di kursi belakang mobilnya, merengut. Seorang sopir berseragam mengemudikan Toyota itu menembus kemacetan gaduh yang penuh angkutan umum, motor, angkong, truk, dan bus reyot yang penumpangnya bergelantungan di pintu. “Anda akan melihat skenarionya,” katanya. “Anda akan mengerti.”

Baca Juga : Antisipasi Rabies, KPKP DKI Jakarta Laksanakan Sosialisasi dan Vaksin Serentak

Saha adalah seorang ahli mikrobiologi, yang terkenal di seluruh dunia untuk penelitiannya tentang bakteri pneumococcus. Laboratorium yang didirikannya terletak di sudut Dhaka Shishu, rumah sakit anak terbesar di Banglades.

Di lorong yang sama, baris-baris tempat tidur memenuhi bangsal terbuka; pada jam besuk, setiap tempat tidur diisi si anak yang sakit, sekaligus banyak kerabat yang menjenguk. Di laboratorium, lelaki dan perempuan berjaket putih setiap hari mempelajari sel-sel pneumococcus dengan saksama.

Bakteri pneumococcus ada di mana-mana di dunia modern. Mudah tersebar melalui bersin atau sentuhan biasa, bakteri ini dapat hidup tanpa efek buruk di saluran hidung manusia dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Tetapi, ketika pertahanan tubuh sedang lemah, pneumococcus dapat berpindah, berkembang biak, dan memicu penyakit menular yang mengancam nyawa. Yang paling rentan adalah anak kecil di tempat yang sulit mendapat antibiotik dan perawatan kesehatan yang baik.

Pada awal abad ke-21, ketika vaksin anak pertama yang efektif di dunia mulai tersedia di Amerika Serikat dan Kanada, penyakit akibat pneumococcus menewaskan lebih dari 800.000 anak di seluruh dunia setiap tahun—berarti lebih dari tiga per empat juta bayi dan balita meninggal akibat organisme biasa yang menyebabkan pneumonia (infeksi paru-paru) atau meningitis (infeksi membran otak) atau serangan fatal pada aliran darah. Sebagian besar kematian itu terjadi di negara-negara miskin seperti Banglades.

Pada 2015, vaksin konjugat pneumococcus (PCV), demikian nama formulasi untuk anak, sampai di tangan orang Banglades, dan tim penelitian Saha melacak kemajuannya dengan cermat.

Jika PCV terbukti efektif di seluruh dunia seperti yang diharapkan pakar vaksin, vaksin ini berpotensi akan sangat menurunkan tingkat kematian—berarti ribuan anak kecil tetap hidup, tidak lagi meninggal sebelum mencapai usia sekolah—dan sangat mengurangi penyakit yang tidak mematikan. Mengurangi napas pneumonia yang cepat; mengurangi demam, dada cekung, batuk parau, bibir biru, perawatan oleh orang tua yang terpaksa meninggalkan pekerjaan berupah yang semestinya menafkahi anaknya yang lain.

Republik Demokratik Kongo (DRK). Dengan kotak pendingin penuh vaksin terikat pada motor, pekerja Doctors Without Borders menyeberangi sungai di dekat Monga, sementara wabah campak berlangsung di sana. Dalam perjalanan berat 10 jam berkeliling ke desa-desa, mereka harus menjaga agar vaksinnya dingin sempurna. (William Daniels)

Hal mendesak, ambisius, dan kompleks yang melibatkan banyak pemerintah dan sumbangan miliaran dolar, adalah kerja sama internasional untuk mengirim vaksin baru ke anak-anak di negara berkembang.

Di negara-negara itu, hingga sekarang, penderitaan yang diakibatkan oleh penyakit yang dapat dicegah vaksin adalah hal nyata dan bukan sekadar teori–senyata keluarga-keluarga panik yang dilihat Saha di lorong rumah sakit Dhaka Shishu.

Inilah sebabnya dia menyuruh saya mengunjungi Sanjida Sahajahan, 11 tahun, anak tengah seorang tukang reparasi angkong dan istrinya. Pergilah sekarang, kata Saha, saat kami berhenti di gerbang utama rumah sakit; setelah Anda kembali, kita akan membahas hal yang Anda lihat. Anda akan diantar Jamal dan Tasmim. Van di tempat parkir sudah menanti.

Van rumah sakit itu menembus jalan Dhaka yang penuh sesak dan terus menyempit, sampai akhirnya kami turun untuk berjalan kaki. Jamal Uddin adalah seorang dokter, Tasmim Sultana Lipi adalah pekerja kesehatan masyarakat. Mereka tahu gang becek mana yang harus dimasuki. Di sepanjang bangunan beratap seng di kedua sisi, jendela berjeruji menampakkan sekilas keluarga demi keluarga yang menghuni rumah satu ruang.

Lipi mengangguk ke arah pintu dan masuk.

Sanjida, yang dulu digendong masuk ke Dhaka Shishu pada umur tiga tahun dengan mengidap meningitis pneumococcus, kini bersandar di kursi plastik kecil di sebelah tempat tidur keluarga. Meningitis adalah radang, yang kadang merusak dan tak bisa disembuhkan, pada membran yang menyelimuti otak dan sumsum tulang belakang. Sanjida tidak bisa mengendalikan kepala, seringai, dan suara yang dibuatnya—sebagian besar ocehan merintih, karena dia tak mampu membentuk kata.

Ibunya, Nazma, sedang di luar bersama bayinya ketika kami tiba; di rumah-rumah satu ruangan ini, sembilan keluarga menggunakan dua toilet dan satu keran bersama-sama, dan kini Nazma bergegas masuk. Dia duduk di bangku. Dia meraih tangan Sanjida.

Di Bangla dia menuturkan kisahnya: demam tanpa sebab yang diderita anak tiga tahun mereka yang pintar dan cerewet; tetangga yang menyarankan asetaminofen; demam menurun setelah pil itu; demam naik lagi. Ia kejang-kejang pertama kalinya dan perjalanan was-was ke rumah sakit. Saat dokter memeriksa Sanjida, anak itu sudah tak sadarkan diri. Kata-kata terakhirnya yang dapat dipahami, kata Nazma, adalah “Peluk aku. Tidak enak sekali rasanya.”

Ayah Sanjida, Mohammad, berdiri tanpa suara sementara Nazma berbicara. Putra mereka, 14, masuk dan menggendong si bayi dan berdiri juga; tidak ada tempat lain untuk duduk. Kursi roda yang dibongkar berada di kolong tempat tidur—sumbangan, kata Nazma, ide yang sangat baik, tetapi tempat tinggal mereka terlalu kecil. Mohammad mengambil kartu kuning kusut dari laci: catatan kesehatan nasional Sanjida.

Uganda, Di Gunung Morungole, peneliti Universitas Makerere, Sadic Waswa Babyesiza, menelaah kelelawar yang baru saja ditangkapnya. Bersama tim dari Field Museum of Chicago, dia mencari satwa liar pembawa kuman malaria, Zika, dan patogen lain. Hasilnya mungkin dapat membantu pengembangan vaksin. (William Daniels)

Di situ adalah catatan tentang vaksinasi Sanjida. Seperti kakaknya, Sanjida mendapat semua vaksin yang waktu itu disertakan dalam program imunisasi nasional Banglades, sesuai jadwal dan gratis: batuk rejan, campak, difteri, TBC, tetanus, hepatitis B, polio. Tidak ada cacar; vaksinasi di seluruh dunia telah membasmi penyakit menular penyebab bopeng itu dari muka bumi sebelum 1980, dua abad setelah dokter Inggris bernama Edward Jenner menerbitkan risalah terkenalnya tentang menularkan cacar sapi pada anak kecil dengan sengaja, yaitu virus lemah yang ternyata merangsang kekebalan tubuh terhadap cacar yang jauh lebih parah.

Sejarah kesehatan global yang luar biasa telah diringkas, boleh dibilang, pada kartu kuning kecil Sanjida. Tidak ada yang dapat menghitung dengan akurat jumlah total orang yang diselamatkan oleh vaksinasi yang meluas, tetapi ini tetap salah satu prestasi terbesar dalam bidang kedokteran modern. Campak, misalnya, menewaskan lebih dari dua juta anak per tahun di seluruh dunia pada 1980-an; pada 2015, menurut World Health Organization, vaksinasi telah menurunkan jumlah kematian menjadi 134.200.

Vaksinasi massal telah mengakhiri polio di semua negara kecuali tiga. Dan ketika saya bertanya kepada Nazma bagaimana dia pertama tahu tentang vaksin—mengapa dia menganggap bahwa menyuntik bayi yang sehat itu baik?—dia tampak terkejut. Lalu, dia menjawab panjang-lebar dengan bersemangat, : Tetapi semua orang Banglades tahu ini.

Dalam iklan layanan masyarakat di televisi—penyanyi dan atlet populer memuji vaksin yang menyelamatkan nyawa. Dorongan untuk vaksinasi dikumandangkan dari ribuan menara masjid, seperti azan; mayoritas warga Banglades beragama Islam, dan ketika mempromosikan vaksinasi polio pada akhir 1980-an, pejabat kesehatan dan ulama bersama-sama membuat program untuk “promosi lewat masjid.”

Sekali waktu, di desa di luar Dhaka, imam setempat menyingsingkan lengan baju untuk menunjukkan kepada saya bekas vaksinasi TBC-nya yang terakhir. Menjaga kesehatan adalah bagian dari ibadah, dia menjelaskan, dan orang tua yang beriman wajib menjaga kesehatan anak-anaknya.

Banglades, Sanjida Sahajahan, 11, dulu sehat semasa balita, lalu otaknya dirusak bakteri pneumococcus. Bantuan internasional menolong Banglades membeli vaksin yang melawan infeksi seperti itu—sudah terlambat untuk Sanjida, tetapi mungkin masih sempat melindungi ribuan anak muda lain. (William Daniels)

Mengirim vaksin di Banglades tidaklah mudah. Medannya dirintangi sungai yang sering meluap dan jalan yang sulit dilalui, sedangkan vaksin harus dijaga pada suhu dingin yang tepat agar tetap manjur. Menjaga “rantai dingin” ini adalah prioritas penting dalam program imunisasi di semua negara yang beriklim panas dan jaringan listriknya tidak andal; kotak pendingin yang rusak atau padam listrik di desa dapat merusak satu kelompok vaksin. Tetapi, Banglades sudah bekerja keras menjaga rantai dingin itu, melengkapi pusat kesehatan setempat dengan panel surya, menggunakan sepeda dan perahu sungai untuk mengantar vaksin ke klinik-klinik terpencil.

Dalam perjalanan pulang ke Dhaka Shishu, terdiam sedih, saya memahami apa yang Samir Saha ingin saya lihat. Pada 2005, saat Sanjida divaksinasi, vaksin baru terhadap infeksi pneumococcus sudah menyebar luas dengan cepat di negara maju. Masalahnya timbul di tempat-tempat seperti Banglades, yang jauh lebih membutuhkan vaksin itu, tetapi tidak mampu membayar harga yang ditetapkan produsen. 

Vaksin, dengan sangat sedikit pengecualian, dibuat oleh perusahaan swasta, dalam bisnis untuk memperoleh laba. Hingga baru-baru ini, produksinya di seluruh dunia didominasi oleh beberapa perusahaan obat raksasa AS dan Eropa.

Seperti yang diingatkan para pejabat perusahaan ketika organisasi advokasi seperti Doctors Without Borders mendesak mereka untuk menurunkan harga (atau membuka pembukuan untuk membuktikan mengapa itu tak bisa dilakukan), mengembangkan vaksin baru itu sangat mahal. Semua itu perlu waktu bertahun-tahun.

Untuk menemukan vaksin pneumococcus yang berfungsi dengan benar pada anak-anak, perlu waktu puluhan tahun. Vaksin dewasa yang baik sudah dipasarkan pada awal 1980-an, tetapi tidak pernah memicu tanggapan kekebalan tubuh yang diharapkan pada anak kecil. Baru pada akhir 1990-an peneliti akhirnya menemukan cara untuk memperbaiki secara biologis, atau “konjugat,” isi vaksin dewasa itu agar dikenali oleh sistem kekebalan tubuh anak.

Pneumococcus memberi tantangan lain yang sulit: Saha dan ilmuwan lain telah mengidentifikasi hampir seratus versi, atau serotipe, sel pneumococcus. Serotipe kadang hanya ada di wilayah tertentu, dan karena alasan yang belum dipahami sepenuhnya, hanya sejumlah kecil yang berbahaya. (Serotipe 1, misalnya, relatif sedikit menyebabkan penyakit di Amerika Serikat, tetapi merupakan sumber utama penyakit dan kematian pneumococcus di Afrika dan Asia Selatan.) Jadi, vaksin yang manjur untuk anak dan membidik serotipe yang tepat sebenarnya merupakan beberapa jenis vaksin, yang diperbaiki dan diuji secara terpisah, lalu dicampur dalam satu botol.

Semua kerumitan ini turut menyebabkan vaksin pneumococcus anak pertama menjadi salah satu vaksin termahal dalam sejarah. Vaksin yang bernama Prevnar ini diluncurkan pada awal 2000. Vaksin ini diformulasi untuk melawan ketujuh serotipe yang menyebabkan sebagian besar penyakit itu—di Amerika Serikat, tepatnya, yang mampu membayar vaksin anak seharga $232 per paket empat-dosis. Salah satu jenis pneumococcus berbahaya yang tidak dilawan oleh vaksin itu adalah serotipe 1. Padahal, justru di wilayah-wilayah termiskin di Afrika dan Asia Selatan-lah infeksi pneumococcus paling mungkin menewaskan anak atau menyebabkannya lumpuh seumur hidup—tidak hanya karena orang tua tidak bisa menemui dokter cukup cepat, tetapi juga karena bakteri itu menyebabkan kerusakan ekstra pada tubuh kecil yang sudah diperlemah oleh kekurangan gizi, penyakit lain, dan terlalu banyak terpapar pada asap api masak.

“Sewaktu saya mulai bekerja di bidang ini, yang membuat saya sulit tidur adalah ketimpangan,” kata Orin Levine, direktur pengiriman vaksin di Bill and Melinda Gates Foundation. Bertahun-tahun silam, koleganya menyaksikan seorang perempuan di rumah sakit Mali ditinggal mati putrinya akibat pneumonia pneumococcus; lalu, putrinya yang lain meninggal akibat hal yang sama. Putri-putrinya sendiri berumur sepantar.

DRK Pada 2016, wabah demam kuning menyebar dari negara tetangga Angola , sementara persediaan vaksin kurang. Pekerja kesehatan berupaya memvaksinasi semua warga kota Matadi yang berjumlah 350.000 jiwa. Di sini mereka berimprovisasi membuat klinik di truk terbengkalai. (William Daniels)

“Peluang anak meninggal akibat penyakit pneumococcus di negara kaya itu seratus kali lipat lebih kecil,” katanya. “Mengapa anak-anak saya bisa mendapat vaksin itu, sementara anak-anak Tiemany Diarra, anak-anak Mali, lebih memerlukannya dan tidak mendapatkannya?”

Dia tahu jawabannya, tentu saja: Cara paling pasti bagi produsen vaksin untuk mendapat laba bukanlah dengan memenuhi kebutuhan yang paling kritis.

Global alliace for vaccines and Immunisation, atau Gavi. Upaya kerja sama pemerintah/swasta multi-miliar dolar ini dimulai pada 2000, persis ketika PCV sampai di pasar AS. Diawali sebagian dengan janji $750 juta dari Gates Foundation, Gavi menyalurkan sumber daya negara kaya—kedermawanan pribadi plus bantuan pemerintah dari negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia—ke dukungan vaksin untuk negara miskin yang mendaftar untuk memperoleh bantuan itu.

Gavi membantu negosiasi dengan perusahaan vaksin untuk memangkas harga, khususnya untuk penjualan volume besar; subsidi dari dana donatur kemudian mengurangi lagi biaya bagi negara berkembang, agar mereka hanya membayar sepersekian harga pasar biasa.

“Program ini mengubah banyak—otot finansial dan dedikasi yang disepakati oleh pelaku global dan produsen dan negara,” kata Katherine O’Brien, dokter anak dan pakar pneumococcus yang memimpin International Vaccine Access Center di Johns Hopkins University. Gavi dibentuk bukan hanya untuk membantu soal vaksin pneumococcus, O’Brien mengingatkan; aliansi itu mulanya berfokus untuk memperluas akses ke vaksinasi anak yang sudah mapan, seperti tetanus dan hepatitis B.

PCV baru masuk ke daftar vaksin pada 2010. Tetapi, permintaan dari negara berkembang begitu tinggi, sehingga tak lama kemudian Gavi mencurahkan setengah miliar dolar donatur per tahun untuk mendukung PCV—hanya dua perusahaan ini yang membuat PCV—memastikan bahwa pasokan akan cukup; keduanya berjanji akan memproduksi vaksin, dengan diskon yang diurus Gavi, sebanyak yang akan dibeli setiap negara penerima.

Dengan perjanjian itu, produsen juga mengembangkan formulasi baru yang memperluas kemanjuran PCV agar mencakup anak-anak yang berada jauh dari AS dan Eropa. Pada 2010, Pfizer merilis ramuan baru yang bernama Prevnar 13, yang dirancang untuk melawan serotipe 1 dan lima lagi yang tidak dibidik dalam ramuan semula. Produk GSK, yang diperkenalkan pada 2009, juga dikonfigurasi untuk melawan serotipe yang tersebar di Afrika dan Asia. Dan sejak Maret 2015, ketika pejabat kesehatan Banglades menerima pengiriman pertama PCV dengan diskon Gavi, pengiriman vaksin tiba melalui pos udara setiap tiga bulan dari pusat distribusi GSK di Belgia.

Belgia Tangki baja ini di gedung GSK baru di dekat Brusel mulai memproduksi bahan penting untuk membuat vaksin polio pada 2017, enam tahun setelah pembangunan dimulai. Untuk menjaga kesterilan, pekerja masuk dan keluar melalui ruang yang kedap udara. (William Daniels)

“Kotak pendingin kecil,” kata Saha kepada saya. “Seperti yang digunakan untuk berkemah. Tetapi, ini agak lebih canggih, dilengkapi dengan sistem pemantauan suhu.”

Menurut pejabat kesehatan, vaksin itu menjangkau keluarga di seluruh pelosok negara. Banglades, setidaknya sejauh ini, tidak mengalami “keraguan vaksin,” demikian sebutan pakar kesehatan global tentang masalah orang tua yang tak mau memvaksinasi anaknya. Di tempat lain di Asia Selatan, kecurigaan dan permusuhan mengganggu kampanye vaksinasi belakangan ini; di Pakistan, misalnya, vaksinator polio beberapa tahun yang lalu ditolak atau diserang di tengah desas-desus yang salah dan benar. (Salah: vaksin merupakan bagian muslihat Barat untuk melawan Islam. Benar: CIA menggunakan vaksinator keliling untuk memburu Osama bin Laden.) Dan di beberapa bagian India, kampanye vaksinasi campak-rubela sempat terseok-seok pada awal tahun ini, setelah tulisan anonim di media sosial mengklaim bahwa vaksin itu berbahaya atau bahkan dimaksudkan mensterilkan anak-anak dari agama minoritas.

Bahkan di Banglades yang reseptif terhadap vaksin, kata Saha, dia pernah mendengar orang bertanya-tanya tentang manfaat menambahkan PCV ke upaya vaksinasi nasional yang sudah ambisius. “Saya tampil di acara bincang-bincang di TV,” katanya. “Seorang istri bankir, orang yang berkuasa, berkata, ‘Mengapa Anda berbicara banyak soal vaksin?’” Pneumonia dan infeksi pneumococcus dapat diobati dengan penisilin, demikian protes si istri bankir; Saha sendiri baru mengatakan itu. “Dan jawaban saya: ‘Oh, Bu. Ibu ingin menunggu sampai orang terkena pneumonia terlebih dahulu, baru setelahnya penyakitnya diobati?’”

Pakistan. Saat mencari orang yang belum divaksinasi di dalam kereta api di stasiun utama Karachi, seorang pekerja kesehatan menemukan seorang anak yang jarinya tidak memiliki tanda yang menunjukkan dia sudah divaksinasi polio. Vaksin oral harus cepat diberikan, sebelum kereta berangkat. (William Daniels)

Andai ibu itu berjalan-jalan di bangsal Dhaka Shishu bersama Saha, dia tentu melihat anak-anak lesu yang berbaring dengan topeng oksigen, keluarga berkumpul di samping tempat tidur atau berkerumun dengan muram di lorong, menunggu antibiotik beraksi. Dan itu baru keluarga yang masih sempat ke rumah sakit. “Untuk tempat terpencil,” kata Saha, “ini”—serangan pencegahan dari vaksin yang berfungsi—“satu-satunya alat kita.” Di desa dan kampung kumuh termiskin, masih ada ribuan anak penderita penyakit pneumococcus yang meninggal di rumah.

Sanjida Sahajahan tiba ke Dhaka Shishu, tetapi dokter tidak bisa membantu banyak. Saha merasa frustrasi menangani kasus Sanjida. Labnya mengidentifikasi pneumococcus yang menginfeksi otak anak itu: serotipe 1, salah satu varietas yang tidak dibidik dalam Prevnar versi pertama. Jadi, andaipun Banglades sudah mampu membeli vaksin itu pada 2005, vaksin itu tidak bisa melindungi Sanjida.

“Dan bukan hanya anaknya yang tidak berfungsi,” kata Saha. “Ibunya juga tidak berfungsi. Dia tidak bisa ke mana-mana. Setiap anggota keluarga itu setengah meninggal.”

Dia diam. “Kami memberinya kursi roda,” katanya. “Apakah dipakai?”

Pakistan. Hanya tiga negara yang masih melaporkan kasus polio: Afganistan, Nigeria dan Pakistan. Penolakan vaksinasi dengan kekerasan telah menewaskan puluhan vaksinator dalam beberapa tahun terakhir. Di Karachi, vaksinator mengunjungi rumah dengan dikawal polisi. (William Daniels)

Kursi itu dibongkar, kata saya, di kolong tempat tidur. Saha meringis. Tetapi, si bayi yang berumur dua bulan, Jannat—orang tuanya menunjukkan kartu kesehatannya juga, kata saya, dan kolom barunya yang sudah dicentang: vaksin konjugat pneumococcus. Kalau vaksin itu manjur, Jannat akan terlindung dari patogen yang melumpuhkan kakaknya, dan ketika Saha memikirkan semua ini, duka dan harapan yang menyatu di dalam rumah yang sangat kecil itu, dia menghela napas.

“Kita tetap harus melihat berapa banyak anak yang meninggal, dan berapa yang lumpuh seperti ini, selama 10 tahun kita menunggu vaksin itu,” katanya. “Tetapi, syukurlah kita punya vaksin itu sekarang.”

Kompleks gsk yang luas di kota Wavre di Belgia adalah fasilitas produksi vaksin terbesar di dunia. Pada hari saya bertemu dengan Luc Debruyne, presiden vaksin global di perusahaan itu, saya sudah harus berganti pakaian dua kali. Setiap kegiatan biologis dan pencampuran vaksin dilakukan secara kedap udara di bangunan terpisah, dan memasuki struktur khusus ini mengharuskan orang mengganti seluruh pakaian dengan seragam ruang-bersih, sepatu putih yang dibersihkan, serta kacamata dan topi pelindung yang menutupi kacamata dan rambut.

Operasi vaksin perusahaan itu, merupakan investasi sebesar lima miliar dolar lebih selama sepuluh tahun terakhir, kata Debruyne. “Ini memang bisnis yang menguntungkan,” tambahnya. “Bisnis ini harus menguntungkan agar bisa bertahan, agar mampu menawarkan volume besar dan harga terjangkau bagi dunia berkembang.”

Vaksin pneumococcus anak yang dikirim GSK ke Dhaka merupakan produksi global: Pencampuran dimulai di pabrik perusahaan di Singapura, vaksin dikirim ke Belgia lalu ke Prancis untuk diproses, dan botol vaksin akhirnya kembali ke Belgia untuk dikirimkan. Namun, saat saya melihat melalui kacamata pengaman ke mesin dan tangki besar keperakan di Wavre, produk yang sedang disiapkan adalah produk GSK lain—vaksin terhadap patogen yang bernama rotavirus, penyebab utama diare anak, yang diderita jutaan setiap tahun.

Di negara-negara termiskin di Afrika sub-Sahara dan Asia Selatan, penyakit ini menewaskan ratusan ribu orang. Banyak anak Dhaka Shishu harus berjuang untuk sembuh dari penyakit itu.

Banglades sudah mendapat persetujuan Gavi untuk mulai mendapat vaksin rotavirus GSK, mungkin tahun depan. Setelah negosiasi diskon dan dukungan finansial tambahan, pemerintahnya akan membayar sekitar 50 sen untuk setiap paket dua-dosis vaksin yang kini harganya $220 untuk dokter di AS. Untuk sistem kesehatan negara miskin, harga itu sangat murah, tetapi ada konsekuensi besar. Bantuan Gavi ini bersifat sementara—cara bagi negara miskin untuk membantu lebih banyak anak tumbuh sehat, dan karenanya turut meningkatkan perekonomian negara hingga akhirnya mampu membeli sendiri vaksin yang penting.

Italia. Beatrice Vio mulai bermain anggar pada umur lima tahun. Pada umur 11, dia terjangkit meningitis meningococcus, yang menyebar melalui darah dan menyebabkan tangan-kakinya diamputasi. Kini 20 tahun, dia pemegang medali emas dalam anggar kursi roda tim Paralimpiade Italia dan gigih memperjuangkan vaksinasi dini. (William Daniels)

Setelah suatu negara penerima melampaui tingkat pendapatan per kapita terendah di dunia, subsidi Gavi semestinya dicabut secara bertahap. “Ini disebut ‘transisi,’” kata Kate Elder, penasihat kebijakan vaksin di Doctors Without Borders. “Tetapi saya pernah mendengar para menteri kesehatan menganggap ini sebagai ‘didepak’.” Meskipun para pemimpin GSK dan produsen vaksin besar lain di AS dan Eropa berjanji tetap memberi diskon untuk negara miskin, pencabutan subsidi tetap berarti kenaikan biaya yang relatif besar. Di Banglades, misalnya, ini dapat menaikkan harga vaksin pneumococcus GSK dari 60 sen menjadi $9,15 per anak.

Itu masih terasa murah bagi dokter di Amerika Serikat yang membayar lebih dari 50 kali lipat. Tetapi, Doctors Without Borders dan para pengkritik lain berargumen bahwa harga yang ditetapkan perusahaan obat besar dari Amerika dan Eropa untuk vaksin anak itu terlalu tinggi, bahkan setelah didiskon. Sepertiga negara di dunia belum memasukkan PCV ke program imunisasi; alasan utamanya adalah biaya jangka panjang. Dari perusahaan obat, Elder berkata, “kami sering mendengar ini: ‘Mengapa kalian tidak mensyukuri saja anak-anak yang sekarang mendapat vaksin?’ Dan kami berkata, ‘Ya, tapi kami ingin lebih.’”

Baca Juga : Mudah Merasa Lelah? Mungkin Saja Anda Mengidap Masalah Kesehatan Ini

Jalan keluarnya mungkin terletak di pesaing yang bermunculan di luar AS dan Eropa—dari perusahaan farmasi di India, Brasilia, Vietnam, Kuba, Korea Selatan, dan bahkan Banglades, tempat sebuah perusahaan Dhaka kini menjual hampir dua belas jenis vaksin, menggunakan bahan yang diimpor dari negara-negara lain. Pabrik India raksasa bernama Serum Institute memproduksi dari nol lebih dari satu miliar dosis per tahun vaksin yang relatif murah, mengirimnya ke seluruh India dan ke luar negeri. Pakar penyakit di Gates Foundation dan PATH, organisasi kesehatan nirlaba global yang juga berpusat di Seattle, membantu Serum mengembangkan vaksin pneumococcus anak sendiri. Uji coba sedang dilakukan di India dan Afrika, dan vaksin itu mungkin bisa dipasarkan sebelum 2020.

Samir Saha kini berumur 62 tahun, tanpa berencana pensiun dalam waktu dekat. Masih terlalu dini untuk menilai dengan pasti kesuksesan PCV di Banglades, tetapi terakhir kali kami berjalan bersama di Dhaka Shishu, dia bersemangat. Hanya ada tiga pasien pneumococcus di bangsal umum hari itu, tak ada yang tampaknya terancam bahaya besar, dan salah satu peneliti Saha sedang di depan komputer, membuat grafik batang yang menunjukkan penurunan drastis jumlah kasus untuk musim gugur 2016—satu batang pendek, tampak kerdil dibandingkan batang-batang yang jauh lebih tinggi dari enam musim gugur sebelumnya.

Saha menarik kursi dan mengamati grafik itu lekat-lekat. Coba kita lihat tahun depan, katanya. Kemudian, dia tersenyum.

“Bagus untuk pasien,” katanya. “Pneumonia berkurang di rumah sakit. Kematian berkurang.” Dia melambaikan tangan ke semua peneliti yang membungkuk di atas mikroskop. “Menganggur!” Saha bercanda, dan senyumnya melebar. “Mereka semua akan menganggur!”.

Penulis: Cynthia Gorney

Fotografer: William Daniels