Peneliti: Risiko Banjir di Jakarta Meningkat Hingga 400% pada 2050

By National Geographic Indonesia, Jumat, 10 Januari 2020 | 18:11 WIB
Banjir Jakarta 01/01/2019 menganyutkan beberapa mobil. (Syifa Nuri Khairunnisa/Kompas.com)

Laporan Bank Dunia tahun 2010 menyebutkan Bangkok mengalami peningkatan risiko banjir sebesar 207% karena akibat dari perubahan iklim saja.

Hal yang sama terjadi pada kota Manila. Perubahan iklim juga diproyeksikan meningkatkan risiko banjir di kota tersebut sebesar 700%.

Begitu pula dengan dengan Ho Chi Minh City. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko banjir sebesar 16 kali lipat dibandingkan dengan kondisi sekarang.

Apabila perubahan tutupan lahan dan penurunan muka tanah juga dipertimbangkan dalam penghitungan proyeksi risiko banjir pada masa depan, maka risiko banjir di ketiga kota tersebut akan meningkat lebih besar lagi.

Apa yang bisa dilakukan

Dari uraian di atas, cara utama untuk mengantisipasi banjir adalah dengan mengatasi faktor penyebab meningkatnya risiko banjir.

Untuk faktor perubahan iklim, kita perlu menerapkan konsep infrastruktur hijau dalam bangunan perkotaan. Bangunan infrastruktur hijau tidak hanya dapat menahan sebagian hujan untuk tidak langsung jatuh ke permukaan tanah akan tetapi juga dapat menyerap emisi karbon.

Contoh yang lain yang bisa dilakukan adalah membuat sumur resapan. Sumur ini dapat menampung sebagian air hujan serta dapat mengisi ulang kandungan air tanah.

Baca Juga: Suhu Ekstrem di Australia, Puluhan Ribu Kelelawar Mati Kepanasan

Kita ketahui bersama bahwa salah satu penyebab penurunan muka tanah karena berkurangnya kandungan air tanah.

Selain itu sumur resapan ini juga dapat meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.

Bangunan ramah lingkungan dan sumur resapan adalah contoh yang bisa dilakukan dalam skala rumah tangga untuk mengurangi risiko banjir.

Apabila seluruh elemen masyarakat dapat melakukan hal ini, maka risiko banjir akan berkurang.

Banjir di Bangkok pada 2011. (robru/Getty Images)

Penulis: Nurul Fajar Januriyadi, Lecturer of Civil Engineering, Universitas Pertamina

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.