Peneliti: Risiko Banjir di Jakarta Meningkat Hingga 400% pada 2050

By National Geographic Indonesia, Jumat, 10 Januari 2020 | 18:11 WIB
Banjir Jakarta 01/01/2019 menganyutkan beberapa mobil. (Syifa Nuri Khairunnisa/Kompas.com)

Nationalgeographic.co.id - Indonesia memulai tahun 2020 dengan musibah banjir yang terjadi di beberapa provinsi, termasuk Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Langganan musibah banjir, Jakarta dilaporkan sebagai daerah yang menderita paling parah.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan setidaknya 67 korban jiwa tewas dan 300.000 orang harus mengungsi karena banjir merendam sebagian wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) awal Januari.

Salah satu sumber menyatakan kerugian akibat banjir ini diperkirakan melebihi Rp10 triliun.

Angka ini naik jika dibandingkan angka kerugian banjir tahun 2013 yang diperkirakan mencapai Rp7,5 trilliun.

Baca Juga: Semakin Mencair, Gletser Himalaya Berisiko Sebabkan Banjir

Kerugian tersebut bisa bertambah besar pada tahun-tahun mendatang karena Jakarta diperkirakan akan menghadapi risiko banjir yang lebih besar.

Sebuah riset yang baru saya dan kolega saya lakukan memprediksikan Jakarta akan mengalami risiko banjir yang lebih hebat pada 2050.

Penghitungan yang kami lakukan menunjukkan risiko banjir di Jakarta akan naik sebesar 322% hingga 402% pada 2050. Angka tersebut berangkat dari asumsi bahwa tidak ada intervensi kebijakan perubahan iklim di Jakarta, ada perubahan pada perkembangan daerah pemukiman, dan hujan ekstrem terjadi bersamaan di seluruh daerah aliran sungai (DAS) di Jakarta.

Faktor penyebab

Setidaknya ada dua alasan besar mengapa risiko banjir Jakarta bisa sebesar itu pada 2050: perubahan iklim dan perkembangan daerah perkotaan.

Para peneliti telah mengakui perubahan iklim sebagai faktor utama dalam meningkatkan risiko banjir di beberapa kota dunia.

Banjir merendam kawasan Penjaringan, Jakarta Utara pada tahun 2015. (Robertus Bellarminus/Kompas.com)

Selain itu, penurunan muka tanah dan penutupan lahan hijau sebagai dampak dari pengembangan kota juga telah terbukti berkontribusi terhadap luas dan volume banjir di jakarta.

Jadi, kami memasukkan dua faktor ini dalam penghitungan kami terhadap risiko banjir Jakarta pada 2050 meski memang ada faktor-faktor lain yang bisa meningkatkan risiko banjir di Jakarta, seperti sedimentasi dan penumpukan sampah di sungai.

1. Faktor perubahan iklim

Pertama adalah faktor perubahan iklim yang juga sudah disebut sebagai pemicu utama banjir. Sebuah studi menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan risiko banjir secara global.

Hal ini karena pemanasan suhu global bisa memicu adanya hujan ekstrem. Wilayah Asia Tenggara bahkan sudah diproyeksikan akan mengalami hujan ekstrem pada akhir abad ke-21.

Dalam menghitung risiko banjir terkait perubahan iklim, kami mengumpulkan data yang dihasilkan oleh beberapa institusi penelitian iklim di dunia, seperti Institut Pierre-Simon Laplace di Prancis dan Max Planck Institute for Meteorology di Jerman. Data tersebut dapat mengetahui potensi perubahan hujan ekstrem pada masa depan.

Dari data berbagai institusi tersebut, kami menyusun 8 global climate model, yang menunjukkan bahwa nilai rata-rata curah hujan periode ulang pada 2050 mengalami peningkatan yang bervariasi dari 12% hingga 25%.

Peningkatan nilai hujan periode ulang tersebut berdampak terhadap peningkatan risiko banjir pada masa depan. Peningkatan curah hujan terbesar terjadi pada curah periode ulang 5 tahun yaitu sebesar 25%. Hal ini alasan mengapa dikenal istilah siklus banjir 5 tahunan.

Ketika kami memasukkan seluruh skenario perubahan curah hujan tersebut ke dalam model kami, kami menemukan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan risiko banjir antara 54 hingga 100% pada 2050.

2. Faktor perkembangan daerah perkotaan Jakarta

Faktor yang kedua adalah faktor perkembangan tata kota Jakarta.

Dalam riset ini, kami mengasumsikan terjadinya perkembangan kota yang tidak terkontrol di kota Jakarta dan tidak ada upaya khusus dari pemerintah, sementara jumlah penduduk terus bertambah.

Hal ini tentu saja mengakibatkan berkurangnya tutupan lahan hijau dan berdampak pada penurunan muka tanah.

Penelitian Hasanuddin Z. Abidin dari Institut Teknologi Bandung dan rekannya menunjukkan bahwa pengembangan daerah perkotaan kota dapat menyebabkan semakin turunnya permukaan tanah Jakarta dengan tingkat penurunan bervariasi dari 4,2 hingga 12,3 sentimeter per tahun.

Hal ini disebabkan oleh adanya peningkatan pengambilan air tanah serta beban bangunan di permukaan. Penurunan muka tanah dapat meningkatkan risiko banjir karena air cenderung akan mengalir ke permukaan yang rendah.

Apabila laju penurunan muka tanah tidak berubah hingga 2050, risiko banjir di Jakarta diproyeksikan meningkat sebesar 95%.

Selain itu, penelitian lain juga telah memperkirakan peningkatan daerah perkotaan di sekitar DAS dari yang sebelumnya 62% pada 2002 menjadi 92% pada 2050 jika tren pertumbuhan penduduk tidak berubah. Pada saat yang bersamaan, wilayah hutan dan pertanian berkurang dari 31% menjadi 8%.

Berkurangnya daerah hijau menyebabkan jumlah air yang terserap tanah berkurang. Dengan perubahan tutupan lahan tersebut, risiko banjir jakarta meningkat sebesar 99%.

Dengan penggabungan dua dampak pengembangan kota yaitu penurunan muka tanah dan perubahan tutupan lahan, peningkatan risiko banjir di jakarta pada 2050 menjadi 226%. Angka ini didapat dengan memperhitungkan wilayah yang sebelumnya tidak banjir tapi setelah digabungkan terjadi genangan banjir.

Apabila digabung dengan faktor perubahan iklim, maka risiko banjir pada 2050 meningkat menjadi 322-402%.

Tidak hanya Jakarta

Banjir merupakan problem global.

Beberapa kajian menunjukkan bahwa tidak hanya Jakarta yang menghadapi peningkatan risiko banjir pada masa depan.

Kota-kota besar negara tetangga seperti Bangkok, Thailand; Manila, Filipina dan Ho Chi Minh Vietnam juga menghadapi risiko banjir yang semakin semakin besar pada masa mendatang.

Banjir di Bangkok pada 2011. (robru/Getty Images)

Laporan Bank Dunia tahun 2010 menyebutkan Bangkok mengalami peningkatan risiko banjir sebesar 207% karena akibat dari perubahan iklim saja.

Hal yang sama terjadi pada kota Manila. Perubahan iklim juga diproyeksikan meningkatkan risiko banjir di kota tersebut sebesar 700%.

Begitu pula dengan dengan Ho Chi Minh City. Perubahan iklim dapat meningkatkan risiko banjir sebesar 16 kali lipat dibandingkan dengan kondisi sekarang.

Apabila perubahan tutupan lahan dan penurunan muka tanah juga dipertimbangkan dalam penghitungan proyeksi risiko banjir pada masa depan, maka risiko banjir di ketiga kota tersebut akan meningkat lebih besar lagi.

Apa yang bisa dilakukan

Dari uraian di atas, cara utama untuk mengantisipasi banjir adalah dengan mengatasi faktor penyebab meningkatnya risiko banjir.

Untuk faktor perubahan iklim, kita perlu menerapkan konsep infrastruktur hijau dalam bangunan perkotaan. Bangunan infrastruktur hijau tidak hanya dapat menahan sebagian hujan untuk tidak langsung jatuh ke permukaan tanah akan tetapi juga dapat menyerap emisi karbon.

Contoh yang lain yang bisa dilakukan adalah membuat sumur resapan. Sumur ini dapat menampung sebagian air hujan serta dapat mengisi ulang kandungan air tanah.

Baca Juga: Suhu Ekstrem di Australia, Puluhan Ribu Kelelawar Mati Kepanasan

Kita ketahui bersama bahwa salah satu penyebab penurunan muka tanah karena berkurangnya kandungan air tanah.

Selain itu sumur resapan ini juga dapat meningkatkan kemampuan tanah menyerap air.

Bangunan ramah lingkungan dan sumur resapan adalah contoh yang bisa dilakukan dalam skala rumah tangga untuk mengurangi risiko banjir.

Apabila seluruh elemen masyarakat dapat melakukan hal ini, maka risiko banjir akan berkurang.

Banjir di Bangkok pada 2011. (robru/Getty Images)

Penulis: Nurul Fajar Januriyadi, Lecturer of Civil Engineering, Universitas Pertamina

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.