“Hey, aku suka banget ide tentang energi kinetik yang kamu sampaikan! Tapi, aku masih penasaran, bisa kamu jelasin bagaimana cara kerja panel kinetik itu? Bagaimana bisa panel kinetik itu merubah artivitas seperti berjalan, dan berlari menjadi listrik?”
Aku tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan dari Farhan, ini adalah pertanyaan yang sudah ku tunggu-tunggu, tentu saja akan kujawab dengan senang hati.
“Jadi, cara kerja panel kinetik berbasis tekanan itu begini, ketika kita berjalan atau berlari di atas panel, langkah kita akan menyebabkan lapisan panel bergeser sedikit. Pergeseran ini memicu reaksi mekanis pada material piezoelektrik atau elektromagnetik di dalam panel, yang kemudian menghasilkan listrik. Kumpulan energi listrik dari setiap langkah akan dikumpulkan dan disimpan dalam baterai atau sistem penyimpanan energi untuk digunakan saat dibutuhkan.”
Sangat senang rasanya mendengar ternyata banyak orang yang mendukung dan tertarik dengan ideku, ini membuatku semakin bersemangat untuk menjelaskan lebih lanjut tentang potensi energi kinetik dalam mengurangi jejak karbon kita. Aku juga menerima pertanyaan dari beberapa guru, salah satunya adalah Bu Shera, guru mata pelajaran IPAS di sekolahku. Dengan raut wajah penasaran dan nada suara antusias, beliau bertanya.
“Apa jenis material yang digunakan dalam panel kinetik untuk menghasilkan listrik dari tekanan dan suara? Lalu bagaimana cara kerja panel kinetik yang memanfaatkan suara?”
Aku tersenyum, merasa senang karena Bu Shera begitu tertarik pada ideku. Sambil sedikit membetulkan posisi duduk, aku menjawab dengan nada semangat.
“Sebenarnya, ide tentang energi kinetik ini terinspirasi dari sebuah situs luar negeri yang pernah kubaca Pavegen,” kataku, memberi sedikit jeda sambil memastikan Bu Shera masih memperhatikan.
“Di sana, mereka mengembangkan trotoar kinetik yang memanfaatkan langkah kaki pejalan untuk menghasilkan listrik. Dari situ juga aku belajar tentang material piezoelektrik dan elektromagnetik yang berperan penting dalam mengubah gerakan menjadi energi.” (Pavegen, 2024)
Aku berhenti sejenak, memperhatikan ekspresi Bu Shera yang tampak tertarik, lalu melanjutkan dengan semangat. “Tapi waktu itu aku berpikir, kenapa hanya gerakan fisik? Padahal, suara seperti tepuk tangan, teriakan, atau bahkan obrolan di tempat ramai juga mengandung energi, kan? Jadi, aku terpikir untuk menggunakan material yang sama, tapi kali ini aku juga membuat panel yang menangkap getaran dari suara, bukan sekadar langkah kaki.”
Mata Bu Shera berbinar tanda paham, membuatku semakin percaya diri. “Ketika suara-suara seperti tepuk tangan atau percakapan terjadi di sekitar panel, gelombangnya akan mengenai material piezoelektrik yang sangat peka terhadap getaran. Getaran ini menekan material tersebut dan menghasilkan muatan listrik. Energi yang terkumpul lalu bisa dikonversi menjadi listrik dan disimpan dalam baterai, atau langsung digunakan sesuai kebutuhan.”
Rasanya seperti percikan kecil dari harapan baru mulai menyala di tengah keresahan akan krisis iklim. Konsep yang awalnya hanya ada di dalam pikiranku kini mulai mendapat tempat, dan semoga suatu hari bisa diwujudkan dalam bentuk nyata.
Tak hanya itu, teman-temanku akhirnya menyadari bahwa panel kinetik bukan hanya sekadar inovasi menarik, tetapi juga solusi konkret yang jauh lebih ramah lingkungan. Mereka memahami bahwa memanfaatkan energi dari aktivitas sehari-hari bisa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membantu mengurangi jejak karbon. Dukungan mereka membuatku semakin yakin bahwa langkah kecil yang dimulai di sekolah kami bisa berdampak besar.
Aku berharap sekolahku saat ini, dapat menjadi pionir dalam memperkenalkan panel kinetik dan energi alternatif di lingkungan pendidikan. Ide ini tak hanya menginspirasi siswa dan guru di sini, tetapi juga mulai menarik perhatian sekolah-sekolah lain.
Bayangkan bahwa suatu hari sekolah-sekolah di seluruh Indonesia bisa menerapkan teknologi serupa terasa semakin nyata. Dengan langkah bersama ini, kami bisa menjadi bagian dari solusi global dalam menghadapi krisis iklim.
Inilah waktunya kita beralih dari pengguna energi menjadi pencipta energi. Dengan teknologi dan kesadaran yang terus berkembang, aku yakin kita bisa bergerak menuju masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan. Setiap langkah kita bukan hanya akan membawa kita lebih jauh, tapi juga mendekatkan kita pada impian dunia tanpa jejak karbon.
Bumi sedang menunggu jawaban dari generasi kita. Kini, aku turut menjadi bagian dari solusinya. Ini baru permulaan, masa depan ada di tangan kita dan tidak ada langkah yang terlalu kecil jika kita melangkah bersama.
Kisah ini merupakakan bagian kolaborasi National Geographic Indonesia dan Toyota Indonesia dalam gelaran Toyota Eco Youth 13.
Penulis | : | National Geographic Indonesia |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR