Revitalisasi OLVEH: Simbol Jakarta yang Tenggelam

By Mahandis Yoanata Thamrin, Kamis, 14 Maret 2019 | 11:02 WIB
Maket gedung kantor asuransi Onderlinge Verzekeringsmaatschappij Eigen Hulp (OLVEH) di Kota Tua Jakarta. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Saya lebih tertarik dengan sejarah bangunan,” ujar Paulina K.M. van Roosmalen, “seperti kaitan gedung ini dengan lingkungan, apa fungsinya pada masa lalu, dan siapa saja yang pernah menghuninya, dan gaya arsitektur yang berkaitan dengan semangat zaman itu.”

Bataviaasch Nieuwsblad yang terbit pada 31 Desember 1921,” kata Pauline, “Disebutkan bahwa arsitek Gedung OLVEH yang berada di Voorrij Zuid adalah Profesor Schoenmaker—tampaknya jurnalis surat kabar tersohor di Hindia Belanda itu salah menuliskan nama sang arsitek."

Lantai pertama dan kedua disewakan, sedangkan kantor OLVEH menempati lantai ketiga. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)
 
Sebuah tangga marmer didesain dengan keamanan yang baik untuk menghubungkan lantai ke lantai. Cahaya dari "sky light" jatuh menerangi area tangga.

OLVEH dan Lingkungan Kota Batavia

“Saya pro-Wolff,” ujar Boy Bhirawa kepada saya. Dia menduga bahwa arsitek yang merancang OLVEH di Batavia adalah Wolff Schoemaker. Salah satu yang menguatkan dugaannya adalah desain menara kembar yang menghias wajah gedung ini. "Lihat, atap kubah pada menara itu," kata Boy sembari menunjuk foto Gedung OLVEH masa silam di ruang pameran. "Atap kubah itu persis dengan kubah Gereja Bethel di Bandung, karya Wolff Schoemaker."

Boy merupakan  arsitek yang memugar dan melestarikan Gedung OLVEH sejak akhir 2014. Kendati gedung itu sudah diresmikan pada 17 Maret 2016 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, tampaknya upaya Boy untuk melestarikan gedung ini masih berlanjut hingga kini. Boy juga pernah memugar bangunan cagar budaya Gedung PLN di Merdeka Timur. Namun, pemugaran terbesar untuk revitalisasi adalah pemugaran Gedung OLVEH, ujarnya. Sayangnya, penanda lanskap Kota Batavia awal 1920-an ini belum masuk dalam daftar Benda Cagar Budaya. 

Selain dari bentuk kubah kembarnya, menurut Boy, menara kembar gedung itu didesain bersusun yang mirip dengan teknik perspektif bangunan candi. Kedua Schoemaker bersaudara itu memang bekerja dalam firma yang sama, ungkapnya, namun yang serius dan berminat memerhatikan candi adalah Wolff. “Kita tidak bisa membandingkannya dengan Richard—terutama level of humanity-nya.”    

Kehidupan Wolff memang sungguh menarik minat insani. Lahir di Banyubiru, Jawa Tengah pada 1882. Dia arsitek, pelukis, pematung, memelihara serangga dan reptil. Mungkin lantaran dia lahir di Jawa, kedekatan dengan budaya setempat telah menarik minatnya pada arsitektur candi. Pada awal 1930-an dia dikabarkan masuk agama Islam, lalu teman-temannya memanggilnya dengan nama Kemal C.P. Wolff Schoemaker. Dia wafat pada 1948. Namun, entahlah, pada akhirnya Wolff dimakamkan secara Kristiani di permakaman Pandu, Bandung.

Sementara itu gaya hidup sang adik,  Richard,  boleh dikata lempeng-lempeng saja. Lahir di  Roermond, Belanda, pada 1886. Setelah menjabat sebagai guru besar di Bandung beberapa tahun, dia kembali ke Belanda. Saat pecah Perang Dunia Kedua, dia turut berjuang mempertahankan negerinya dari cengkeraman Nazi Jerman. Malangnya, dia tertangkap dan dihukum mati pada 1941.

Boy Bhirawa, arsitek yang memugar gedung OLVEH sejak November 2014 hingga peresmiannya pada Maret 2016. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Setiap bangunan memiliki jiwa, dan Boy juga berharap bahwa Jakarta dan Kota Tuanya juga masih memiliki jiwa. “Membangun kembali itu tidak susah,” ungkapnya. “Tetapi memberi jiwa pada bangunan itulah yang berat.”

“Balkon ini berfungsi sebagai wajah juga,” ujar Boy, sehingga OLVEH tidak memunggungi rumah abu tadi. Demikianlah kiat sang arsitek menghormati kawasan yang sudah ada sebelum membangun gedung.

“Ini adalah cara bangunan ini dalam merespon lingkungan,” Boy berujar sembari menunjuk balkon yang membentang sebagai teras pada lantai ketiga gedung ini.

Kemudian, Boy memperlihatkan serangkaian foto-foto udara awal 1920-an. Bukti foto menunjukkan bahwa OLVEH dibangun di tepian kawasan pecinan kota. Ketika gedung tersebut selesai dibangun pada 1922, kawasan plaza atau Stationsplein (kini kawasan terminal bus Transjakarta dan sekitarnya) belum terbentuk—mungkin sedang direncanakan.

Saya takjub menyaksikan foto-foto udara tadi. Gedung OLVEH yang mungil bercat putih telah menjadi tengara pada 1922, namun bangunan penanda di sekeliling pusat Stationsplein belum dibangun—seperti Stasiun BEOS, Nederlandsche Handel Maatschappij (kini Museum Bank Mandiri), dan Nederlandsch-Indische Handelsbank (kini Bank Mandiri).

Baca Juga : Korea Selatan dan Tiongkok Atasi Polusi Udara dengan Hujan Buatan

“Perencanaan bangunan [OLVEH] ini sudah mengantisipasi kehadiran plaza itu karena dia berada dalam BOW [Burgerlijke Openbaar Werken atau Dinas Pekerjaan Umum zaman Hindia Belanda], dan dia tahu betul planning berikutnya.”

Bagaimana arsitektur sebuah bangunan merespon keadaan lingkungannya?  Konteks arsitektural sebuah bangunan mungkin akan terkait dengan tempat, aspek arkeologi dan sejarah kawasan, atau ekologi disekitarnya. Kapan bangunan ini hadir dan pada saat kota seperti apa? “Konteks sangat penting bagi sebuah bangunan,” ujar Boy mengingatkan. “Kapan dia dibuat dan bagaimana dia merespon konteks.”

“Saya di sini dan saya penting,” Boy menambahkan, "posisi itu yang membuat suatu bangunan, meski kecil, tetap penting bagi kota."

Setiap bangunan memiliki jiwa dan Boy juga berharap bahwa Jakarta dan Kota Tuanya juga masih memiliki jiwa. “Membangun kembali itu tidak susah,” ungkapnya. “Tetapi memberi jiwa pada bangunan itulah yang berat.”

Balkon sisi belakang gedung OLVEH, penghormatan kepada lingkungan pecinan. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Tampaknya arsitek perancang OLVEH menghormati lingkungan pecinan yang telah ada sebelum gedung itu dibangun. Terdapat balkon belakang di lantai tiga yang menghadap ke rumah abu dan permukiman warga pecinan. "Ini adalah cara bangunan ini dalam merespon lingkungan," ujar Boy Bhirawa, arsitek revitalisasi Gedung OLVEH. Sementara, Candrian Attahiyat, arkeolog Kota Tua berkomentar, "Lebarnya sekitar dua meter. Ini adalah balkon terlebar yang pernah dimiliki gedung-gedung di Batavia saat itu."
 
Arsitek revitalisasi sengaja mengekspos batu bata merah di hampir sekujur dinding dalamnya. Ketika plesteran dinding dikupas, terlihat huruf-huruf atau cap: Ck&Co. TH&Co, TKP, OTH, dan TSS. Uniknya, cap tersebut dicetak dengan huruf timbul. "Jarang sekali saya mendapatkan merk bata dengan huruf timbul," ungkap Candrian Attahiyat, arkeolog Kota Tua. "Sangat dimungkinkan huruf-huruf ini adalah inisial perusahaan bata tetapi belum diketahui di mana produksinya."
 
Batu bata yang diekspos kembali sebagai bagian dari elemen OLVEH. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Upaya kita untuk mencari tahu mengenai masa lalu, mengenai ruang yang berubah dari waktu ke waktu adalah bagian dari mencari jiwa,” kata Hilmar Farid.

“Ketebalan aspal seperti lapis legit,” ujar Candrian Attahiyat. “Setiap banjir dinaikkan, setiap banjir dinaikkan lagi.”

Candrian merupakan ahli arkeologi Kota Tua Jakarta. Kendati kini telah purnabakti, dia kerap memberikan sumbangan pemikirannya untuk pelestarian kawasan bersejarah di pesisir Jakarta itu.

Dia memerikan anekdot soal gedung ini kepada saya. Toilet dan kamar mandinya, ujar Candrian, dibedakan dengan jelas dan didesain dengan lubang saluran pembuangan udara (exhaust). "Sayang," imbuhnya, "sampai hari ini exhaust tadi tidak pernah terpasang karena paket tak kunjung sampai ke Batavia."

Han Awal, arsitek senior Indonesia, tengah mengamati karya aristektur tropis gubahan Wollf Schoemaker. Bagaimana masa depan arsitektur tropis di Indonesia? (Mahandis Yoanata Thamrin/National Georaphic Indonesia)

Toilet dan kamar mandi dibedakan dengan jelas dan didesain dengan lubang saluran pembuangan udara. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Jakarta tidak dibanjiri air, tetapi dibanjiri manusia, dan kita yang mengambil ruang air tadi,” ujar Firdaus Ali. “Untuk kota besar di atas lima juta jiwa, Jakarta paling buruk di dunia soal kondisi tata kelola airnya.”

Arsitek dan pelestari telah menyingkap lantai dasar sejati OLVEH. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)
 
Arsitek dan pelestari menggali dan menemukan fakta bahwa selama hampir seabad, jalan raya di depan gedung itu telah ditinggikan nyaris satu meter. Mungkin banjir adalah penyebabnya. OLVEH menjadi penanda bahwa penyelesaian banjir Jakarta merupakan proyek yang tak berkesudahan, kini, dan esok. Perlu strategi serius yang tak hanya melibatkan studi hidraulika, tetapi juga studi ekologi lingkungan.

Old building, new idea,” ujar Lin Che Wei. Harapannya, gedung tua tidak hanya sebagai galeri atau museum, tetapi juga sebagai kantor. “Selama jiwanya tetap ada, gedung ini akan hidup kembali.”

Lin Che Wei dan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi PudjiastutiSusi Pudjiastuti memirsa miniatur Kota Tua Batavia. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

OLVEH memang bukan lagi sebagai gedung asuransi zaman Hindia Belanda, melainkan gedung yang terlahir kembali dengan semangat dan harapan baru untuk Jakarta.

Old building, new idea,” ujar Che Wei yang menyewa gedung ini sebagai salah satu kantor miliknya, Sarasvati Art and Communication and Publication. Dia berupaya menggunakan kembali gedung-gedung tua. Harapannya, gedung tua tidak hanya sebagai galeri atau museum, tetapi juga sebagai kantor. Sebagai bekas gedung perusahaan asuransi, dia berharap OLVEH memiliki jiwa yang memberikan rasa aman kepada warga kota—dan tentu para karyawannya yang berkantor di sana.

“Selama jiwanya tetap ada, gedung ini akan hidup kembali.” Gedung ini adalah keajaiban, kata Che We. Dia berharap bisa mendedikasikan bangunan ini untuk mendorong studi tentang petaka yang mengancam Jakarta, desain arsitektur, seni, sejarah dan pusaka Jakarta.

“Pada pagi hari OLVEH akan menjadi office, siang hari menjadi tempat pameran seni dan lecturing room. Pada malam hari menjadi party room,” demikian angannya sembari setengah berkelakar.

Pameran riwayat karya Wolff Schoemaker yang digelar di lantai dasar OLVEH, Maret 2016. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Itu bertiga Fu-Lu-Shou,” ungkap Agni. “Tiga bintang.” Kemudian dia menerangkan simbol berikutnya, “Kelelawar itu lambang kesejahteraan. Bangau lambang hidup baik.”

Tiga poster yang merupakan replika iklan perusahaan asuransi OLVEH, yang dipajang di lantai dasar gedung itu. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Maknanya,” ungkap Lilie Suratminto, “di bawah perlindungan asuransi jiwa OLVEH, orang akan lebih terjamin dan penuh kepastian.”

 

Dari jendela ruang direktur di lantai dua, tampak pemandangan Stasiun BEOS, Jakarta Kota. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)

Takdir mempertemukan OLVEH dengan para pelestari dan penyingkap misteri. Setelah ditemukan kembali, OLVEH tak lagi rebeh dan leceh. Tampaknya gedung-gedung pusaka Kota Tua Jakarta  mendamba suratan serupa.

Gedung Onderlinge Verzekeringsmaatschappij Eigen Hulp (OLVEH) pada Maret 2016. (Mahandis Yoanata Thamrin/National Geographic Indonesia)