Melacak Jejak Gading

By , Senin, 31 Agustus 2015 | 15:11 WIB

Seluruh Afrika Tengah bagaikan sebuah granat tangan, pin telah ditarik oleh sejarah eksploitasi sumber daya dari luar negeri, kediktatoran, dan kemiskinan.

“Masalah perburuan adalah masalah pemerintahan,” ujar Froment. “Kami melin­dungi gajah untuk melindungi taman. Kami melindungi taman untuk memberikan sesuatu yang bernilai kepada masyarakat setempat.” Dia berjuang untuk gajah karena dia tahu bahwa tanpa kehadiran hewan ini, tidak ada yang akan mendukung Garamba, dan taman—yang disebutnya sebagai “jantung Afrika”—akan lenyap dari permukaan bumi. Garamba adalah taman yang terancam di dalam sebuah negara yang sering terlibat dalam perang saudara di daerah yang nyaris melupakan kata perdamaian.

Saat berpatroli, kami tidak bertemu dengan para pemburu atau kelompok pemberontak. Namun, beberapa bulan kemudian, pada 25 April 2015, ketika sedang berpatroli, Agoyo Mbikoyo ditembak dan dibunuh oleh sekelompok pemburu. Pada bulan Juni, tiga petugas lain yang bertugas di Garamba pun tewas terbunuh.

!break!

Menanamkan gading palsu

Setelah mengunjungi Garamba, saya be­rencana bersama sumber yang dirahasiakan untuk menyelundupkan gading saya ke pa­sar gelap di dekat Mboki, desa kecil di te­ngah-tengah CAR, antara Garamba dan Sudan. Kawasan itu menjadi target serangan tentara Kony dan tempat perlindungan bagi sejumlah orang yang melarikan diri dari Kony. Desa ini berada di jalur gading menuju ke markas Kony di Darfur.

Sasaran yang tidak menyadari

Waktu menunjukkan pukul 4 pagi di bukit Heban, di Cad, 130 km dari perbatasan Sudan dan 100 km sebelah timur laut dari Taman Nasional Zakouma, kawasan hunian kawanan gajah terbesar yang tersisa di negara itu, 450 ekor. Enam polisi anti perburuan dan juru masaknya, sudah mengenakan seragam, bersiap melakukan salat subuh. Saat itu musim hujan dan, para polisi, seperti gajah yang mereka jaga, meninggalkan taman menuju tempat yang lebih tinggi.

Selama musim hujan, taman lebih terlihat seperti sebuah danau dan gajah terbagi menjadi dua kelompok untuk menghindari banjir. Satu kelompok bergerak ke arah utara menuju Heban, kelompok lainnya menuju barat ke Cad tengah.

Polisi taman tidak memiliki alasan untuk mengkhawatirkan keselamatan mereka. Mereka menggantikan tim yang menyerbu kamp pemburu Sudan tiga minggu yang lalu dan menyita lebih dari seribu amunisi; ponsel berisi banyak foto bangkai gajah; dua ga­ding gajah; dan seragam dengan lambang Abu Tira—Polisi Cadangan Pusat Sudan yang sudah terkenal.

Mereka diduga telah melakukan pem­bantaian massal, serangan, dan perkosaan di Darfur. Polisi taman pun menemukan izin cuti militer Sudan yang sudah dicap, memberikan izin kepada tiga tentara untuk melakukan perjalanan dari Darfur ke sebuah kota di dekat perbatasan Cad.

Taman Nasional Zakouma telah ke­hilangan hampir 90 persen populasi gajahnya sejak 2002. Sebagian besar—hingga 3.000 ekor—diburu sejak 2005 sampai 2008. Selama periode itu, para pemburu Sudan berdatangan dalam kelompok yang anggotanya lebih dari selusin orang bersenjata, berkemah di taman selama berbulan-bulan pada satu waktu. Dalam satu kesempatan 64 ekor gajah terbantai dalam sebuah perburuan.

Ketika pada 2008, Wildlife Conservation Society mendatangkan pesawat pengintai, perburuan menurun. Tetapi, perampok Sudan mampu menata diri, kembali dalam kelompok pemburu beranggotakan kurang dari enam orang, yang menyusup dari luar taman untuk berburu selama satu hari.