Dunia Hewan: 'Pemujaan' Hewan Albino Bagaikan Menggali Kuburan Sendiri

By Muflika Nur Fuaddah, Selasa, 10 Desember 2024 | 10:00 WIB
Hewan albino
Hewan albino (wikimedia commons)

Nationalgeographic.co.idPernahkah Anda melihat hewan yang keseluruhan tubuhnya berwarna putih padahal spesiesnya memiliki warna lain, seperti beruang (bukan beruang kutub), burung, atau ular?

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa dalam dunia hewan, albino dapat dengan mudah ditemukan di hutan, bahkan membuat mereka lebih mudah dilihat oleh predator yang memburu mereka.

Hewan albino juga memiliki penglihatan yang buruk, hal ini menyulitkan mereka untuk menemukan makanan atau menghindari ancaman.

Karena kulit mereka yang pucat, mereka juga lebih rentan terhadap sengatan matahari dan dengan demikian tidak dapat mencari makanan atau pasangan di tempat yang terkena sinar matahari.

Albino sendiri adalah kondisi genetik langka yang tidak menular yang terjadi pada manusia dan hewan. Kondisi ini ditandai dengan kurangnya melanin, pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut, dan mata, baik sebagian atau seluruhnya.

Dalam dunia hewan, kasus albino yang sangat menarik karena penampilannya yang khas, memberikan wawasan unik tentang peran genetika dalam menentukan warna suatu organisme.

Inti dari albino adalah sekelompok gen yang mengendalikan produksi melanin. Pada hewan albino, satu atau lebih gen ini bermutasi, sehingga mengakibatkan terganggunya produksi melanin.

Melanin diproduksi oleh sel yang disebut melanosit, yang terletak di kulit dan folikel rambut. Pada hewan albino, mutasi tersebut menghambat enzim yang disebut tirosinase, yang sangat penting dalam proses konversi asam amino tirosin menjadi melanin.

Perubahan genetik ini memengaruhi produksi melanin dalam spektrum, mulai dari tidak ada produksi melanin sama sekali (albinisme lengkap) hingga kadar yang berkurang (albinisme parsial atau leukisme).

Fenomena Albino Lintas Spesies

Kasus albino terjadi pada hampir semua spesies hewan yang secara alami memiliki melanin. Namun, kondisi ini lebih terlihat pada spesies dengan warna yang biasanya lebih gelap.

Baca Juga: Dunia Hewan: Mengapa Paus Makan Kantong Plastik? Ini Kata Ilmuwan

Kondisi ini jarang terjadi, dengan kemungkinan seekor hewan terlahir dengan albino berkisar antara 1 dalam 10.000 hingga 1 dalam 1.000.000, tergantung pada spesiesnya.

Hewan albino memiliki ciri-ciri kulit, bulu, atau sisik berwarna putih atau pucat, serta mata berwarna merah atau terang – rona merah tersebut berasal dari pembuluh darah di dalam mata, yang terlihat saat tidak ada melanin.

Hewan albino
Hewan albino (wikimedia commons)

Meskipun memiliki kecantikan yang luar biasa, hewan albino menghadapi tantangan besar dalam bertahan hidup. Di alam liar, warna kulit hewan sangat penting karena berbagai alasan, termasuk kamuflase, komunikasi, dan menarik pasangan. Oleh karena itu, kurangnya warna alami dapat menyebabkan berbagai masalah.

Kamuflase merupakan strategi bertahan hidup yang penting bagi banyak hewan, yang memungkinkan mereka bersembunyi dari predator atau menyelinap ke mangsa.

Hewan albino, karena penampilannya yang putih mencolok, membuat mereka kesulitan untuk berbaur dengan lingkungan sekitar, sehingga mereka menjadi sasaran empuk bagi predator.

Albino juga dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan. Kekurangan melanin membuat hewan albino rentan terhadap sengatan matahari dan kanker kulit.

Hewan albino juga sering kali memiliki penglihatan yang buruk atau rentan terhadap kebutaan karena melanin berperan penting dalam perkembangan saraf optik.

Hewan sangat bergantung pada isyarat visual untuk berkomunikasi dan memilih pasangan. Bagi hewan albino, warna yang tidak biasa dapat menyebabkan pengucilan atau kesulitan menemukan pasangan, yang berdampak pada kelangsungan hidup makhluk ini secara keseluruhan.

"Ancaman terhadap hewan-hewan albino ini begitu nyata sehingga sebuah organisasi nirlaba membeli sebuah pulau di lepas pantai Indonesia hanya agar dapat membangun tempat perlindungan di sana untuk orangutan albino," ungkap Jani Hall dalam Albino animals, explained.

"Tempat ini dilindungi oleh penjaga keamanan tanpa henti saat ia pindah ke sana pada bulan Juni 2019. Banyak hewan albino juga dikirim ke kebun binatang untuk perlindungan," lanjutnya.

Baca Juga: Dunia Hewan: Benarkah Kucing Mendomestikasi Dirinya Sendiri?

Salah satu hewan albino paling terkenal di kebun binatang adalah Snowflake, seekor gorila yang ditampilkan di majalah National Geographic yang mati karena kanker kulit pada tahun 2003.

"Selain pemburu liar, beberapa pemburu trofi juga menyukai hewan langka. Rusa albino sangat menarik bagi para pemburu, misalnya, sehingga beberapa negara bagian AS melarang perburuan terhadap rusa tersebut," kata Jani.

Namun, beberapa hewan albino memang berhasil hidup di alam liar. Di Olney, Illinois, Amerika Serikat, populasi tupai albino yang berkembang pesat mencapai hampir seratus ekor.

Kota itu sangat bangga dengan tupai-tupai itu sehingga mendorong penduduknya untuk memberi mereka makan dan telah mengesahkan undang-undang untuk melindungi tupai-tupai itu agar tidak tertabrak kendaraan.

Albinisme: Misteri dan Kesalahpahaman

Ada banyak cerita rakyat dan banyak kesalahpahaman seputar hewan albino, dengan sikap yang beragam mulai dari rasa hormat hingga rasa takut.

Beberapa budaya menganggap hewan albino sebagai hewan suci atau jimat keberuntungan, sementara yang lain menganggapnya sebagai pertanda kemalangan.

Sayangnya, kesalahpahaman ini sering kali berujung pada perlakuan buruk atau eksploitasi terhadap hewan albino.

Meskipun para ilmuwan telah membuat kemajuan signifikan dalam memahami albino, kondisi ini masih menyimpan banyak misteri.

Misalnya, mekanisme pasti yang menyebabkan albino memengaruhi penglihatan hewan belum sepenuhnya dipahami. Lebih jauh, meskipun pola pewarisan albino secara umum diketahui, mutasi genetik yang tepat dapat bervariasi, yang menyebabkan berbagai manifestasi.

Albino pada Manusia: Sebuah Eksplorasi

Meskipun fenomena albino dapat diamati pada berbagai spesies, manifestasinya pada manusia memiliki perhatian khusus.

Albino pada manusia adalah sekelompok kelainan bawaan yang ditandai dengan sedikit atau tidak adanya produksi pigmen melanin, yang menentukan warna kulit, rambut, dan mata. Kondisi tersebut dikaitkan dengan sejumlah cacat penglihatan, seperti fotofobia, nistagmus, dan astigmatisme.

Prevalensi albino bervariasi di seluruh dunia, dengan tingkat yang lebih tinggi ditemukan di Afrika sub-Sahara dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Utara.

Khususnya, albino pada manusia bukan hanya fenomena biologis tetapi juga memiliki implikasi budaya dan sosial. Individu dengan albino sering menghadapi stigma sosial, diskriminasi, atau bahkan kekerasan, terutama di beberapa wilayah Afrika, karena mitos dan takhayul yang berbahaya.

Dari sudut pandang ilmiah, mempelajari albino pada manusia memberikan wawasan berharga tentang genetika dan proses kompleks yang terlibat dalam produksi dan distribusi melanin.

Penelitian mengenai ini bertujuan untuk lebih memahami genetika albino, meningkatkan pilihan pengobatan untuk cacat penglihatan terkait, dan mengembangkan intervensi potensial yang dapat meningkatkan produksi melanin.

Terlepas dari tantangan yang dihadapi oleh individu dengan keadaan albino, kondisi unik mereka menyoroti kerumitan luar biasa dari biologi manusia.

Albino dalam dunia hewan merupakan contoh menarik tentang pengaruh kuat genetika pada penampilan fisik suatu organisme.

Meskipun hewan albino menghadapi tantangan untuk bertahan hidup, mereka tetap memikat dengan kecantikannya yang unik.

Keberadaan mereka merupakan pengingat akan keajaiban alam dan keanekaragaman kehidupan di Bumi. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya penelitian dan upaya konservasi yang berkelanjutan untuk melindungi dan memahami makhluk luar biasa ini dengan lebih baik.