Dalam temuannya di tahun ini, 40 di antaranya telah mencapai puncak mekar, dan 14 lainnya dalam proses pemekaran dalam waktu yang singkat. Padahal semestinya, pohon sakura baru bisa mekar sekitar dua minggu setiap tahunnya dari masa kuncup pertamanya.
Anbe berujar, bahwa sakura sangat sensitif pada perubahan suku dan waktu mekarnya dapat memberikan data barharga untuk bahan studi terkait perubahan iklim.
Data dari lembaga itu mengungkapkan suhu rata-rata di Kyoto pada Maret 2021 mencapai 12,4 derajat Celcius. Merupakan suhu yang lebih tinggi daripada tahun lalu, yakni 10,6 derajat Celcius. Sedang data terlama Japan Meteorological Agency pada 1953 suhunya mencapai 8,6 derajat Celcius.
Sebuah penelitian lain juga menghitung prediksi nasib bunga sakura di masa depan. Para peneliti memperkirakan bahwa bunga sakura akan mengalami percepatan 31 hari lebih awal di tahun 2100.
Laporan studi yang dilakukan oleh Jenica M. Allen dan tim dalam Global Change Biology (Vol.20 Issue 4, tahun 2013) membandingkan pola perubahan, iklim, pencahayaan dari matahari di periode 1981-2000 untuk diprediksikan di masa depan.
Baca Juga: Bulan Purnama Bantu Membebaskan Kapal 'Ever Given' dari Terusan Suez
"Dengan kondisi ini, kami perkirakan rata-rata P. spachiana, P. jamasakura, dan P. lannesiana akan berbunga 30 hari lebih awal, dan P. xyedpensis akan berbunga 31 hari lebih awal pada 2100," tulis mereka.
Hiroyoshi Higuchi dan timnya pada 2009, mengungkapkan faktor percepatan mekarnya sakura. Dalam laporannya di Biological Conservation (Vol. 142, Issue 9), pengaruh percepatan itu secara langsung disebabkan peningkatan suhu lokal.
Sedangkan suhu lokal sendiri tak hanya disebabkan pemanasan global saja yang kian memanas, tetapi juga dampak dari urbanisasi.
Mereka membandingkan data urbanisasi, penanggalan mekarnya sakura, dan suhu sekitar lewat beberapa catatan sejarah. Data tertua yang mereka temukan terkait penanggalan pemekeran berasal dari 1200 tahun yang lalu.
Selama penelitian mereka hingga 2009, mereka telah memetakan bahwa kejadian ini umumnya terjadi di sekitar Osaka dan kota-kota besar di Jepang. Hal itu menunjukkan bahwa spesies itu sangat mudah merespon suhu sekitarnya akibat urbanisasi dan perubahan iklim, seperti yang diungkapkan Anbe di atas.
Bunga sakura sendiri sudah menjadi ciri khas budaya Jepang selama berabad-abad, dan secara teratur digunakan dalam kesusastraan Jepang. Sifat kerapuhannya sakura merupakan simbol akan makna kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali yang diamini masyarakat tradisional Jepang.
Baca Juga: Satu Tahun GRID STORE: Tersedia Layanan Pelanggan Majalah-el Berdiskon
Source | : | AP,Jurnal Ilmiah |
Penulis | : | Afkar Aristoteles Mukhaer |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR