Merupakan hal yang terhormat untuk memiliki kaki berukuran 10 sentimeter — teratai perak — tetapi kaki 12,7 sentimeter atau lebih dianggap sebagai teratai besi. Semakin besar ukuran kakinya maka prospek pernikahannya pun makin meredup.
"Mengerikan memang, menyadari bahwa setiap aspek kecantikan wanita terikat erat dengan rasa sakit," tambah Foreman lagi.
Makna di balik praktik pengikatan kaki
Meskipun pengikatan kaki dimulai di kelas atas, praktik ini menyebar dengan cepat. Di keluarga yang lebih miskin yang tidak mampu membeli perban, pengikatan kaki tidak dilakukan sampai anak perempuan itu lebih besar. Begitu seorang gadis menikah, perbannya dilepas, dan dia masuk kembali ke dunia pernikahan.
Mengikat kaki dipandang sebagai ritus peralihan untuk gadis-gadis muda dan diyakini sebagai persiapan untuk pubertas, menstruasi, dan persalinan. Itu melambangkan kesediaan seorang gadis untuk patuh.
Praktik ini membatasi mobilitas dan kekuatan perempuan, serta membuat mereka tetap berada di bawah laki-laki. "Maka tidak heran jika ini meningkatkan perbedaan antar jenis kelamin," ujar Smith.
Pengikatan kaki memastikan seorang gadis dapat dinikahi dalam budaya Tionghoa patrilineal. Bagi seorang gadis, ini juga menjadi ikatan bersama antara anak perempuan, ibu, dan nenek.
Merupakan simbol prestise, ada kepercayaan populer bahwa praktik ini meningkatkan kesuburan wanita. Pasalnya, darah akan mengalir ke kaki, pinggul, dan area vagina.
Proses panjang dan menyakitkan untuk membuat kaki menjadi "indah"
Pertama, kakinya dicelupkan ke dalam air panas dan kuku kakinya dipotong pendek. Kemudian kaki dipijat dan diminyaki. Lalu semua jari kaki, kecuali jempol kaki, dipatahkan dan diikat rata dengan telapak kaki, membentuk segitiga.
Selanjutnya, lengkungannya tegang saat kakinya ditekuk dua kali. Akhirnya, kaki diikat menggunakan pita sutra berukuran panjang 3 meter dan 5 sentimeter.
Source | : | britannica,Smithsonian Magazine |
Penulis | : | Sysilia Tanhati |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR