Sejak awal musim semi, pengurbanan dilakukan di kuil-kuil kota utama. Ritual dan persembahan pun dilakukan di sepanjang Sungai Han. Tujuannya adalah untuk memohon hujan kepada para dewa.
Makanan menjadi langka dan harga naik serta pencurian dan perampokan merajalela. Rumor pun merebak di antara orang-orang yang percaya takhayul. Mereka mengklaim bahwa bencana itu adalah tanda-tanda ketidaksenangan para dewa karena orang asing diizinkan memasuki negara itu. Orang asing tersebut adalah Jepang.
Pada bulan Juli 1882, kerusuhan akhirnya berkembang menjadi pemberontakan. Pemberontakan pun menargetkan pejabat pemerintah yang korup dan komunitas kecil Jepang.
Massa Korea yang besar bersenjatakan batu, senapan, tombak, busur, anak panah, dan tombak. Mereka pun menyerang kedutaan Jepang. Dan yang mengejutkan, hujan segera turun. Awalnya gerimis ringan, tetapi segera berubah menjadi hujan lebat. Maka, semakin memperkuat kepercayaan di antara para perusuh yang percaya takhayul bahwa para dewa merestui pemberontakan.
Orang Korea percaya, dewa pun bersekutu dengan upaya mereka untuk mengusir orang asing dari tanah Korea. Darah dan hujan mengubah tanah yang tadinya gersang menjadi lumpur.
Pemberontakan itu segera dipadamkan dan para pemimpinnya dieksekusi. Setahun kemudian, tersiar kabar tentang balas dendam yang akan diatur oleh Jepang sebagai peringatan akan satu tahun pemberontakan. Menurut rumor, sejumlah orang Korea akan dikurbankan untuk menenangkan roh-roh orang Jepang yang terbunuh.
Ada rumor gelap lainnya yang beredar. “Termasuk kisah bahwa darah akan diambil dari wanita dan anak-anak Korea yang belum menikah sehingga obat-obatan dapat dibuat,” ungkap Neff.
Menurut salah satu kisah, hal ini sangat mengkhawatirkan penduduk. Alhasil, gadis-gadis muda segera menikah sementara yang lain melarikan diri ke pegunungan.
Rumor terakhir berpusat pada kurangnya hujan. Sekali lagi, orang-orang yang percaya takhayul kembali menyalahkan Jepang atas hal itu.
Musik yang dimainkan di Kedutaan Jepang saat hari peringatan telah secara efektif membubarkan angin dan mengusir hujan. Bendera Jepang yang berkibar dari tiang benderanya yang tinggi membuat marah para dewa hujan.
Untungnya rumor-rumor ini hanya isapan jempol belaka. Akan tetapi, ada insiden kekerasan lain yang terjadi karena kurangnya hujan.
Trem pun turut disalahkan atas ketidakhadiran hujan
Source | : | Korean Times |
Penulis | : | Sysilia Tanhati |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
KOMENTAR