Nationalgeographic.co.id—Yunani Kuno adalah tempat kelahiran filsafat modern. Terobosan dalam bidang matematika, kedokteran, dan etika yang tetap relevan hingga saat ini juga ditemukan di era Yunani kuno. Konsep demokrasi juga merupakan peninggalan berharga dari masa itu. Semua warisan itu membuat zaman Yunani kuno tampak sempurna. Namun, kehidupan di masa itu tidak semata-mata hanya gymnasium dan simposium saja. Hidup bisa jadi sulit, terutama untuk tatanan sosial yang lebih rendah atau untuk wanita. Bahkan, tidak peduli dari mana ia berasal, ada beberapa kebiasaan aneh yang harus dilakukan oleh orang Yunani kuno.
Dari sanitasi dasar hingga pengobatan, semuanya terlihat sangat berbeda dengan apa yang dilakukan oleh orang di zaman modern. Beberapa hal bahkan bisa membuat Anda mengernyitkan dahi.
Keringat berharga dari atlet pujaan
Seperti di zaman modern, atlet dipandang sebagai pahlawan oleh masyarakat Yunani kuno. Namun cara orang Yunani memuja sang atlet mungkin tampak menjijikkan jika dilakukan di masa kini.
Mereka mengumpulkan tanda mata yang aneh dari atlet pujaannya, itu adalah keringat atlet.
Menurut kepercayaan yang berlaku saat itu, keringat yang dihasilkan oleh seorang atlet memiliki khasiat obat. Tidak terbatas keringat, para penggemar juga mengumpulkan minyak yang digunakan atlet.
Setelah atlet selesai berlatih, ada pekerja yang akan berkeliling mengikis minyak dan kotoran dari kulit atlet. Setelah terkumpul, minyak dan kotoran itu dikemas dalam botol dan dijual.
“Minyak khusus dipasarkan sebagai obat untuk semua sakit dan nyeri umum,” tulis D.G. Hewitt di laman History Collection. Sederhananya, dengan menggosokkan minyak ke seluruh tubuh maka orang Yunani kuno dapat menikmati sebagian dari semangat atlet.
Ini mungkin terdengar tidak masuk akal bagi orang di zaman modern. Faktanya, botol-botol berisi keringat itu sangat laris, terutama setelah pertandingan.
Bagi para atlet, ini bisa menjadi sumber penghasilan yang lumayan.
Cara tabib mendiagnosa pasien
Source | : | History Collection |
Penulis | : | Sysilia Tanhati |
Editor | : | Mahandis Yoanata Thamrin |
KOMENTAR