Trailer Bumi Manusia Trending di Youtube, Ada 7 Fakta Penting di Balik Novel Legendaris Ini

By Bayu Dwi Mardana Kusuma, Senin, 8 Juli 2019 | 21:32 WIB
Trailer Bumi Manusia Dirilis, Iqbaal Ramadhan Rela Dicambuk Hingga Dihujat Demi Cinta (Instagram @falconpictures_)

Nationalgeographic.co.id - Sudah tak sabar ingin memirsa film Bumi Manusia? Sajian layar lebar karya Hanung Bramantyo begitu dinanti para pemirsa dan penggemar bintang utamanya. Maklum, ada sosok Iqbaal Ramadhan yang menjadi pemain utama film itu.

Pada Kamis (4/7/2019), pembuat film Bumi Manusia telah merilis trailer resmi melalui akun YouTube. Selama empat hari tayang, trailer film ini langsung melesat. Bayangkan, trailer dengan durasi dua menit empat puluh tujuh detik itu sudah ditonton sebanyak 2,9 juta kali.

Wow, banget kan untuk ukuran sebuah film romansa yang diangkat dari cerita novel legendaris, yang berkisah tentang kehidupan sebelum Indonesia terbentuk. Angka memirsa itu sudah cukup mengantarkan trailer Bumi Manusia menjadi trending nomor satu di You Tube sejak Minggu (7/7/2019).

Baca Juga: Gemerlapnya Pulau Jawa Dilihat dari Stasiun Luar Angkasa Internasional

Official trailer film Bumi Manusia jadi trending Youtube (Tangkapan layar Youtube Falcon)

Nah, sebelum nonton film Bumi Manusia bersama pasangan kita yang terkasih, ada baiknya kita simak dulu catatan dan fakta tentang novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer itu. Fakta ringkas ini barangkali bisa menjadi bahan perbincangan dengan pasangan atau sahabat sewaktu menunggu giliran memasuki studio atau teater pertunjukkan.

Sudah siap menelaah fakta Bumi Manusia kan?

Baca Juga: Ingin Cari Batu Permata, Penambang Ini Justru Temukan Fosil Monster Laut

1. Inspirasi Lahir Saat di Pulau Buru

Pramoedya Ananta Toer pernah menjadi tahanan politik tanpa proses pengadilan semasa Orde Baru. Ia telah berpindah-pindah sel tahanan. Pada Agustus 1969 - 12 November 1979, Pram, begitu lelaki jenius ini karib disapa, menjalani penahanan di Pulau Buru, salah satu pulau besar di Kepulauan Maluku.

Foto dirilis Kamis (16/5/2019), menunjukkan foto hasil reproduksi empat tahanan politik saat melakukan panen padi di Pulau Buru, Maluku. Pulau Buru menjadi lokasi tempat pemanfaatan (Tefaat) yang kemudian berubah menjadi Inrehab (Instalasi Rehabilitas) para tahanan politik yang ditangkap pasca-G30S/ (ANTARA FOTO/HAFIDZ MUBARAK A)

Nah, selama menjalani penahanan di Pulau Buru, Pram dilarang menulis buku. Ia wajib menjalani kerja paksa. (Situs web adik dari National Geographic Indonesia, Fotokita.net telah memamparkan foto-foto eks tahanan politik di Pulau Buru).

Aturan yang melarang itu tak menyurutkan langkah Pram. Ia justru menghasilkan Bumi Manusia sekitar tahun 1975 di Pulau Buru.

Baca Juga: Menanam Pohon, Cara Paling Efektif dan Murah Atasi Pemanasan Global

2. Buku Tebal yang Laris dalam Sekejap

Bumi Mausia baru diterbitkan pada 1980. Buku ini dapat sambutan yang tak terkira dari pembaca dalam dan luar negeri. Buku ini diterbitkan oleh Hasta Mitra, Jakarta dengan tebal 354 halaman. Sejak awal terbit hingga akhir 1980, buku ini tercatat sebagai karya terlaris di Indonesia.

Foto Film Bumi Manusia (Falcon Pictures)

Sejak dicetak pertama kali pada bulan Agustus 1980, dalam waktu yang relatif singkat, yakni sebulan, buku itu sudah terjual habis. Setelah itu, berturut-turut pada bulan September, Oktober, dan November 1980 diterbitkan cetakan ke-2 sampai dengan ke-4 yang juga sudah habis terjual. Bahkan, dalam periode satu tahun (1980-1981) telah dicetak ulang sebanyak 10 kali.

Baca Juga: Bahaya Plastik, Lebih Dari Seribu Hiu dan Pari Mati Terjerat Sampah

3. Jaksa Agung Larang Peredaran Buku

Cetakan kelima dilakukan pada bulan Februari 1981 yang kemudian dilarang beredar oleh kejaksaan agung. Alasannya, buku ini menyuarakan paham Marxisme-Leninisme dan Komunisme.

Namun, dengan berakhirnya pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998, novel Pramoedya itu kembali mengalami cetak ulang yang keenam pada bulan Februari 2001 meskipun secara resmi larangan peredarannya belum dicabut oleh pemerintah.

Baca Juga: Sulit Terdeteksi, Berikut 9 Gejala Kanker Paru yang Tidak Boleh Diabaikan

Novel Bumi Manusia (HAI)

Pada September 2005, buku ini diterbitkan oleh Lentera Dipantara Bumi Manusia merupakan buku pertama dari empat seri novel yang dikenal dengan Tetralogi Pulau Buru. Pada kulit depannya terdapat semacam penekanan bagi novel itu yang berbunyi "Roman karya Pulau Buru". Seri novel selanjutnya, yaitu Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

4. Tuai Pujian Kritikus Sastra di Mancanegara

Sejak kemunculannya, novel itu langsung merebut perhatian pembaca. Novel itu tidak saja dibaca dan dibicarakan di Indonesia, tetapi juga telah merebut perhatian di luar negeri. Bahkan novel itu telah dibicarakan di forum internasional dan berbagai meia massa, misalnya dalam Volksrant yang terbit di Nederland.

Di London novel itu dibicarakan dalam majalah South (The Third World Magazine). Majalah Eastern Economic Review telah memuat resensinya dan Nederland Rotterdamse Courant di Rotterdam telah memuji kehebatannya.

Baca Juga: Bukan Perokok Tapi Terkena Kanker Paru? Tiga Faktor Ini Penyebabnya

Bumi Manusia ()

Novel itu juga menuai pujian dalam Time, New York Times, USA Today, The Los Angeles Times, dan The San Fransisco Chronicie di Amerika. Sementara itu, di negeri sendiri, larangan pemerintah Indonesia terhadap novel itu malah menyebabkannya bertambah laris.

5. Indonesia Tidak Hadir dalam Bumi Manusia

Penulis Hera Khaerani membuat pemaparan tentang buku yang mengulas Bumi Manusia. Ia menuliskan begini, "banyak pula yang sudah membaca karyanya, tapi gagal memahami pesan terselubung yang ingin disampaikan sang penulis. Hal inilah yang ingin disoroti Max Lane dalam bukunya, Indonesia tidak Hadir di Bumi Manusia."

Baca Juga: Apakah Menerima Terlalu Banyak Informasi Bagus Buat Psikologis Kita?

Pesan terselubung Pram diyakininya harus disadari masyarakat dalam menghadapi masa depan Indonesia. Penulis dan kritikus asal Australia itu menawarkan hasil analisisnya lewat esai dan artikel yang dikumpulkan dalam buku tersebut.

Sesuai dengan judul bukunya, Max mengajak masyarakat untuk turut merenungi mengapa dalam tetralogi Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca, Pram tidak pernah sekali pun menulis kata Indonesia di dalamnya.

Sha Ine Febriyanti Impikan Peran Ontosoroh Sejak Baca Novel Bumi Manusia (Rangga/Grid.ID)

Bagi Max, absennya ‘Indonesia’ di Bumi Manusia justru menjadi gagasan fundamental yang menunjukkan kegeniusan seorang Pramoedya Ananta Toer sekaligus menjadi pembelajaran berharga bagi rakyat Indonesia saat ini untuk memahami apa itu Indonesia. Pramoedya bagi Max Lane hendak menegaskan soal kebaruan Indonesia. (Ulasan lengkapnya bisa didapat di sini)

Baca Juga: Berkat Kekeringan, Istana Berusia 3.500 Tahun Peninggalan Kekaisaran Kuno di Irak Terungkap

6. Diusulkan Jadi Bacaan Wajib Buat Belajar Sejarah

Seorang penulis blog, Althesia Silvia, pernah menuliskan pengalamannya seusai membaca Bumi Manusia, yang ia pinjam dari sahabatnya. Berikut petikannya, "Buku ini menjadi jendela saya melihat ke masa lalu, saya tumbuh ditahun 90an dan baru membaca buku ini tahun 2016, reaksi saya tentunya syok dan geram melihat situasi masa lalu seperti itu."

Lewat Bumi Manusia saya mengenal konteks masa kolonial, potret pemuda yang menyanjung pengetahuan diatas darah, menimba ilmu dari cara Eropa tetapi menemukan kepincangan dalam attitude mereka, sementara dirinya sendiri geram dengan masyarakat dan adat pribumi serta mind-set yang mengekang terjadinya terobosan pada masa itu.

Baca Juga: Jangan Anggap Remeh Sakit Kepala, Yuk Kenali Beberapa Jenisnya

Di buku ini juga, saya bertemu dengan Max Havelar alias Eduard Douwes Dekker. Saya jadi tahu dimana posisi buku Max Havelar dalam fiksi sejarah Indonesia, karena Bumi Manusia memberikan landasan untuk saya memetakan sejarah dan buku-buku historical fiction lainnya yang ingin saya baca, seperti Multatuli dan cerita tentang Nyai Dasima.

"Bagaimana kalau buku ini dijadikan bacaan wajib saja untuk anak sekolahan? Saya jamin lebih nendang ketimbang metode belajar sejarah dengan menghapal atau sekedar mencatat buku pelajaran." (Ulasan lengkapnya dapat dibaca di sini)

7. Kritik dari Penulis Indonesia

Penulis Kosasih Kamil (1980) meragukan kepintaran tokoh Ontosoroh, seorang nyai yang belajar otodidak. Sikap mengurung diri (inwardlooking) Nyai Ontosoroh dinilai kurang meyakinkan kehebatan dan kelebihannya sebagai seorang Nyai.

Dengan demikian, Nyai Ontosoroh sebagai protagonis boneka hidup terlalu banyak dibebani tuntutan dan sikap pengarangnya.

Baca Juga: Mengenang Sutopo Purwo Nugroho, Pernah Batalkan Syukuran Atas Gelar Profesor Riset Hingga Kecewa Berat Pada Birokrasi Negara

Wartawan Parakitri Simbolon melihat Bumi Manusia dari aspek sejarah Indonesia pada masa akhir abad ke-19, yakni sebagai bahan yang belum dijamah oleh para penulis Indonesia.

Selain itu, Parakitri menyatakan bahwa melalui novelnya ini, Pramoedya telah mencairkan kebekuan sastra Indonesia yang belakangan ini hanyut berputar-putar dalam inovasi-iovasi teknik, berpilin-pilin dalam kegelisahan dan kekosongan jiwa perseorangan yang terisolasi dari persoalan masyarakatnya atau merosot dalam kesenangan murahan yang bernama pop.