Sungai di Surabaya yang dikonsumsi 2,4 juta jiwa masyarakat, kini tercemar produk limbah industri dan rumah tangga. Bahkan parahnya, air sungai disana mengandung logam berat kromium (Cr).
Tim Ahli Geografi UGM, Drs. Yudhi Utomo, mengatakan tercemarnya sungai
Surabaya disebabkan buangan limbah domestik dan industri dari 11 anak
sungai yang mengalir ke sungai Surabaya. Padahal, sekitar 69 persen air
dari kali Surabaya digunakan sebagai air minum.
Berdasarkan hasil penelitiannya, analisis kualitas air sungai Surabaya
menunjukkan konsentrasi DO (Dissolved Oxygen), BOD (Biochemical Oxygen
Demand), COD (Chemical Oxygen Demand) melebihi nilai ambang batas sungai Kelas I, sedangkan kualitas air secara spasial dari hulu ke hilir
menurun. Bahkan, konsentrasi logam berat terjadi kenaikan dari tahun ke
tahun.
"Pada perairan yang tercemar perlu diwaspadai tidak hanya airnya tapi juga ikan-ikan yang tercemar,” katanya.
Sementara itu, kandungan kromium (Cr) total dalam sedimen sungai
ditemukan tertinggi 75,46 mg/kg massa kering pada musim kemarau dan
41,75 mg/kg musim penghujan.
“Pada lokasi perairan konsentrasi Cr tinggi juga ditemukan konsentrasi Cr dalam sedimen tinggi,” katanya.
Tidak hanya ditemukan dalam sedimen, kandungan Cr juga ditemukan dalam
ikan gabus, mujair dan bader. Kandungan Cr-nya sudah melebihi nilai
ambang batas 0,4 mg/kg massa basah. Padahal, jika dikonsumsi dalam waktu
lama bisa merugikan kesehatan manusia.
”Ikan mampu mengakumulasi logam berat dengan konsentrasi tinggi,
karenanya masyarakat perlu waspada saat mengonsumsi ikan," tambahnya.
Dari hasil penelitiannya, dosen FMIPA Universitas Negeri Malang ini
berharap agar pemerintah dapat mengontrol pihak industri dalam
pengelolaan Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) secara optimal,
khususnya limbah cair yang dibuang ke sungai sesuai dengan nilai ambang
batas yang ditetapkan.
Selain itu, masyarakat juga perlu menyadari bahwa membuang sampah yang dibuang langsung ke sungai akan menurunkan kualitas air.
Penulis | : | |
Editor | : | Bambang Priyo Jatmiko |
KOMENTAR