Nationalgeographic.co.id—Bagi sebagian orang, gigitan nyamuk dapat menjadi gangguan kecil yang berujung pada rasa gatal tak tertahankan. Namun, bagi yang lainnya, tubuh mereka mungkin tetap tenang, tanpa respons yang mengganggu.
Mengapa reaksi ini begitu berbeda? Ternyata ada penjelasan ilmiah di balik respons tubuh manusia terhadap gigitan nyamuk.
Dikutip dari Live Science, pada beberapa orang yang sering terpapar alergen, reaksi alergi ini dapat berkembang menjadi peradangan kronis, yang mengubah struktur jaringan tempat peradangan itu terjadi. Sel-sel imun yang merespons alergen dapat mengubah sensitivitas saraf, membuat mereka lebih atau kurang responsif terhadap suatu zat.
"Kita semua memiliki neuron sensorik, jadi kita semua bisa merasakan gatal—tetapi tidak semua dari kita mengalami alergi, meskipun kita dikelilingi oleh alergen yang sama," kata Caroline Sokol, penulis utama studi ini, seorang profesor alergi dan imunologi di Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital.
"Lalu, apa yang membedakan siapa yang neuron sensornya bereaksi terhadap alergen dan siapa yang tidak?"
Untuk mencari jawabannya, Sokol dan tim peneliti melakukan perobaan ilmiah. Mereka mengekspos tikus pada bahan kimia bernama papain, yang memicu rasa gatal sehingga tikus menggaruk kulitnya.
Dalam penelitian ilmiah ini, berbagai kelompok tikus kekurangan sel imun tertentu. Makalah hasil penelitian yang telah dipublikasikan pada 4 September 2024 di jurnal Nature ini mengungkapkan bahwa tikus yang tidak memiliki jenis sel T tertentu tidak merasakan gatal saat terpapar papain.
Para peneliti ingin memahami bagaimana sel-sel ini, yang disebut sel GD3, memengaruhi respons saraf sensorik. Untuk itu, mereka menumbuhkan sel GD3 di laboratorium dan merawatnya dengan bahan kimia agar mengeluarkan molekul sinyal yang disebut sitokin.
Setelah itu, mereka menyuntikkan cairan yang mengandung sitokin dari sel-sel yang ditumbuhkan tersebut ke tikus dengan sistem kekebalan tubuh yang normal.
Baca Juga: Mengapa Kulit Bekas Gigitan Nyamuk Jadi Bentol dan Terasa Gatal?
Perawatan ini tidak langsung menyebabkan rasa gatal. Namun, perawatan ini memperburuk respons garukan tikus terhadap berbagai alergen, termasuk air liur nyamuk. Hal ini menunjukkan bahwa sesuatu yang dilepaskan oleh sel GD3 meningkatkan rasa gatal yang dipicu oleh saraf.
Dengan membandingkan bahan kimia yang dikeluarkan oleh sel GD3 dengan bahan kimia dari sel imun lain di lapisan tengah kulit, para peneliti menemukan bahwa hanya satu faktor yang unik untuk sel GD3: interleukin 3 (IL-3), yang dikenal dapat membantu mengatur peradangan.
Hanya beberapa neuron sensorik yang merespons IL-3. Mereka yang merespons menjadi lebih mungkin untuk memicu rasa gatal — sebuah tanda bahwa sitokin ini "memanaskan" neuron agar bereaksi terhadap alergen.
Sebaliknya, ketika para peneliti menghapus gen untuk IL-3 atau reseptornya — atau menghilangkan sel GD3 sepenuhnya — tikus tidak dapat memulai respons alergi. Melalui eksperimen lebih lanjut, para peneliti menyimpulkan bahwa IL-3 mengaktifkan dua sinyal terpisah: satu yang mempromosikan rasa gatal yang dipicu saraf dan satu lagi yang mengendalikan sisi imun dari respons alergi.
Dengan melepaskan IL-3, sel GD3 "benar-benar penting" untuk menetapkan ambang batas di mana saraf sensorik akan bereaksi terhadap alergen, kata Sokol. Reaksi berantai yang melibatkan IL-3 ini "mungkin memberikan kita jalur baru untuk merawat pasien dengan gangguan gatal kronis," tambahnya.
Namun, sejauh ini, penelitian ini hanya dilakukan pada tikus, sehingga para peneliti tidak bisa memastikan bahwa sel manusia akan berperilaku dengan cara yang persis sama.
Meskipun sel-sel imun tikus dalam penelitian ini memiliki gen dan protein yang sangat mirip dengan yang ada pada manusia, Sokol menekankan bahwa penting untuk memahami apakah dan bagaimana sel T manusia merespons IL-3. Data ini dibutuhkan untuk menerjemahkan temuan ini menjadi pengobatan gatal atau cara untuk memprediksi siapa yang mungkin berisiko terkena alergi.
"Kita semua punya teman yang tidak bereaksi terhadap gigitan nyamuk, dan ada teman lain yang tampak mengerikan setelah seharian di luar," kata Sokol.
"Kami percaya jalur IL-3 ini yang menentukan hal itu secara real-time, karena ketika kami melihat gatal yang disebabkan oleh gigitan nyamuk—dan respons imun alergi yang mengikuti—kami melihat bahwa itu sepenuhnya bergantung pada sel-sel dalam jalur ini."
Source | : | Nature,Live Science |
Penulis | : | Lastboy Tahara Sinaga |
Editor | : | Utomo Priyambodo |
KOMENTAR