Kehidupan priyayi Jawa yang mengekang Gadis Pantai dalam rumah, menjadi sisi lain kepahitan yang ditanggungkan sebagai sosok istri dan wanita. Ia kehilangan kebebasannya, dan tidak pernah diperkenankan menganggap bendoronya selayaknya suami yang perlu ia tahu seluruh agenda kesehariannya.
Gadis Pantai hanya perlu diam dan mengikut perintah. Tak patut ia mempertanyakan kepergian bendoro dan segala aktivitasnya. Ia hanya termenung dalam kekang yang mengurung. Sebaliknya, bendoro hanya datang saat ia perlukan pelampiasan berahinya pada Gadis Pantai.
Hingga bagian paling memilukan sekaligus memuakkan muncul di akhir cerita, di mana bendoro itu melepas kembali Gadis Pantai pada orang tuanya, padahal baru melahirkan seorang anak yang dikandungnya dari tuannya itu. Di usia bayi yang bahkan masih memerlukan air susu ibunya.
Pasalnya, sejak diambil dari kedua orang tuanya, pihak keluarga dan Gadis Pantai itu sendiri tidak benar mengetahui nasib anaknya kelak. Ia bukanlah istri sungguhan, melainkan abdi yang dipersiapkan sebagai 'medan latihan' untuk mempersiapkan bendoro sebelum beristrikan bangsawan.
Tragedi dalam tatanan feodalisme-patriarki ini adalah bagian yang kerap muncul di antara selubung sejarah masyarakat Jawa hingga abad ke-20. Atau kisah lain yang dituliskan Pramoedya Ananta Toer dalam bagian keempat tetralogi Buru bertajuk Rumah Kaca.
Lain dari tragedi perkawinan priyayi dan gadis dari pesisir, priyayi Jawa dalam novel ini menggunakan perempuan sebagai alat politik dan diplomasi. Lain juga dengan tatanan Eropa yang mempergundik kaum perempuan, para priyayi Jawa menjadikan perempuan sebagai pelayan dari tamu-tamunya.
Dikisahkan seorang tokoh bernama Pangemanann yang mengemban tugas penyelidikan atas mandat langsung dari kegubermenan sebagai pejabat tinggi Algemenee Secretarie, disambut baik oleh Bupati Madiun.
Menariknya, Tuan Pangemanann diminta untuk menginap di pesanggrahannya sebagai ramah tamah tuan rumah menyambut tamu kehormatan, tak membolehkannya menginap di hotel.
Setelah memasuki kamar pesanggrahan bupati, ia terperanjat terpakukan pada lantai di sudut kamar. Disebutkan dalam roman Pram, "di pojokan sana, di atas selembar tikar mendong yang tergelar, duduk tiga orang wanita."
Melihat sang tuan tamu kehormatannya masuk ke dalam kamar, para perempuan itu berjongkok menghadap padanya dan mengangkatkan sembah penyambutan bergaya Jawa.
Dalam konteks ini, Pangemanann digambarkan sebagai pribumi moralis yang terheran-heran dengan pandangan baru, adat kebiasaan pembesar Jawa. Ia tidak seterusnya memperlakukan para wanita itu dengan bejat, malah sebaliknya.
Hanya terjadi tanya jawab antara Pangemanann dengan para perempuan itu kala pintu telah tertutup. Salah seorang wanita memang dikirim oleh wedana untuk melayani tamu kehormatan. Dua lainnya, diminta bupati langsung.
Setelahnya, para wanita itu memulai pekerjaannya untuk melayani tamu kehormatan, seperti monggosok sepatunya dan hal lainnya yang dikehendaki. Untuk selebihnya, dalam konteks ini, perempuan lebih digunakan sebagai hidangan bagi tamu kehormatan.
Bahkan, setelah seharian beraktifitas luar, saat kembali ke kamar pesanggrahan pada malam hari, para perempuan itu masih sedia di pojokan kamar. Menunggu tuannya yang kembali saat kelelahan. Betapa nahas nasib perempuan Jawa yang terbelenggu sistem di zaman feodal.
Mereka diletakkan di kamar-kamar pesanggrahan untuk menyembah tuannya dan melayani seluruh perintahnya. Narasi cabul barangkali akan banyak ditemukan dalam tulisan lain, namun pandangan Pram sebagai feminis, tak menulisnya lebih jauh.
Waspada Timbulan 72 Ribu Ton Sampah Saat Mudik Lebaran 2025, Pemerintah Siapkan Strategi
Source | : | Gadis Pantai (2003),Rumah Kaca (2006) |
Penulis | : | Galih Pranata |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR