"Prediktor terbesar dari seberapa rabun jauh seseorang adalah kapan mereka mulai mengalaminya," jelas Jeffrey Walline, seorang optometris dan dekan penelitian di The Ohio State University.
Menurut Walline, semakin muda usia anak saat pertama kali mengalami miopia, semakin parah kondisinya di kemudian hari. Hal ini disebabkan oleh lamanya bola mata terus tumbuh lebih panjang dari yang seharusnya.
Pada kebanyakan anak, penglihatan mereka akan stabil saat memasuki usia remaja akhir, meskipun pada sebagian kecil individu, pertumbuhan ini dapat berlangsung hingga pertengahan usia 20-an.
Selain membutuhkan kacamata atau lensa kontak untuk melihat dengan jelas, penderita miopia juga berisiko lebih tinggi mengalami gangguan penglihatan di kemudian hari.
Ann Shue, seorang dokter mata di Stanford University, menjelaskan bahwa ketika bola mata sedikit lebih besar dari ukuran normal, hal ini menyebabkan peregangan yang dapat memengaruhi saraf dan pembuluh darah halus di retina, yang menempel di bagian belakang mata.
"Seiring bertambahnya usia, peregangan ini dapat menarik retina," kata Shue, yang berpotensi menyebabkan masalah seperti glaukoma, ablasi retina, atau degenerasi makula.
Angka Miopia Terus Meningkat
Meskipun penyebab meningkatnya angka miopia cukup kompleks dan melibatkan berbagai faktor, sejumlah penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa kurangnya waktu di luar ruangan merupakan salah satu faktor risiko utama dalam perkembangan miopia.
Salah satu teori yang menghubungkan kurangnya waktu di luar ruangan dengan meningkatnya risiko miopia adalah efek cahaya alami dalam merangsang pelepasan dopamin, yang berfungsi sebagai sinyal untuk memperlambat pertumbuhan mata.
"Cahaya yang lebih terang melepaskan lebih banyak hambatan terhadap pertumbuhan mata," kata Ian Morgan, profesor di Australian National University yang meneliti miopia. Hal ini mencegah bola mata tumbuh terlalu panjang, yang menjadi penyebab utama rabun jauh.
Namun, efek dari penggunaan layar dan aktivitas yang membutuhkan fokus dekat—seperti membaca—terhadap risiko miopia masih belum sepenuhnya jelas.
Baca Juga: Sains: Bagaimana Warna Biru Bluberi Jadi Simbol Evolusi yang Cerdas?
Para Peneliti Ini Manfaatkan Nyepi untuk Teliti Kebisingan Akustik di Laut, Apa Hasilnya?
Source | : | National Geographic |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR