Nationalgeographic.co.id—Mari kita melakukan perjalanan waktu yang luar biasa jauh ke masa lalu, tepatnya 56 juta tahun silam. Pada periode yang sulit dibayangkan ini, Bumi sedang mengalami peristiwa dramatis yang dikenal sebagai Paleosen-Eosen Thermal Maximum (PETM).
PETM merupakan periode selama 200.000 tahun di mana terjadi pelepasan karbon ke atmosfer dalam jumlah yang sangat besar dan sangat cepat, yang mengakibatkan pemanasan global yang signifikan.
Kondisi ekstrem ini mengubah lautan Bumi menjadi lebih asam dan memicu perubahan evolusioner yang mengejutkan pada hewan darat, terutama fenomena penyusutan ukuran tubuh secara tiba-tiba.
Beberapa jenis hewan mengalami penyusutan ukuran tubuh yang mencolok, hingga mencapai hanya 30 persen dari ukuran tubuh leluhur mereka. Adaptasi evolusioner ini merupakan respons terhadap peningkatan suhu global dan dikenal sebagai hukum kuadrat-kubus.
Prinsip adaptasi ini sangat efektif dalam mengatasi panas karena pengurangan volume tubuh menghasilkan rasio luas permukaan terhadap volume yang lebih besar.
Rasio yang lebih besar ini sangat penting untuk proses pendinginan tubuh yang efisien. Selain adaptasi terhadap suhu panas, ukuran tubuh yang lebih kecil ini secara tak terduga juga membuat hewan-hewan tersebut cocok untuk melakukan perjalanan ke luar angkasa di masa depan.
Kisah menarik ini juga terjadi pada kuda tertua yang diketahui oleh ilmu pengetahuan, Sifrhippus sandrae. Awalnya, diperkirakan kuda purba ini memiliki berat sekitar 5,4 kilogram. Namun, selama periode Paleosen-Eosen Thermal Maximum, ukuran tubuh Sifrhippus sandrae menyusut secara signifikan sehingga beratnya menjadi hanya sekitar 3,9 kilogram.
Melompat jauh ke masa depan, 56 juta tahun kemudian, kita beruntung memiliki fosil rahang Sifrhippus sandrae yang luar biasa lengkap dengan gigi-giginya.
Fosil berharga ini biasanya disimpan dengan aman di Florida Museum of Natural History. Namun, pada bulan Agustus tahun 2024, fosil rahang Sifrhippus sandrae ini mendapatkan kesempatan yang unik dan luar biasa: melakukan perjalanan ke luar angkasa.
Mengecil agar bisa tetap menjelajah
"Fosil-fosil tersebut harus berukuran kecil agar bisa melakukan perjalanan tersebut," jelas Jon Bloch, kurator paleontologi vertebrata di Florida Museum of Natural History.
Baca Juga: Sains: Ternyata Cenderawasih Punya Sinyal Warna Rahasia, Tak Terlihat oleh Manusia
KOMENTAR