Saturnus memiliki jumlah bulan yang luar biasa banyak
Semua bulan Saturnus berlomba menarik perhatian kita. Namun, beberapa astronom secara khusus terpesona oleh Phoebe, bulan berukuran sedang yang ditemukan pada tahun 1898 dan dikenal karena orbitnya yang eksentrik serta berlawanan arah, menjadikannya salah satu bulan tidak beraturan.
Saat ini, Phoebe tidak sendirian. Dalam beberapa dekade terakhir, semakin banyak bulan kecil tidak beraturan yang berhasil dideteksi, sering kali menggunakan Teleskop Kanada-Prancis-Hawaii yang terletak di puncak gunung berapi Mauna Kea yang tidak aktif di Hawai‘i.
"Sejauh yang kita tahu, Saturnus memiliki lebih banyak bulan daripada semua planet lain yang digabungkan," kata Brett Gladman, astronom dari University of British Columbia yang merupakan salah satu penemu bulan-bulan baru ini.
Gladman dan timnya telah menemukan banyak dari bulan tersebut—dan semakin banyak yang mereka temukan, semakin kuat dugaan mereka bahwa masih ada lebih banyak bulan kecil yang bersembunyi di balik bayangan Saturnus, mendorong mereka untuk terus mencari.
Minor Planet Center (MPC), sebuah pusat data yang berbasis di Cambridge, Massachusetts, mencatat semua objek kecil di Tata Surya yang telah diketahui.
Biasanya, para astronom hanya mengharapkan penemuan komet atau asteroid baru yang dipublikasikan secara daring. Namun, pada 11 Maret, MPC mengejutkan banyak pihak dengan mengumumkan bahwa tim Gladman telah mengidentifikasi 128 bulan baru yang mengorbit Saturnus.
"Saya benar-benar terkejut ketika mengetahuinya," kata Samantha Lawler, astronom dari University of Regina.
"Jumlahnya sangat banyak. Ini benar-benar mencengangkan."
Pencapaian ini secara resmi menjadikan Gladman sebagai individu yang telah menemukan atau turut menemukan lebih banyak bulan dibanding siapa pun dalam sejarah manusia.
“Yang juga luar biasa adalah bahwa Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer dari Bumi, jadi fakta bahwa bulan-bulan ini bisa dideteksi adalah hal yang menakjubkan,” ujar James O’Donoghue, astronom dari University of Reading.
Pada titik ini, muncul pertanyaan yang wajar: Seberapa kecil sebuah objek hingga tidak lagi dianggap sebagai bulan, melainkan hanya bongkahan es atau batuan luar angkasa?
Bagaimanapun, 128 objek ini telah secara resmi diakui oleh International Astronomical Union sebagai bulan. Tantangan berikutnya bagi tim Gladman adalah menemukan nama untuk masing-masing bulan tersebut, yang sesuai dengan tradisi harus berasal dari mitologi Galia, Inuit, atau Nordik.
Saran nama sangat diterima. “Jumlah bulan ini benar-benar terlalu banyak. Bagaimana kita bisa menamai semuanya?” canda Paul Byrne, ilmuwan planet dari Washington University di St. Louis, yang tidak terlibat dalam penemuan ini.
Source | : | National Geographic |
Penulis | : | Ricky Jenihansen |
Editor | : | Ade S |
KOMENTAR